Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 131.


__ADS_3

Pagi hari, seperti biasa Inara turun lebih dulu dan membantu menyiapkan sarapan untuk semua orang. Avika dan Dara juga sudah ada di dapur sana.


Sedang asik menggoreng ayam, tiba-tiba kepala Inara terasa pusing. Aroma khas ayam goreng itu membuat perutnya mual, dia tidak tahan ingin muntah dan berlari ke toilet.


"Inara, kamu kenapa?" teriak Avika lantang, dia terkejut melihat Inara yang tiba-tiba berlari memasuki toilet dapur.


"Kenapa pagi-pagi sudah berisik?" suara bariton Aksa mengalihkan perhatian Avika seketika.


Aksa sengaja turun lebih awal dengan pakaian yang sudah rapi, bukan pakaian kantor melainkan pakaian kasual yang terlihat santai namun tetap elegan di tubuhnya.


Semalam badan Inara panas lagi dan Aksa berencana membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa. Sebab itulah dia turun lebih cepat, tapi malah disuguhkan dengan teriakan yang menyakiti gendang telinganya.


"Kak, lihat istrimu tuh!" seru Avika, setelah menatap Aksa dia beralih menatap pintu toilet yang tertutup rapat.


"Memangnya Inara kenapa?" tanya Aksa mengerutkan kening.


"Mana aku tau, tiba-tiba saja dia berlari tanpa sebab. Apa dia sakit?" sahut Avika menautkan alis.


Mendengar itu, mata Aksa pun membulat. Dengan cepat dia berlari kecil mendekati pintu toilet dan mengetuknya pelan. "Sayang, kamu di dalam? Buka pintunya!" seru Aksa panik bukan kepalang. Dia takut Inara kenapa-napa di dalam sana.


Tidak lama, pintu pun berderit. Inara berdiri di hadapan Aksa dengan pandangan mengabur lalu membawa dirinya ke pelukan Aksa.


"Kenapa sayang?" tanya Aksa, dia mendekap Inara erat seraya mengusap kepalanya.


"Pusing," gumam Inara yang sudah tenggelam di dada Aksa.


Aksa kemudian memundurkan dadanya dan menempelkan punggung tangannya di kening Inara. Seketika mata Aksa terbelalak merasakan suhu tubuh Inara yang semakin panas.


Tanpa pikir panjang, Aksa dengan cepat menggendong Inara dan membawanya ke sofa ruang tengah. Setelah itu dia memeluk Inara di atas pangkuannya.


"Avika, buatin teh hangat tolong!" seru Aksa.

__ADS_1


"Iya Kak, tunggu sebentar." sahut Avika lalu dengan cepat menyeduh teh sesuai permintaan Aksa.


Selang beberapa menit, Avika datang dengan secangkir teh di tangannya lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian Avika mengambilkan roti tawar dan mengolesnya dengan selai.


"Ini Kak, suapi Inara dulu. Mungkin masuk angin," ucap Avika setelah menaruh piring berisi roti itu di atas meja.


"Masuk angin apanya?" Aksa mengernyit menilik Avika. "Ini bukan masuk angin, tapi kemasukan tuyul." imbuh Aksa mengulum senyum lalu membantu Inara meneguk teh dan menyuapi roti yang dibuatkan Avika tadi.


"Tuyul?" Avika mengulangi kata itu sembari berpikir keras, matanya menyipit menatap sepasang suami istri yang menurutnya aneh itu.


Apa iya Inara kemasukan tuyul? Apa itu artinya di rumah besar itu ada penunggunya? Tidak, tidak, mana mungkin? Sejak kecil sampai sekarang Avika tidak pernah diganggu sama makhluk seperti itu.


"Inara, kamu kenapa sayang?" tanya Aina yang baru turun dari kamar.


"Aksa, Inara kenapa Nak?" sambung Nayla yang menyusul di belakang. Keduanya duduk di samping Aksa, sementara Avika memilih kembali ke dapur membantu Dara yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


Aksa sebenarnya ingin bicara tapi dia sudah terlanjur berjanji pada Inara untuk diam sampai semuanya benar-benar jelas. "Tidak apa-apa Ma, Bun. Inara cuma demam, mungkin masuk angin. Semalaman tidurnya tidak pakai baju." jawab Aksa enteng tanpa dosa.


Mendengar jawaban nyeleneh Aksa, Aina dan Nayla sontak tersenyum sambil menutup mulut. Tidak dengan Inara yang malah memelototi Aksa dengan tatapan mematikan. Tentu saja dia malu mendengar itu meski pada kenyataannya yang dikatakan Aksa itu benar adanya. Inara pun mencubit pinggang Aksa geram.


