
Di kediaman Airlangga, semua anggota keluarga sudah turun dan berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan pagi.
Termasuk Dara yang semalam tidur di kamar Aina, gadis itu merasa bahagia karena bisa merasakan kasih sayang seorang ibu meski bukan ibu kandungnya sendiri. Setidaknya itu sudah lebih dari cukup, dia tidur dengan nyenyak sembari memeluk wanita yang masih sangat cantik meski diusia yang sudah tidak muda lagi.
"Ma, Avika mana?" tanya Aksa mengerutkan kening.
"Iya ya, Avika mana?" Aina menautkan alis. Semua orang menatap bingung dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"Pagi semuanya," sapa Avika yang tiba-tiba muncul bersama Rai. Semua kepala menoleh padanya dengan mata menatap bingung.
"Dari mana kamu?" tanya Aksa dengan tatapan tajam seperti mata elang. Begitu juga dengan Arhan, nampaknya kian hari putrinya semakin lengket saja dengan Rai.
"Semalam adikmu kabur dari rumah, aku ke sini sengaja mengantarkannya. Kalau begitu aku pamit dulu," jawab Rai jujur. Dia tidak ingin semua orang salah paham padanya.
Saat Rai berbalik, Avika menahan pergelangan tangannya dengan cepat. "Jangan pergi!" ucap Avika dengan tatapan sendu, dia pikir Rai masih marah padanya. Tentu saja reaksi Avika itu menimbulkan tanda tanya besar di benak semua orang yang belum mengetahui apa-apa tentang hubungan mereka.
"Rai, Avika, duduklah!" seru Arhan yang membuat Avika terkejut dan lekas melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Rai.
Rai kembali berbalik dan membungkukkan punggung. "Iya Om," gumamnya.
Setelah keduanya duduk, mereka semua mulai menikmati sarapan yang sudah terhidang di atas meja. Tidak ada yang bersuara, suasana terasa mencekam layaknya kuburan.
Setengah jam kemudian, Arhan meminta semua orang berkumpul di ruang tengah. Ada yang ingin dia bahas mengenai anak-anaknya yang kini sudah dewasa dan menemukan pilihan hidupnya masing-masing.
Arhan tidak ingin ada masalah lagi di dalam keluarganya, dia mulai berkaca pada masa lalunya yang kelam.
Setelah semuanya berpindah ke sofa ruang tengah, Arhan mulai menatap satu persatu anak-anaknya dengan intens. Tidak terkecuali dengan Aksa dan Inara. Meski keduanya sudah resmi menjadi suami istri, Arhan masih merasa punya tanggung jawab terhadap mereka berdua.
"Aksa..." panggil Arhan.
"Iya Pa," jawab Aksa cepat.
"Kamu sudah lama mengenal Rai, bukan?" tanya Arhan dengan tatapan mengintimidasi.
"Iya Pa," angguk Aksa.
"Jadi menurutmu bagaimana? Apa Rai pria yang baik? Atau-"
"Rai pria yang baik, Pa. Selama kami bersama Rai tidak pernah bertingkah aneh, sebab itulah Aksa mempercayai dia." potong Aksa.
Selama tiga tahun bersama, Rai tidak pernah membuatnya marah. Rai juga tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun, sama seperti dia yang hanya sibuk dengan bisnis dan organisasi rahasia yang sekarang sudah mereka tinggalkan.
"Lalu bagaimana pendapatmu tentang hubungan Rai dan Avika?" tanya Arhan lagi. Sontak Rai dan Avika terperanjat, keduanya saling menatap satu sama lain.
"Tergantung mereka berdua Pa, Aksa tidak bisa ikut campur soal itu." jelas Aksa.
__ADS_1
"Arhan, ini maksudnya apa?" timpal Hendru. Sedari tadi dia hanya diam mendengarkan obrolan ayah dan anak itu, tapi kini dia harus ikut bicara. Dia bahkan tidak tau apa-apa mengenai hubungan Avika dan Rai.
"Iya Bang, sebenarnya ada apa?" sambung Nayla yang juga penasaran. Berbeda dengan Aina yang hanya diam, dia sudah sempat mendengar isu tentang hubungan Rai dan putrinya.
