
"Pagi Ma, Bun, Tan," sapa Inara saat memasuki dapur. Pagi ini sangat indah, serupa dengan hati Inara yang tengah berbunga-bunga.
Setelah kejadian semalam, Inara menjadi semakin yakin dengan hatinya. Mungkin dia saja yang terlalu sensitif karena takut saudaranya tidak setuju atas hubungannya dengan Aksa. Tapi kini semua kekhawatirannya sudah hilang, Inara bahkan sudah tidak sabar ingin menjadi milik Aksa seutuhnya.
"Pagi sayang, silau banget sih. Ada apa nih?" jawab Nayla yang melihat sinaran kebahagiaan di wajah putri semata wayangnya.
"Hehehe, gimana gak silau? Orang lagi bahagia bahagianya mau nikah sama pangeran tampan," seloroh Inda. Dia tertawa kecil dan mencubit pipi Inara gemas.
"Gak berasa ya, padahal baru kemarin kalian semua lahir ke dunia ini. Sekarang sudah mau menikah saja. Judulnya putriku adalah menantuku, hahaha..." Aina menimpali dan tertawa terbahak-bahak.
Seketika pipi Inara bersemu merah mendengar itu. Aneh memang, dia juga tidak menyangka akan jatuh cinta pada kakaknya sendiri. Kakak yang dulunya sangat dingin dan suka membuatnya menangis. Bahkan menunjukkan kebencian yang mendalam padanya.
Tapi begitulah cinta, dia tidak mengenal tempat dan waktu. Semua terjadi begitu saja tanpa tau bagaimana Tuhan menuliskan skenario untuk kita. Aksa dan Inara merupakan salah satu contoh wujud nyata bahwa cinta itu memang buta.
"Ma, Kak Aksa kemana ya? Kok gak ada di kamar?" tanya Inara dengan bibir mengerucut.
Sebelum turun tadi Inara sempat mampir ke kamar Aksa tapi tidak menemukan calon suaminya itu di mana-mana.
"Kak Aksa sudah pergi pagi-pagi sekali, katanya ada urusan mendadak. Mama juga tidak tau urusan apa," jawab Aina berbohong.
Sebenarnya Aksa sudah menceritakan semuanya sebelum meninggalkan rumah. Inda dan Nayla juga tau, tapi sengaja menyembunyikannya dari Inara.
"Urusan apa ya Ma? Sekarang kan weekend, gak mungkin urusan kantor kan?" Inara lagi-lagi mengerucutkan bibir. Padahal dia ingin sekali menghabiskan waktu bersama Aksa seharian ini.
"Entahlah, Kak Aksa gak ngomong apa-apa sama Mama. Bunda sama Tante mungkin tau," Aina mengulum senyum, lalu melemparkan pertanyaan itu pada Nayla dan Inda.
"Bunda gak tau sayang," jawab Nayla menahan tawa.
"Tante juga gak tau," sambung Inda mengangkat bahu.
__ADS_1
"Oh," Inara mencebik bibir dan duduk dengan air muka gelap.
Sebenarnya Aksa kemana? Kenapa tidak bicara kalau dia ada urusan? Padahal sebentar lagi mereka berdua akan menikah, apa Inara tidak berhak tau mengenai urusan pribadi calon suaminya?
Melihat wajah murung Inara, ketiga ibu rumah tangga itu saling melirik dan melempar senyum satu sama lain.
...****************...
Pukul sepuluh pagi Aksa sudah tiba di apartemen bersama Rai. Tidak lama beberapa pekerja dari jasa dekorasi datang menyusul mereka.
Aksa ingin kamarnya di hias sedemikian rupa. Dia sengaja memilih apartemen itu agar malam pertamanya tidak diganggu oleh siapapun. Setelah sah dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Inara untuk beberapa hari, tentu saja dia sudah membicarakan ini dengan semua anggota keluarga setelah keluar dari kamar Inara semalam.
"Enak ya yang mau jadi pengantin baru," ucap Rai dengan senyum mengejek.
"Apaan sih? Jangan jeles begitu, kau juga akan merasakannya nanti." selang Aksa dengan mata menyipit.
"Pengen sih, tapi tidak mungkin." kata Rai dengan air muka galau.
"Entahlah, aku merasa minder dengan diriku sendiri. Mana ada wanita yang mau dengan pria sepertiku? Aku tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, bagaimana bisa aku membahagiakan seorang wanita?" lirih Rai.
"Teg!"