"Makanya ngomong tuh dijaga, sama orang tua tidak ada malu-malunya sedikitpun." gumam Inara menggertakkan gigi.


"Kenapa harus malu? Mereka berdua orang tua kita dan mereka sudah lebih dulu menikmati asam garam berumah tangga, iya kan Ma, Bun?" jawab Aksa enteng seraya mematut Aina dan Nayla bergantian.


"Iya, terserah kamu saja." kata Aina dan Nayla serentak.


Setelah Inara menghabiskan sepotong roti dan teh hangat tadi, mereka kemudian pamit meninggalkan rumah. Keduanya sengaja ingin datang lebih pagi ke rumah sakit agar tidak terjebak antrian panjang.


"Pak Anang, tolong antar kami ke rumah sakit!" seru Aksa pada sopir pribadi keluarga Airlangga yang sekarang sudah tidak muda lagi.


"Baik, Tuan muda." angguk pria paruh baya itu.

__ADS_1


Aksa sengaja ingin duduk berdua dengan istri cantiknya, sebab itulah dia meminta disupiri sama Pak Anang.


Setelah keduanya duduk di bangku penumpang, Pak Anang pun melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Airlangga.


Sepanjang perjalanan, Inara hanya diam di dalam pelukan Aksa. Bicara membuatnya semakin pusing dan lelah. Aksa pun tak henti mengusap punggung dan kepala Inara bergantian.


Sesampainya di parkiran rumah sakit, keduanya turun dari mobil. Aksa dengan cepat mendaftarkan nama Inara karena pengunjung masih sangat sepi.


Setelah mendapat nomor antrian, keduanya langsung duduk di kursi tunggu dengan posisi Inara yang masih betah berada di pelukan Aksa. Dia merasa nyaman menghirup aroma ketiak Aksa yang membuat rasa pusingnya lenyap begitu saja.


"Nona Inara..." panggil seorang suster yang baru keluar dari ruangan dokter.


"Iya, Sus." sahut Aksa lalu membawa Inara masuk ke ruangan itu.


Di dalam sana, Aksa menceritakan semua keluhan yang dirasakan Inara kepada seorang dokter. Setelah berbicara panjang lebar, dokter itupun mulai melakukan pemeriksaan.


Aksa membantu Inara berbaring di atas brankar dan berdiri di sampingnya seraya menggenggam tangan Inara erat. Satu tangannya mengusap pucuk kepala Inara tanpa henti.


"Selamat ya, kandungan istri Anda susah menginjak usia delapan minggu." ucap dokter itu saat melakukan tindakan USG.


Mendengar itu, mata Aksa langsung berkaca. Darahnya berdesir dengan jantung berdetak kencang tak menentu. Tentu saja dia sangat bahagia, tak disangka benihnya sudah tumbuh dan berkembang di rahim satu satunya wanita yang sangat dia cintai.


Sontak Aksa menjatuhkan kepalanya di pipi Inara. Setetes cairan bening itu jatuh mengaliri kulit mulus istrinya. "Terima kasih, terima kasih sudah menjadikanku laki-laki paling beruntung di dunia ini." lirih Aksa seraya mengecup pipi Inara. Tak terbilang betapa bahagianya dia saat ini.


Melihat tangis kebahagiaan suaminya, hati Inara tiba-tiba mencelos. Dia terenyuh menyaksikan gambaran kebahagiaan yang ditunjukkan Aksa padanya.


Inara sendiri sebenarnya tidak percaya dengan ini. Padahal sejak menikah dia mulai mengkonsumsi pil KB untuk menunda kehamilannya. Bukan tidak ingin memiliki anak, tapi Inara mau menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.


Akan tetapi, Tuhan sepertinya tidak mau mengabulkan keinginannya. DIA telah menitipkan anugerah itu di rahim Inara dan Inara tidak keberatan dengan itu. Inara juga menginginkan buah cinta mereka berdua.


Setelah mendapatkan foto hasil USG dan resep vitamin yang diberikan dokter itu, Aksa dan Inara pamit undur diri setelah mengucapkan terima kasih dan menjabat tangan dokter itu.

__ADS_1


Lalu keduanya mampir di apotik milik rumah sakit dan menebus resep yang diberikan dokter tadi. Setelah itu keduanya berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.


Setelah Aksa dan Inara duduk di bangku penumpang, Pak Anang pun dengan sigap melajukan mobil yang dikendarainya meninggalkan gerbang rumah sakit.


__ADS_2