
"Boni mana?" tanya Aryan sembari menggebrak meja di depan dua sahabatnya yang tengah nongkrong di kantin kampus. Tatapannya nampak tajam dengan ekspresi dingin yang membekukan hati.
Jeri dan Rudi terperanjat, keduanya menatap Aryan dengan raut bingung. "Loh, kamu tidak tau bahwa Boni sudah pindah?" kata Jeri mengernyitkan kening.
"Pindah?" Aryan mengulangi kata itu sembari mengepalkan tinju.
Dia benar-benar marah dan ingin menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya. Tapi setelah berpikir jernih, dia pun urung melakukannya. Dia tidak mungkin membuat keributan yang nantinya akan menyeret nama besar keluarganya. Masalah kemarin saja belum beres hingga detik ini.
"Aku dengar malam itu kamu-"
"Iya, aku memperkosa seorang gadis gara-gara bajingan itu." potong Aryan mengakui kebenaran. "Jangan bilang kalian berdua juga terlibat dengan masalah ini!" imbuh Aryan dengan tatapan mengintimidasi, dia mematut kedua sahabatnya bergantian.
"Jangan gila, kami tidak tau apa-apa tentang itu." sanggah Rudi.
"Aku juga tidak tau apa-apa." sambung Jeri.
"Tapi malam itu kita hanya berempat, pasti salah satu dari kalian yang menaruh obat itu di minumanku." tekan Aryan.
"Bukan aku Aryan, aku berani bersumpah." Jeri mengangkat tangan dan menautkan telunjuk dengan jari tengahnya.
"Aku juga tidak melakukannya," ucap Rudi dengan yakin.
"Awas saja jika kalian membohongiku, aku tidak akan mengampuni kalian berdua." ancam Aryan dengan tatapan membunuh.
Jeri dan Rudi bergidik ngeri melihat tatapan Aryan, mana mungkin mereka berani berurusan dengan keluarga Airlangga yang dia tau memiliki orang-orang kepercayaan yang mampu menghancurkan masa depan mereka.
Karena tak ada yang bisa dia lakukan, Aryan memilih pergi meninggalkan kantin. Dia menghampiri motor yang ada di parkiran dan berlalu pergi meninggalkan kampus. Dia tidak mood untuk mengikuti kelas yang sebentar lagi akan dimulai.
Sepanjang perjalanan, Aryan nampak kalut dalam pemikiran yang tidak menentu. Jika Boni pergi, itu artinya dia lah yang bertanggung jawab atas semua ini.
Aryan tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu, tega-teganya Boni menjebaknya hingga melakukan kesalahan fatal di malam itu. Otak Aryan seperti ingin meledak memikirkan ini.
Di tempat lain, mobil yang dikendarai Rai baru saja tiba di depan kantor advokat yang sekarang akan menjadi rumah baru untuk Avika.
Gadis itu hendak turun tapi Rai dengan sigap menahan pergelangan tangannya. "Main kabur saja, calon suaminya gak dicium dulu?" seloroh Rai mengulum senyum.
"Baru calon, bukan suami kan? Jadi ciumannya ditahan dulu sampai kita berdua benar-benar sah." jawab Avika santai.
"Kelamaan sayang, ciuman doang apa salahnya sih?" keluh Rai dengan raut masam.
__ADS_1
"Salah dong, awalnya minta cium, habis itu pasti minta yang aneh-aneh." tuduh Avika.
"Kalau aku mau, sudah dari kemarin-kemarin aku lakukan." Rai melepaskan tangan Avika dan membuang muka ke arah kaca depan. "Pergilah, nanti hubungi saja kalau mau pulang. Dan ingat, jangan keluar dari kantor!"
"Ok bos," jawab Avika, lalu membuka pintu dan turun dari mobil. Setelah menutupnya kembali, dia melambaikan tangan. "Dah sayang, mmuach..." seru Avika yang membuat Rai menggertakkan gigi. Lagi-lagi gadis itu berhasil memancing emosinya.
"Sabar Rai, sabar." Rai membatin melihat tingkah Avika yang begitu menggemaskan, lama-lama dia lahap juga gadis itu sebelum waktunya.
Setelah punggung Avika menghilang dari pandangannya, Rai kembali menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya menuju Airlangga Group yang tak jauh dari tempat itu.
Di depan kampus, Aksa mengesap bibir Inara sebelum berpisah dengan istrinya itu. Tentu saja mereka berbeda karena sudah resmi menjadi suami istri.
"Hati-hati sayang, jangan keluar dari gerbang apapun alasannya dan yang paling penting jangan nakal! Ingat, kamu sudah punya suami!" pesan Aksa pada Inara. Aksa memang sedikit posesif karena takut istri cantiknya tergoda dengan pria lain.
"Iya, iya, segitu banget sama istrinya. Lagian siapa juga yang nakal? Satu saja gak habis-habis," seloroh Inara mengulum senyum.
"Makanya dipakai tiap malam," desis Aksa sembari mengedipkan mata.
"Apaan sih, Kak? Mesum banget jadi suami," keluh Inara dengan bibir mengerucut.
