
"Loh, ngapain bengong sendirian di sini? Nanti kesambet baru tau rasa," tanya Tobi saat menemukan Aksa tengah duduk di taman dekat paviliun belakang. Air mukanya tampak murung seperti memikirkan sesuatu.
"Nih," Aksa tidak menjawab pertanyaan Tobi, dia malah menyodorkan sebuah alat tes kehamilan yang dia ambil dari kantong yang dibawa Inara tadi. "Suruh istri Om menggunakan alat ini!" imbuhnya dengan tatapan sendu.
"Untuk apa?" tanya Tobi, dia mengambil alih tespek itu dari tangan Aksa sambil mengerutkan kening.
"Kejadian itu sudah lebih satu bulan, sebaiknya dicek dulu biar Om tau dia hamil atau tidak." ucap Aksa, setelah itu dia pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hal itu menumbuhkan rasa penasaran di hati Tobi.
Ada apa dengan Aksa? Tidak biasanya dia semurung ini sebelumnya. Tapi ya sudahlah, Tobi tidak mau kepo memikirkan masalah orang lain, masalahnya saja sudah membuat otaknya kusut.
Lalu Tobi masuk ke dalam paviliun, dia menghampiri Sarah yang tengah duduk melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran. "Ini, coba tes dulu. Kamu akan tau hasilnya setelah ini."
Sarah menghentikan aktivitasnya sejenak, dia mengambil benda yang diberikan Tobi dan mematutnya dengan intim. Segera Sarah meraih buku dan pena lalu bertanya. "Ini apa, Mas?"
"Itu alat pendeteksi kehamilan. Gunakan sesuai petunjuk yang tertulis di sana!" jawab Tobi menjelaskan.
Sarah tidak menulis lagi, dia menggenggam benda itu erat dengan tatapan yang sulit dimengerti. Beberapa detik kemudian dia mengangguk lemah dan pergi meninggalkan ruangan.
Sesampainya di kamar mandi, Sarah segera mempraktekkan apa yang tertulis pada kemasan luar tespek itu. Setelah menunggu beberapa saat, dia keluar dan memberikan benda kecil pipih itu ke tangan Tobi. "Aaa," ucap Sarah dengan ekspresi datar.
Tobi mendongak dan mengambil tespek itu dari tangan Sarah, seketika matanya menyipit ketika memandangi benda itu. "Satu garis?" gumamnya pelan, tapi masih bisa didengar oleh Sarah.
"Aaa," angguk Sarah mengiyakan.
Tobi menatap Sarah lagi, tiba-tiba seringai tipis melengkung di sudut bibirnya. Dia menarik tangan Sarah sehingga terduduk di atas pangkuannya. Sarah pun membulatkan mata lebar-lebar saat Tobi menangkup tangan di pipinya lalu mengesap bibirnya.
"Tidak hamil kan? Jadi, itu artinya-" kembali Tobi tersenyum mematut wajah cantik Sarah yang berjarak lima cm saja dari wajahnya.
Sarah mengerjap dan membalas tatapan Tobi. Manik mata keduanya menyatu seakan tengah berbicara dari hati ke hati.
Tidak ingin menunggu terlalu lama, Tobi pun bangkit dari duduknya seraya menggendong Sarah dan berjalan menuju kamar. Setelah membuka pintu, dia menutupnya menggunakan kaki. Sontak mata Sarah membulat mendengar suara benturan yang cukup keras.
Lalu Tobi menjatuhkan tubuh Sarah di atas kasur, dia mengukungnya dan mulai mencumbui istrinya itu. Sarah hanya diam tanpa penolakan, hal itu membuat gairah Tobi semakin membumbung tinggi. Sudah lama sekali dia berpuasa sejak kematian istri pertamanya, kali ini dia kembali menyalurkan hasratnya yang menggelora. Derit ranjang itu menjadi saksi pergumulan mereka berdua.
...****************...
Usai makan malam, Aksa kembali ke kamar lebih dulu. Jangankan berbicara, menatap Inara saja dia sangat enggan setelah apa yang terjadi tadi pagi.
__ADS_1
Aksa kecewa karena merasa Inara tidak terbuka padanya. Dia berpikir bahwa Inara tidak mencintainya seperti yang dia pikirkan selama ini. Kenapa masalah tespek saja harus ditutupi darinya? Bukankah Aksa juga berhak tau? Berbagai macam pertanyaan mulai membelit di benak Aksa, itu membuat darahnya naik hingga ubun-ubun.
"Kenapa dia?" tanya Arhan kebingungan.
"Tumben, biasanya ngomong mulu." sambung Baron.
"Inara, apa kalian bertengkar?" tanya Hendru menimpali.
"Tidak Ayah," geleng Inara, lalu ikut pergi meninggalkan meja makan.
Sesampainya di kamar, Inara menangkap tubuh suaminya yang tengah terbaring di atas kasur. Sebelum mendekat, dia berjalan menuju meja rias lalu membuka laci dan mengambil sesuatu di dalamnya. Setelah itu dia melangkah menghampiri Aksa dan duduk di sampingnya.
"Kak..." desis Inara sambil menyentuh lengan Aksa.
Aksa tidak menjawab, dia menggerakkan lengannya yang bermaksud menyingkirkan tangan Inara darinya.
"Kakak kenapa sih? Kok jadi dingin begini?" tanya Inara menautkan alis.
"Kenapa masih bertanya? Bukankah sejak kecil aku sudah begini?" geram Aksa yang akhirnya membuka suara. Hal itu sontak membuat Inara termangu.
Apa maksudnya coba? Apa Aksa ingin kembali seperti dulu? Pria dingin yang selalu mengabaikannya dan tidak pernah menganggapnya ada.
