Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 128.


__ADS_3

"Aryan..." panggil Dara saat suaminya sudah mulai memejamkan mata.


"Hmm... Ada apa, sayang?" sahut Aryan seraya membuka matanya kembali, dia mematut wajah cantik istrinya dengan intim.


"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini ya? Darahku berdesir terus dari tadi, apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya Dara sambil menekan dadanya yang sejak di bawah tadi berdetak kencang tiada henti.


"Kamu sakit?" tanya Aryan mengerutkan kening, lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Dara.


"Tidak Aryan, aku tidak sakit." sanggah Dara menggelengkan kepala.


"Benar, tidak sakit. Hehe..." Aryan tertawa kecil sembari mengacak rambut Dara. "Tidak apa-apa, mungkin pengen dipeluk." seloroh Aryan mengulum senyum lalu membawa Dara ke dalam dekapannya. "Sudah, tidak usah mikir aneh-aneh!" imbuh Aryan seraya membelai rambut panjang Dara dan mengecup keningnya dengan sayang.


Mendapat perlakuan lembut dari Aryan seperti itu, hati Dara pun sedikit tenang. Dia menempelkan pipinya di dada Aryan dan mulai memejamkan mata.


...****************...


Pagi hari para wanita sudah bangun dan mulai sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan, tidak terkecuali Inara, Avika dan juga Dara. Tiga wanita cantik itu cukup cekatan melakukan tugas mereka.


"Sepertinya kita bertiga sudah harus pensiun nih, sudah ada penerus yang siap menggantikan tugas kita." ucap Nayla pada Aina dan juga Inda.


"Hehe... Iya, mungkin sudah saatnya." sahut Inda tertawa kecil.


"Jangan dulu, mereka bertiga masih pengantin baru. Biarkan mereka menikmatinya lebih dulu, lagian tenaga kita masih kuat gini kok." Aina kurang setuju dengan pendapat Nayla, rasanya terlalu dini membiarkan anak dan menantunya menggantikan tugas mereka.


"Tidak apa-apa Ma, bukankah memang sudah menjadi tugas seorang istri memasak untuk suaminya?" timpal Inara yang tengah asik menggoreng lauk.


"Iya Ma, Dara tidak keberatan kok. Dara senang bisa ikut mengurus tugas rumah." sambung Dara yang tengah sibuk memotong sayuran.


"Kalau Avika ngikut saja Ma, masak oke tidak masak juga tidak masalah." imbuh Avika seraya mencuci sayuran dan menyiapkan bumbu yang diminta Inara.


"Ya sudah, terserah kalian saja. Ini rumah kalian, mau ngapain saja tidak ada yang larang." jawab Aina menahan tawa, lalu meninggalkan dapur dan keluar melalui pintu belakang.

__ADS_1


Aina sengaja melewati pintu belakang karena dia ingin melihat Sarah yang kini sudah menjadi istri Tobi. Wanita itu jarang sekali keluar dan memilih diam di dalam bangunan itu. Padahal Aina sudah sering meminta Tobi membawa istrinya ke rumah besar tapi Sarah selalu menolaknya.


Kebetulan sekali saat Aina tiba Sarah sedang menjemur pakaian di samping paviliun. Sarah menghentikan pekerjaannya dan menundukkan kepala saat menangkap kedatangan Aina.


"Tidak apa-apa Sarah, lanjut saja." ucap Aina mengulas senyum.


Sarah mendongakkan kepalanya dan ikut tersenyum kepada Aina.


Setelah selesai menjemur pakaian, Sarah mengajak Aina masuk dan Aina pun mengangguk seraya melangkah masuk ke dalam paviliun.


Usai menaruh keranjang kain, Sarah bergegas mengambil buku dan pena lalu dia duduk berhadapan dengan Aina yang sudah lebih dulu duduk di sofa.


Meski ukuran paviliun itu tidak terlalu besar tapi fasilitas yang ada di dalamnya cukup lengkap. Semua yang dibutuhkan orang-orang pada umumnya tersedia di sana. Bahkan ruangan itu juga difasilitasi AC agar penghuninya tidak kepanasan.


"Maaf Bu, ada apa?" tulis Sarah, lalu memperlihatkan tulisan itu kepada Aina.


Sontak Aina tersenyum membaca goresan tinta itu. "Jangan panggil Ibuk, panggil Mama saja seperti yang lainnya." ucap Aina.


"Aaa," angguk Sarah mengukir senyum.