Arhan menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan. "Selama ini aku tidak pernah membatasi anak-anak untuk memilih apa yang mereka sukai. Mau jadi apa? Mau berhubungan dengan siapa? Asalkan mereka tau batasan dan bisa menjaga nama baik keluarga." Arhan menghentikan ucapannya sejenak.
"Setelah masalah yang datang bertubi-tubi di keluarga ini, aku khawatir akan ada lagi masalah baru yang menyusul. Mungkin ini salahku, aku pernah buta dalam memilih pasangan hidup sehingga anak-anak lah yang menjadi korban." Seketika mata Arhan berkaca menyesali kebodohannya di masa lalu.
"Dulu Aina yang menjadi korban dari kekejaman manusia iblis itu. Aku hampir saja kehilangan istri dan putriku, setelah itu aku juga hampir kehilangan Aina dan Aryan. Aku pikir setelah bertahun-tahun berlalu semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata aku salah." Setetes cairan bening jatuh di sudut pipi Arhan.
"Kini wanita itu kembali menunjukkan sisi gelapnya. Avika hampir kehilangan masa depan dan Aryan menghancurkan masa depan seorang gadis yang tak berdosa. Aku merasa gagal menjadi orang tua. Apa ini karma atas dosa-dosaku di masa lalu?" lirih Arhan. Dia menundukkan kepala, bahunya bergetar menahan tangisan yang sudah tidak bisa dia tahan.
"Bang..." Aina beringsut dari duduknya, dia memeluk kepala Arhan dan menempelkannya di dada. "Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, kita masih bisa memperbaikinya."
"Aina benar, untuk apa menyesali semua itu? Kini kita semua harus bersatu, jangan biarkan wanita itu menang begitu saja! Aku juga menyesal sebenarnya, kenapa tidak aku habisi saja dia waktu itu? Aku pikir hukuman itu akan membuatnya jera, ternyata dia malah semakin menjadi-jadi." timpal Baron.
"Ah, Om dan Papa sama saja. Melarang Papa menyesali semua itu tapi Om sendiri juga begitu. Kalau tidak punya solusi lebih baik diam saja!" selang Aksa.
"Hey anak ingusan, kamu yang diam!" ketus Baron dengan tatapan kesal.
"Sudah, jangan bertengkar! " timpal Hendru.
Sejenak suasana menjadi gaduh, Arhan yang tadinya menangis kini malah tertawa melihat kekonyolan putra sulung dan sahabatnya itu.
"Sudah, sudah. Tidak ada gunanya berdebat." Arhan menjauh dari Aina dan menyeka pipinya dengan kasar.
"Rai..." panggil Arhan.
"Iya Om," sahut Rai mendongakkan kepala. Dia benar-benar gugup saat menyadari tatapan semua orang mengarah padanya.
"Katakan apa yang kamu inginkan!" imbuh Arhan. Dia ingin Rai sendiri yang menyatakan apa yang pria itu inginkan, Arhan tidak mau terkesan mendesak Rai jika dia yang meminta Rai untuk menikahi Avika.
Rai terdiam sejenak sembari memutar lehernya menghadap Avika, tapi gadis itu sama sekali tidak melihatnya. Avika hanya diam sembari memainkan jari-jarinya.
"A-Aku..." Rai tidak tau harus berkata apa. Jika dia jujur, apa semua orang akan menertawakannya? Dia sadar posisinya yang hanya kacung untuk Aksa. Apa mungkin dia diterima sebagai menantu di keluarga itu?
"Aku apa?" selang Aksa menahan tawa. Hal itu membuat Rai semakin gugup. "Katakan saja, diambil orang baru tau rasa. Nangis tujuh hari tujuh malam," ejek Aksa.
"Kak... Jangan gitu ih," Inara mencubit perut suaminya itu. Aksa hanya tersenyum dan mendekap Inara di lengannya.
"Aku mencintai Avika, Om." dengan susah payah akhirnya ucapan itu lolos juga dari mulut Rai. Avika yang mendengar itu sontak mengukir senyum dengan pipi merona merah, tapi tak berani menatap semua orang.
