
Inara keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang baru dibelikan Aksa untuknya. Meski sedikit longgar tapi cukup nyaman di tubuh Inara.
Tadi setelah kurir tiba mengantarkan pesanan, Aksa langsung mengetuk pintu kamar mandi dan memberikan pakaian itu kepada Inara. Inara mengambilnya dari balik pintu yang terbuka sedikit.
"Sudah, jangan sedih lagi! Sekarang ada Kakak bersamamu," ucap Aksa saat berpapasan dengan Inara. Aksa mengacak rambut basah Inara dan mencubit pipinya gemas.
"Di meja makan sudah ada makanan, tolong siapin ya! Kakak mandi dulu," Setelah mengatakan itu, Aksa masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Inara duduk di depan meja rias sembari menyisir rambutnya yang basah. Matanya berkaca mengingat ucapan Nayla tadi, dia tak menyangka sang bunda akan berkata seperti itu padanya.
Sakit, tentu saja. Tapi apa yang bisa Inara lakukan, dia sadar sudah melakukan kesalahan. Orang tua mana yang tidak akan marah melihat putrinya tidur dengan pria yang bukan suaminya.
Inara tidak punya alasan untuk membela diri, sebab itulah dia memilih lari dari rumah. Inara tidak menyangka Aksa akan menyusulnya dan ikut pergi bersamanya.
Kini Inara dilema dengan perasaannya sendiri. Apakah yang dia cintai sesungguhnya adalah sosok Akbar atau Aksa yang meskipun galak tapi selalu bisa membuatnya tersenyum. Bagaimanapun mereka adalah orang yang sama.
Setelah penampilannya rapi, Inara meninggalkan kamar dan berjalan menuju dapur. Dia mengambil piring dan menyalin makanan yang sudah ada di atas meja.
Tidak lama, Aksa keluar dari kamar dan berjalan menghampiri Inara. Sebelum duduk, dia memeluk Inara dari belakang dan mengecup kepala gadis itu.
"Sudah, lepasin aku! Aku masih marah," ketus Inara sambil mendorong kepala Aksa.
"Hehe... Marah saja, Kakak tidak peduli." Aksa mengulum senyum dan duduk di samping Inara.
Sejenak suasana menjadi hening karena keduanya hanya diam sambil menyantap makanan yang ada di piring masing-masing. Disaat bersamaan, tiba-tiba ponsel yang ada di kantong Aksa berdering. Aksa merogoh kantong celana dan tersenyum saat memandangi layar iPhone miliknya.
"Siapa?" Inara menautkan alis.
"Papa..." jawab Aksa, lalu menggeser tombol hijau.
"Iya Pa, ada apa?" ucap Aksa sesaat setelah panggilan mereka terhubung.
__ADS_1
"Aksa, kamu dimana Nak? Apa Inara bersama kamu?" tanya Arhan yang kini sudah berada di kantor. Dia khawatir dengan keadaan Inara.
"Aksa di apartemen Pa, Inara aman sama Aksa. Papa tidak usah khawatir! Aksa izin ke kantor dulu ya Pa, Aksa ingin menemani Inara. Gadis ini sepertinya masih down setelah mendapat tamparan dari Bunda, Aksa takut dia nekat bunuh diri. Aksa tidak mau dihantui olehnya. Kalau dihantui orangnya langsung Aksa gak nolak, hehe..." seloroh Aksa. Dia terkekeh dengan sendirinya. Sementara Inara yang mendengar itu langsung mengepalkan tangan dengan mata merah menyala.
"Anak bandel, jangan macam-macam! Ingat, sekarang Inara masih berstatus adikmu, jangan melakukan sesuatu yang belum boleh dilakukan!" tegas Arhan dari ujung sana.
"Iya Pa, Aksa tau itu. Tapi Aksa gak janji ya Pa, kalau khilaf bagaimana? Hahahaha..." Aksa kembali tertawa, hal itu membuat Inara semakin murka.
"Tidak ada alasan! Kalau kamu masih ingin melihat Papa berpihak padamu, dengar ucapan Papa baik-baik. Ayah sekarang sedang menemui calon besannya. Dia ingin melanjutkan perjodohan ini." jelas Arhan.
"Papa serius?" Aksa mengerutkan kening.
"Iya, tadi pagi Bunda memberikan pilihan. Bunda ingin pindah dari rumah, tapi Papa melarangnya. Jadi Ayahmu berpikir untuk menikahkan Inara secepatnya." terang Arhan.