Aksa menjitak kepala Rai dengan kasar. Lama-lama perutnya mulai mual melihat wajah penuh drama Rai yang membagongkan.
"Apaan sih? Sakit tau," keluh Rai sembari mengusap kepalanya.
"Makanya jangan banyak drama! Asal kau tau saja, semua orang yang masuk ke dalam keluarga Airlangga adalah bagian dari keluarga kami. Mulai dari Ayah Hendru dan Bunda Nayla, Om Baron dan Tante Inda, semuanya sama. Sekarang kau juga begitu, tidak ada yang bisa keluar tanpa persetujuan Papa." terang Aksa.
"Beda dong, aku hanya-"
__ADS_1
"Hanya apa? Hanya orang miskin maksudmu? Yang lain juga begitu. Ayah Hendru dulunya hanya asisten pribadi Papa, Bunda Nayla cuma sahabat Mama. Sedangkan Om Baron hanya teman Papa dan Tante Inda juga cuma seorang pelayan. Keturunan Airlangga bukan keluarga sombong dan angkuh, kami memperlakukan semua orang sama rata." Aksa menarik nafas sejenak.
"Dan Mama... Mama dulunya hanya seorang penyanyi cafe yang hidup sebatang kara. Karena kesalahan mereka berdua, aku terlahir ke dunia ini. Tapi Papa tidak mempermasalahkan status sosial Mama, Papa berjuang mengambil hati Mama dan membawa kami pulang ke rumah. Papa menikahi Mama dan memberikan cintanya untuk Mama. Oma dan Opa juga sangat menyayangi Mama seperti putri kandung mereka sendiri." jelas Aksa panjang lebar.
"Deg!"
Sejenak Rai terdiam menelaah kata-kata Aksa barusan, jantungnya berdegup kencang. Apa itu artinya dia punya kesempatan untuk meraih Avika? Tapi apa Rai bisa? Kalaupun bisa, belum tentu juga Avika mau dengannya.
Aksa kemudian meninggalkan Rai yang masih mematung di sofa. Dia masuk ke kamar melihat pekerja yang sedang menghias kamar pengantinnya.
Aksa memberikan sedikit masukan. Dia tidak ingin terlalu waw, tapi dia membutuhkan kamar pengantin yang sederhana dan elegan. Kebanyakan gaya membuat mata Aksa sakit. Dia ingin menciptakan suasana romantis di kamar itu, kamar yang akan menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka.
Siang hari, para pekerja meninggalkan apartemen. Semua sudah rampung sesuai keinginan Aksa. Kemudian Aksa juga meninggalkan apartemen bersama Rai, keduanya mampir di sebuah mall terbesar ibukota.
Sesampainya di sebuah toko perhiasan, Aksa memilih sendiri cincin kawin untuknya dan Inara. Aksa juga membeli beberapa perhiasan lain untuk maharnya nanti.
Setelah Aksa mendapatkan apa yang dia cari, mereka turun satu lantai. Di sana berjejer beberapa toko pakaian mulai dari produk lokal dan import.
Tak sengaja mata Aksa tertuju pada sebuah toko yang menjual pakaian khusus wanita. Seringai tipis melengkung di sudut bibir Aksa saat menangkap manekin wanita yang mengenakan lingerie seksi. Hal itu membuat otak Aksa kehilangan fungsi saat membayangkan betapa seksinya Inara saat mengenakannya.
Tanpa pikir Aksa melenggang masuk ke dalam toko tersebut, Rai mengerutkan kening melihat itu. Mau tidak mau Rai terpaksa menyusul masuk.
Sesampainya di dalam sana, tubuh Rai tiba-tiba merinding saat dikelilingi banyaknya manekin seksi yang tak punya malu. Mendadak otak Rai traveling membayangkan Avika saat mengenakan pakaian haram tersebut, pasti akan terlihat sangat seksi dan menggoda.
"Teg!"
"Aww..."
Aksa mengulum senyum setelah menjitak kepala Rai. Dia tau otak sahabatnya tengah dilanda kegalauan tingkat tinggi. Aksa curiga Rai sedang membayangkan seseorang seperti dirinya yang membayangkan Inara, tapi Aksa tidak tau siapa gadis yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
Setelah membeli puluhan lingerie dengan warna warni seperti pelangi, Aksa keluar dari toko itu. Keduanya meninggalkan mall dan kembali ke apartemen. Aksa sengaja menahan diri untuk tidak bertemu Inara terlebih dahulu. Biarkan harimau mengaum dan menunjukkan taringnya disaat yang tepat.
Bersambung...