Anggota keluarga lain yang mendengar itu justru terkejut dengan mata membulat sempurna. Tidak ada yang menyangka bahwa Rai diam-diam menyukai gadis manja keras kepala itu.
"Lalu?" Arhan menyipitkan mata menunggu Rai melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Tentu saja Rai gelagapan dibuatnya. Berkata seperti tadi saja sudah membuat jantungnya hampir copot, apa lagi yang harus dia katakan? Arhan benar-benar menjebaknya dalam situasi menegangkan ini.
"Rai, bicara saja Nak!" seru Aina.
"Iya Rai, apa cinta saja cukup?" sambung Inda.
Rai mengusap wajah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Jika kalian semua merestui, aku ingin menikahi Avika. Aku ingin menjadikan Avika milikku dan menjaganya sebagai istriku, itupun kalau Avika bersedia. Aku tau aku sebenarnya tidak pantas memiliki perasaan ini, aku tidak punya apa-apa. Derajatku tidak sebanding dengan keluarga ini." ungkap Rai apa adanya.
"Kalau Om tidak merestui kalian bagaimana?" goda Arhan mengulum senyum, sontak Avika mendongak dengan mata berkaca.
"Aku akan mundur, aku tidak bisa mengambil anak gadis Om tanpa restu. Om lebih berhak atas putri Om, mungkin kami tidak berjodoh." jawab Rai tegas.
"Rai..." lirih Avika dengan tatapan sendu. Setetes cairan bening jatuh di sudut matanya.
"Maaf Vi, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku tidak ingin kamu menjadi anak durhaka, keluarga adalah segalanya." terang Rai sembari membuang muka. Mana mungkin Rai berani menikahi Avika tanpa restu kedua orang tuanya, Rai lebih memilih mengorbankan perasaannya.
Melihat cara berpikir Rai yang seperti itu, Arhan semakin yakin kalau Rai adalah pria yang tepat untuk putrinya. Arhan percaya Rai mampu membahagiakan Avika dan menjaganya dengan sepenuh hati.
Rai bahkan sudah membuktikannya, dia berhasil membebaskan Avika dari kekejaman Tasya yang hampir saja menghancurkan masa depan putri semata wayangnya itu.
"Pa..." lirih Avika mengalihkan pandangannya ke arah Arhan.
"Kemarilah!" Arhan mengulurkan tangan ke arah Avika. Gadis itu mengangguk lemah dan duduk di atas pangkuan sang papa.
"Apa kamu mencintai Rai?" tanya Arhan sembari mendekap tubuh mungil Avika dengan erat.
"Iya Pa, Avika-"
"Hahaha... Papa merestui kalian." tawa Arhan pecah seketika itu juga.
Avika mengerucutkan bibir, dia merasa dipermainkan oleh papanya sendiri. Begitu juga dengan Rai yang tiba-tiba merasa seluruh tulangnya rontok, Arhan benar-benar berhasil mengujinya.
"Mama juga merestui kalian," timpal Aina. Dia ikut tertawa menyusul Arhan.
"Kalau kalian berdua sudah merestui mereka, kami bisa apa?" sambung Hendru, Nayla pun mengangguk setuju sambil memeluk lengan suaminya itu.
"Ya sudah, berarti tinggal menetapkan harinya. Tidak boleh lama-lama, takut setannya keburu datang." timpal Baron. Dia dan Inda juga setuju.
"Sebenarnya Aksa tidak setuju, tapi mau bagaimana lagi?" Aksa mengulum senyum, Inara kembali mencubit perutnya geram.
"Aww... Sakit sayang," keluh Aksa.
"Jangan egois!" ketus Inara dengan tatapan tajam.
"Hahaha... Iya sayang, Kakak juga setuju." imbuh Aksa.
__ADS_1
Semua orang sontak tertawa bahagia, begitu juga dengan Rai dan Avika yang saling mencuri pandang dengan tatapan tak biasa.
Berbeda dengan Dara dan Aryan yang malah terpaku dalam pemikiran mereka masing-masing.