
"Tobi, cepat hubungi Andi dan Dori, suruh mereka berdua memperketat penjagaan! Bila perlu suruh keduanya masuk ke dalam kampus Inara dan kantor Avika, jangan sampai mereka lengah!" titah Baron sesaat setelah tiba di paviliun belakang.
"Baik Bang," angguk Tobi. Dia lekas menghubungi Andi dan Dori sesuai permintaan Baron, lalu pamit pada Sarah. Tobi sudah bisa membaca keadaan sebelum Baron mengatakannya.
Setelah memberikan perintah pada Tobi, Baron pun dengan cepat menghubungi anak buahnya yang lain. Dia mulai sangsi mengingat tidak seorangpun diantara Aksa dan Rai yang menghubunginya. Sudah bisa dipastikan bahwa mereka berdua mengalami kesulitan. Bisa saja keduanya memang sengaja dijebak oleh Tasya.
Setelah mempersiapkan semuanya, Baron dan Tobi dengan cepat menaiki mobil. Baron menyalakan ponsel untuk melacak posisi Aksa dan Rai, butuh waktu sekitar dua jam untuk tiba di lokasi.
Sementara di Airlangga Group, Arhan dan Hendru mulai kelimpungan mencari keberadaan Aksa dan Rai yang tidak kunjung tampak batang hidungnya. Keduanya mondar-mandir ke atas ke bawah tapi tak kunjung menemukan mereka.
Arhan nampak sedikit kecewa, dia merasa Aksa dan Rai tidak bertanggung jawab pada perusahaan. Padahal ada rapat yang harus diadakan siang ini, mau tidak mau terpaksa Arhan dan Hendru yang meng-handle rapat itu.
...****************...
"Aaaaw..." rintih Aksa saat tubuhnya terkulai lemas di dasar lantai. Mukanya babak belur, sudut bibir dan hidungnya mengeluarkan darah sedangkan bagian lain nampak memar dan membiru.
Sejak lampu dinyalakan tadi, anak buah Oberoi tidak hentinya menyiksa Aksa dan Rai. Mereka yang berjumlah kurang lebih dua puluh orang itu secara bergantian memukuli keduanya.
Tapi di sini Aksa lah yang lebih menderita karena dia lah sasaran utama Oberoi. Ketua Onix itu tidak akan membiarkan Aksa mati dengan mudah, dia ingin Aksa merasakan bagaimana sakitnya penganiayaan seperti yang pernah dia rasakan sebelumnya.
"Aksa, apa kau sudah mati?" desis Rai yang sudah tergeletak di samping Aksa. Raganya terasa berat untuk bangun.
"Hmm..." gumam Aksa dengan posisi meringkuk. Lengannya yang hampir sembuh kini terluka kembali akibat pukulan dan tendangan yang didaratkan anak buah Oberoi.
"Loh, orang mati memangnya masih bisa bicara ya? Aku baru tau," celetuk Rai yang kembali membuat ulah. Entah apa yang ada di benak mereka berdua? Bukannya melawan, keduanya hanya diam menerima pukulan bertubi-tubi.
Ya, ternyata Aksa sudah tau rencana mereka. Di sana sudah dipasang beberapa alat peledak dan salah satunya ada di tubuh Tasya.
Wanita itu sengaja dijadikan umpan agar Aksa masuk ke dalam perangkap yang sudah mereka susun dengan rapi. Sejak di mobil tadi alat itu sudah terpasang di tubuh iblis itu, mau tidak mau dia terpaksa menuruti kemauan Oberoi. Salah sedikit saja, bisa-bisa dia berakhir menyedihkan. Dia belum mau mati sekarang, masih ada hal yang harus dia selesaikan.
Dia juga berharap Aksa mau membantunya. Akan tetapi, harapan itu pupus begitu saja melihat Aksa yang tidak melakukan perlawanan. Tasya harus rela jika hari ini merupakan hari terakhir baginya.
"Ayo, tinggalkan mereka di sini! Sudah saatnya mereka bertiga terjun bebas ke neraka," seru seorang pria dengan suara lantang.
Mendengar itu, manik mata Aksa menyala menatap Rai. Keduanya seakan tengah berbicara melalui bahasa tubuh yang tidak dimengerti oleh orang lain.
Permainan mata mereka itu sontak membuat Tasya melotot tajam, wanita itu ingin bicara tapi dia tidak bisa bersuara dan bergerak. Mulutnya dilakban, tangan dan kakinya diikat di sebuah kursi kayu.
__ADS_1
Sebelum para penjahat itu berhasil meninggalkan pintu, Aksa dan Rai dengan cepat mengeluarkan revolver yang mereka sembunyikan. Disaat itulah satu persatu anak buah Oberoi tergeletak di lantai bercucuran darah segar.
"Sial," umpat salah seorang pria bertubuh tinggi besar. Dia pikir Aksa dan Rai sudah tidak memiliki tenaga, tapi ternyata dia terlalu meremehkan mereka berdua. Baku tembak pun tak bisa terelakkan.