"Hanya apa?" Aksa berbalik dan bangkit dari pembaringannya. Dia duduk berhadapan dengan Inara dan menatapnya seperti serigala liar kelaparan. Matanya memerah mengobarkan api yang menyala.
"Jangan salahkan aku jika membencimu seperti dulu, kamu sendiri yang mengubahku jadi seperti ini. Pikir Inara, apa pantas seorang istri menyembunyikan hal sensitif seperti itu dari suaminya? Kalau kamu tidak bisa menghargaiku, jangan harap aku akan menghargaimu." tegas Aksa.
"Satu hal lagi, jika kamu tidak bersedia mengandung darah dagingku, maka mulai detik ini kembalilah ke kamarmu. Tidak perlu menginjak kamarku lagi," imbuh Aksa penuh penekanan.
Inara yang mendengar itu sontak membulatkan mata lebar-lebar, sekujur tubuhnya tiba-tiba gemetaran. "Kakak mengusirku?"
"Terserah padamu mau berpikir seperti apa." tukas Aksa, lalu kembali berbaring memunggungi Inara. Dia benar-benar marah, entah apa yang ada di otak istrinya itu.
Seketika bibir Inara mengerucut, air matanya berjatuhan membasahi pipinya. Tidak pernah terbersit di pikirannya akan diusir seperti ini. "Baiklah, aku tidak akan pernah memasuki kamar ini lagi." lirihnya seraya melemparkan benda yang sedari tadi dia pegang, lalu melompat turun dari ranjang dan berlari menuju pintu.
Aksa mengusap wajahnya kasar dan menghela nafas berat lalu mengambil benda pipih yang dilempar Inara tadi.
"Deg!"
__ADS_1
Spontan mata Aksa terbelalak, jantungnya berdegup kencang seperti tengah lari maraton. Segera dia bangun dan berhamburan menyusul Inara yang baru saja keluar dari pintu.
"Sayang, tunggu!" seru Aksa saat menangkap punggung Inara yang tengah berlari menuju kamarnya.
Akan tetapi, Inara tidak peduli dan malah mempercepat larinya. Saat Inara berhasil memasuki kamarnya dan hendak menutup pintu, Aksa bergegas menahan pintu itu dengan kakinya. Inara kesulitan merapatkan pintu itu.
"Sayang, maaf. Tolong buka pintunya!" pinta Aksa dengan raut memelas.
"Untuk apa? Belum cukup hanya mengusirku dari kamarmu. Apa ingin mengusirku dari rumah ini juga?" isak Inara sesenggukan.
"Tidak sayang, bukan begitu. Please, buka dulu pintunya! Kita bicara baik-baik ya," bujuk Aksa.
"Tadi aku ingin membicarakan itu denganmu, tapi kamu malah berlaku dingin padaku dan mengusirku. Apa lagi yang harus dibicarakan?" tangis Inara semakin menjadi-jadi sambil mendorong pintu itu sekuat tenaga. "Pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu!" Inara berbalik badan dan menekan pintu itu dengan punggungnya.
"Ra, sayang, maafin Kakak ya. Kakak tidak bermaksud seperti itu," Aksa menjambak rambutnya dan memukul kepalanya sendiri dengan kasar. Bodohnya dia karena terlalu emosi menanggapi permasalahan ini. Harusnya dia berpikir dengan kepala dingin bukan malah main tuduh begitu saja.
Pelan-pelan Aksa berupaya mendorong pintu itu agar tidak menyakiti Inara, lengannya mulai masuk sedikit demi sedikit sampai separuh badannya menjulur ke dalam kamar.
"Tag!"
"Aww..."
Suara benturan kecil terdengar jelas saat Inara mendorong kuat pintu itu, akibatnya kening Aksa terjedot sudut pintu dan kepala bagian belakangnya membentur konsen. Bintang-bintang mendadak bertaburan mengitari kepalanya.
Mendengar rintihan itu, Inara kembali berbalik dan tercengang melihat butiran bening yang jatuh di sudut mata Aksa.
"Kenapa tidak membunuhku saja sekalian?" lirih Aksa dengan pandangan mengabur. Rasanya lebih menyakitkan dari sebuah peluru yang pernah bersarang di lengannya.
Mau tidak mau, Inara terpaksa menjauh dari pintu dan membiarkan Aksa masuk ke kamarnya. Dia menaiki ranjang dan berbaring seraya menarik selimut dan menutupi keseluruhan tubuhnya.
Dengan rasa entah yang tidak bisa dimengerti, Aksa lekas berjalan menyusul Inara dan menarik selimutnya. Dia merangkak menaiki tubuh Inara dan mematut mata basah istrinya dengan intim.
"Mmuach... Mmuach..."
Beberapa kecupan lembut mendarat di kening, mata, hidung, pipi, dagu, dan berakhir di bibir Inara. Aksa mengulas senyum sembari menyeka pipi Inara dan mengelusnya lembut.
"Maafin Kakak ya, tadi Kakak terlalu emosi. Kakak pikir kamu sengaja tidak ingin memberitahu Kakak tentang ini." sesal Aksa melembutkan suaranya, lalu menyatukan hidung mereka berdua.
__ADS_1
Inara mencebik dan memeluk kepala Aksa dengan erat. Walau bagaimanapun dia tidak bisa terlalu lama menyimpan kemarahan pada suaminya itu. "Hiks..."
"Sssttt... Sudah, jangan menangis! Tidak boleh cengeng," bujuk Aksa seraya membelai rambut Inara, lalu mengecup bagian telinga istrinya dengan penuh kelembutan.