Wanita itu terlihat sangat cantik jika tersenyum. Andai saja dia tidak bisu, mungkin nasibnya tidak akan seburuk tempo hari. Tapi beruntung Tobi sudah memperistrinya walau jarak usia mereka terbilang cukup jauh.


Meski awalnya pernikahan itu terjadi hanya untuk menyelamatkan Sarah dari amukan orang kampung, pada akhirnya Tobi pun mulai nyaman menjalani hubungan mereka. Dia seperti mendapat dua bonus sekaligus, dapat istri sekaligus anak perempuan.


Melihat senyum manis di bibir Sarah, hati Aina pun terenyuh. Dia lekas berdiri dan duduk di samping Sarah. Aina memeluknya seperti anak sendiri dan mengecup keningnya.


"Apa kamu bahagia?" tanya Aina mencari tau.


"Aaa," angguk Sarah yang tak henti mengulas senyum.


"Bagaimana dengan Tobi? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" tanya Aina lagi.

__ADS_1


"Iya, dia sangat baik. Walau sudah tua dan terlihat sangar, tapi dia tidak pernah marah ataupun kasar. Dia menyayangiku seperti seorang istri, kadang seperti anaknya sendiri." tulis Sarah, lalu dia tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


"Hehe... Syukurlah kalau begitu. Mama senang mendengarnya." Aina tertawa kecil sembari membelai rambut Sarah. "Kalau Tobi sedang keluar, kamu jangan diam di paviliun ini saja. Pergi ke rumah besar, berkumpul di sana bersama yang lainnya! Ingat Sarah, kamu bukan orang lain lagi, kami semua keluarga kamu." terang Aina.


"Iya Ma, makasih ya." tulis Sarah lagi.


"Iya sayang, pokoknya jangan merasa sendiri. Kami semua ada untuk kamu," imbuh Aina, lalu mengecup kening Sarah.


Setelah cukup lama mengobrol, Aina pun pamit dan kembali ke rumah besar. Dia cukup senang mendengar pengakuan Sarah barusan.


Awalnya Aina pikir Tobi tidak akan bisa menerima pernikahan itu, apalagi mengingat usia mereka yang jauh berbeda. Aina juga sangsi karena setahunya Tobi itu pria yang keras seperti Baron, tapi beruntung mereka memiliki sifat yang sama yakni penyayang sama keluarga.


"Ada siapa barusan?" tanya Tobi yang sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak kusut dengan rambut acak-acakan, sepertinya dia baru saja bangun tidur.


Mendengar suara Tobi yang besar bervolume, Sarah terperanjat dan berbalik dengan mata terbelalak. Dengan tangan gemetaran, dia lekas mengambil buku dan pena lalu mencoretnya dengan tulisan tangan. "Tadi itu Bu Aina."


"Oh, lalu kenapa kamu seperti ketakutan begitu?" tanya Tobi menyipitkan mata.


"Tidak apa-apa," tulis Sarah lagi. Dia bukannya takut, tapi dia kaget mendengar suara Tobi yang seperti harimau mengaum minta makan. Itu membuat darahnya turun hingga telapak kaki.


"Tidak apa-apa tapi seperti melihat hantu begitu," seloroh Tobi, lalu melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Sarah. "Bicara apa saja kalian tadi?" tanya Tobi sambil melangkah membawa Sarah ke kamar mereka.


"Tidak ada, cuma nyuruh main ke rumah besar." tulis Sarah.


"Nah, apa Mas bilang. Jangan mengurung diri di belakang terus! Mereka itu orang-orang baik, tidak perlu takut!" jelas Tobi sembari mengacak rambut Sarah.


"Iya, aku mengerti. Sekarang Mas mandi saja dulu, aku siapin baju dan sarapan!" tulis Sarah mengukir senyum.


"Sarapan kamu boleh kan?" goda Tobi dengan tatapan tak biasa, lalu mendorong Sarah hingga kakinya mentok menyentuh tepi ranjang.


Mendengar permintaan Tobi, mendadak pipi Sarah bersemu merah. Dia nampak kelimpungan dengan kaki gemetaran.

__ADS_1


Dia tau tanggung jawabnya sebagai seorang istri, tapi bagaimanapun juga mereka berdua sudah membuat kesepakatan sebelumnya. Tidak boleh saling menyentuh sebelum memastikan bahwa Sarah tidak hamil karena kejadian malam itu. Sarah tidak ingin Tobi menanggung malu jika dia mengandung anak pria bejat itu. Tobi terlalu baik untuk wanita yang sudah kotor sepertinya. Sarah tidak mau Tobi membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.


__ADS_2