"Kenapa memangnya? Apa ada larangan yang mengatakan tidak boleh mesum sama istri sendiri?" Aksa mengernyit menanyakan itu.
"Tidak ada," geleng Inara, lalu mengecup pipi Aksa dan segera turun dari mobil.
Sepuluh menit kemudian, mobil Aksa dan Rai beriringan masuk ke parkiran Airlangga Group. Keduanya turun setelah memarkirkan mobil dan memasuki gedung itu bersamaan.
Sesampainya di lantai tiga, mereka berdua langsung berjalan menuju ruang rapat. Semua klien sudah menunggu termasuk Arhan dan juga Hendru.
Setelah Aksa dan Rai menduduki kursi mereka, seorang juru bicara membuka rapat dan membeberkan data yang baru saja dia terima.
Menurut data yang dia pegang, Airlangga Group mengalami sedikit masalah dan penurunan nilai jual. Beberapa klien protes mempersoalkan masalah Aryan yang berdampak buruk pada perkembangan perusahaan.
Tidak hanya membuat saham anjlok tapi juga membuat para investor meradang. Mereka tidak ingin menanggung kerugian karena masalah pribadi yang dikait-kaitkan dengan pekerjaan.
Beruntung Aksa bisa menjelaskan dan mencari titik tengah untuk memecahkan masalah tersebut.
Sebenarnya dia juga kesal karena masalah ini tidak seharusnya sampai kepada publik. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi dan solusinya hanya mengembalikan nama baik keluarga mereka.
Aksa kemudian meminta seorang staf untuk mengatur konferensi pers dengan beberapa media. Semakin cepat tentunya semakin baik agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut.
__ADS_1
Setelah mencapai kesempatan, rapat ditutup dan semua orang yang berada di ruangan itu saling berjabat tangan. Satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan sehingga tinggal lah Arhan, Hendru, Aksa dan juga Rai.
"Dasar bodoh," umpat Aksa dengan raut kesal.
"Hust... Tidak boleh begitu," selang Arhan.
"Mereka memang bodoh, Pa. Apa-apa dikaitkan dengan masalah keluarga, apa mereka pikir keluarga mereka sudah baik?" geram Aksa.
"Namanya juga musibah, Nak. Siapa yang tau kejadiannya akan seperti ini? Lagian mereka bukannya bodoh, tapi takut mengalami kerugian karena masalah ini." jelas Arhan.
"Makanya besok-besok tidak usah bekerja sama dengan orang-orang seperti itu. Giliran untung pada cengengesan menikmati hasilnya, sekali kena masalah malah kita yang disalahkan." gerutu Aksa.
"Sudahlah, tidak baik mengumpat terus. Kita akan menaikkan popularitas perusahaan secepatnya, ini hanya masalah kecil." timpal Hendru.
"Kecil bagi kita Yah, tapi besar buat mereka yang mata duitan itu." sahut Aksa.
"Makanya mulai hari ini kamu jangan mangkir terus dari kantor, sebentar lagi kamu lah yang akan mengemban tanggung jawab ini." ucap Arhan.
"Badan Aksa cuma satu Pa, masa' semuanya harus Aksa yang ngurusin?" keluhnya.
"Lalu siapa lagi, Nak? Aryan masih kuliah, Avika lebih memilih jadi advokat, Inara ingin jadi dokter, hanya kamu yang bisa Papa andalkan." ucap Arhan.
"Tuh, orangnya ada di sini." tunjuk Aksa ke arah Rai.
Sontak Rai terkejut dengan mata membulat sempurna. "Kok aku sih?" desis Rai.
"Kamu kan calon suaminya Avika, jadi kamu juga punya hak yang sama denganku. Jangan sibuk pacaran terus, sekali-sekali pikirkan juga perusahaan." ketus Aksa menajamkan tatapan.
"Kok sama sih? Meskipun aku menikah dengan Avika, tetap saja aku hanya seorang menantu. Hak dari mana? Lagian aku kan sudah kerja di sini, kurang apa lagi?" tukas Rai.
"Beda dodol, sekarang kau masih asisten pribadiku. Kalau sudah menikah pasti Papa menggeser posisimu." jelas Aksa.
"Memangnya bisa?" Rai mengerutkan kening.
"Ya bisalah, membuatmu berhenti bernafas saja Papa juga bisa." geram Aksa.
"Jangan dong, nikah saja belum masa' mau dibuat berhenti bernafas sih?" keluh Rai.
"Cukup Aksa, Rai, kalian ini bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Bikin pusing saja," timpal Hendru.
__ADS_1
Mendengar itu, Aksa akhirnya diam dan memilih bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan ruangan terburu-buru. Rai pun segera pamit dan berlari menyusul Aksa.
Tiba-tiba Hendru tertawa setelah kepergian mereka berdua. Dia merasa lucu melihat tingkah calon adik dan kakak ipar itu. Tak terbayang betapa gaduhnya keluarga mereka setelah pernikahan mereka semua dilangsungkan. Arhan pun ikut tertawa dibuatnya.