"Tidak Pa, Aksa tidak setuju. Inara tidak boleh menikah dengan pria lain, gadis ini milik Aksa. Hanya Aksa yang berhak menikahinya." tegas Aksa dalam kemarahan. Matanya menyala, rahangnya mengerat dengan tinju terkepal kuat.
"Ya sudah, itu urusanmu. Sekarang Papa sedang mencari cara untuk menghentikan Ayah. Jaga Inara dengan baik, nanti Papa hubungi lagi."
Arhan mematikan sambungan telepon itu, dia mengusap wajah sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Tenang dulu Ra, jangan marah-marah begitu!" Aksa bangkit dari duduknya dan berjongkok di kaki Inara, lalu menggenggam tangan Inara dengan erat.
"Ayah ingin melanjutkan perjodohan itu. Kamu akan dinikahkan secepatnya," ucap Aksa. Dia meletakkan tangan Inara di pipinya.
"Tidak, aku tidak mau." lirih Inara mencebik.
"Iya, Kakak tau kamu tidak mau. Sekarang beri alasan pada Kakak! Kenapa kamu tidak mau?" tanya Aksa dengan lembut. Saking lembutnya mata Inara sampai berkaca dibuatnya.
"Ka-Karena..." Inara tidak tau harus menjawab apa. Dia kemudian menepis tangan Aksa dan bangkit dari duduknya.
"Tunggu Ra, jangan pergi dulu! Kita harus menyelesaikan kesalahpahaman ini secepatnya." Aksa meraih pinggang Inara dan menariknya semakin dekat. Saking dekatnya hembusan nafas keduanya saling menerpa di wajah masing-masing.
__ADS_1
"Kak, lepasin aku!" lirih Inara dengan pipi merona merah. Takut, gugup, kesal, begitulah yang dia rasakan saat ini.
"Iya, pasti Kakak lepaskan. Tapi katakan dulu bahwa kamu mencintai Kakak, katakan kalau cinta Kakak tidak bertepuk sebelah tangan!" tegas Aksa penuh penekanan. Manik mata keduanya saling mematut, bahkan bibir mereka nyaris bertautan.
"A-Aku-"
"Aku apa? Katakan saja!" potong Aksa.
"A-Aku tidak mencintai Kak Aksa." ucap Inara sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Deg!"
Seketika tangan Aksa langsung terlepas dari pinggang Inara. Jantungnya serasa berhenti untuk berdetak, sakit, ngilu bak disayat sembilu tajam. Aksa mundur beberapa langkah dengan mata yang sudah memerah.
"Baiklah, Kakak mengerti." Aksa berbalik dan berjalan meninggalkan Inara yang masih mematung di tempatnya berdiri.
Aksa masuk ke dalam kamar dan duduk di balkon. Cuaca yang terik tidak menyurutkan nyalinya membiarkan tubuhnya diterpa sinar matahari.
Mungkin sudah waktunya Aksa menyadari posisinya. Cinta itu sepertinya salah, Aksa harus ikhlas melepas perasaannya. Memaksa pun tidak ada untungnya sama sekali.
"Kak Aksa..." lirih Inara yang tiba-tiba muncul di hadapan Aksa.
"Hmm... Duduklah!" Aksa menghela nafas berat, dia berusaha terlihat tenang di hadapan Inara.
"Kak, aku-"
"Tidak apa-apa, tidak usah merasa bersalah seperti itu padaku. Aku ini seorang pria, ditolak sekali tidak masalah bagiku. Masih banyak wanita lain di luar sana. Kamu juga harus bahagia dengan pria yang sudah dijodohkan Ayah untukmu." Aksa mengacak rambut Inara dan mencubit hidungnya, lalu melenggang dengan santainya meninggalkan kamar.
Aksa membaringkan diri di sofa, dia memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan tangan.
Sementara Inara sendiri memilih berbaring di dalam kamar. Dia memeluk bantal guling sambil menangis. Dia tidak ingin dijodohkan, dia juga tidak bisa menerima cinta Aksa. Dia takut dengan kemarahan orang tuanya.
__ADS_1
Dalam ketidakberdayaannya, tiba-tiba saja dia merindukan sosok Akbar. Meski dia sudah tau bahwa Akbar adalah Aksa, tapi dia ingin dipeluk oleh pria itu, dia merindukan Akbar berada di sisinya.
Bersambung...