"Dor..."
"Dor..."
Lagi-lagi Aksa berhasil melumpuhkan anak buah Oberoi, dia sampai jungkir balik menyembunyikan diri di balik kursi. Beruntung dia bergerak cepat sehingga sebuah peluru yang mengarah padanya malah mengenai kaki kursi, lalu Aksa mengendap-endap mengikuti barisan kursi yang semakin tinggi.
"Dor..."
Kali ini Rai yang berhasil menancapkan timah panas di dada seorang penjahat, lalu bersembunyi di balik kursi penonton.
Mereka semua seperti bermain petak umpet diantara banyaknya kursi yang berjejer rapi.
"Tap Tap..."
Aksa mengintip dari balik kursi. Matanya menangkap seorang pria yang berjalan ke arahnya.
"Dor..."
"Dor..."
"Shiit," umpat Aksa seraya memegang lengan dan meremasnya perlahan, sedikit ngilu tapi tidak seberapa.
"Sss... Sss..." desis Rai dari jarak beberapa meter saja. Aksa berada di barisan kanan sedangkan Rai berada di barisan kursi sebelah kiri.
Aksa memutar leher saat mendengar bisikan itu, seketika dia pun mengerutkan kening.
"Apa kau sudah mati?" desis Rai yang masih sempat-sempatnya bertanya.
"Diam, atau kepalamu yang aku tembak!" gertak Aksa mengarahkan ujung revolvernya ke kepala Rai, sontak mata Rai terbelalak.
"Dor..." Aksa menarik pelatuknya.
"Bug!"
__ADS_1
Suara benturan keras terdengar jelas seperti karung yang dilempar dari ketinggian.
"Avika, aku mencintaimu sayang. Maafkan aku," batin Rai dengan mata terpejam. Beberapa detik kemudian dia membukanya lagi dan menyentuh kening serta wajahnya lalu meraba dadanya seperti orang kebingungan. "Aku belum mati?" gumamnya seperti orang linglung.
"Bodoh, lihat di belakangmu!" kesal Aksa sampai ubun-ubun. Jika saja dia tidak bergerak dengan cepat, mungkin Rai hanya akan tinggal nama saat seorang musuh sudah mendekat di belakangnya.
Seketika Rai menoleh ke belakang, seorang pria bertubuh tinggi besar sudah tergeletak mengeluarkan banyak darah di kepalanya.
"Astaga, aku pikir kau benar-benar ingin menembak kepalaku." keluh Rai menghela nafas lega. Dia bergidik ngeri dan menjauh dari mayat itu.
"Sebenarnya aku ingin, tapi aku kasihan dengan Avika. Baru nikah masa' sudah jadi janda," seloroh Aksa menahan tawa.
"Hust... Amit-amit jabang bayi," Rai mengetok kepala dan beralih mengetok dengkulnya. "Hati-hati kalau bicara," imbuhnya dengan tatapan tajam mematikan.
Setelah situasi aman terkendali, keduanya beranjak dari kursi penonton yang mereka duduki lalu melangkahi beberapa mayat yang sudah terbujur kaku bersimbah darah.
Tatapan Aksa langsung tertuju pada Tasya yang masih terikat tanpa bisa berbicara. Aksa mengepal tinju dengan kuat, saking kuatnya darah segar pun mengalir dari bekas lukanya.
"Kau lihat sendiri kan?" Aksa mengulas senyum miring. "Tidak akan ada yang bisa menghancurkan aku dan keluargaku, apalagi wanita sampah sepertimu." umpat Aksa.
"Mmm... Mmm..."
Tasya ingin berbicara tapi Aksa tidak bersedia mendengarnya. Wanita itu meronta-ronta mencoba membebaskan diri, tetap saja Aksa tidak peduli.
"Selamat healing ke neraka," seru seorang musuh seraya menjatuhkan sebuah benda kecil berbentuk kunci.
Sontak mata Aksa dan Rai terbelalak, keduanya lekas menjauh dari Tasya lalu berhamburan meninggalkan gedung yang mereka tau sudah dipasang beberapa bom sebelumnya.
"Duarrr..."
"Duarrr..."
"Duarrr..."
Terjadi beberapa kali ledakan besar yang membuat seisi gedung itu hancur berantakan, semua luluh lantah seiring kobaran api yang menjangkau langit.
Tubuh Aksa dan Rai terpelanting beberapa meter, beruntung tidak ada yang mengalami luka bakar. Hanya saja keduanya langsung terkapar tak berdaya, mereka tidak sanggup berdiri setelah membentur benda keras, tulang mereka terasa patah dan remuk seperti kaleng minuman yang diinjak.
__ADS_1
"Aaaaaaah..." desis Aksa dan Rai bersamaan. Aksa terkapar dalam posisi terlentang sedangkan Rai terkapar dalam keadaan mencium tanah.