Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 87.


__ADS_3

"Avika..." seru Aina saat menangkap keberadaan putrinya yang baru turun dari lantai atas.


"Iya Ma," sahut Avika, lalu menghampiri Aina yang tengah memasak di dapur. "Ada apa Ma?" tanya gadis itu.


"Itu, Mama mau minta tolong panggilkan Rai di kamarnya." ucap Aina.


"Rai?" Avika menautkan alis. "Bukannya Rai semalam pergi sama Kak Aksa?" imbuh Avika.


"Mereka sudah pulang. Panggil dulu gih, takutnya dia malah ketiduran." jelas Aina.


"Oh... Lalu bagaimana dengan Aryan Ma? Apa mereka berhasil menemukannya?" tanya Avika penasaran.


"Tidak, nanti saja kita bahas masalah itu. Sekarang waktunya sarapan," elak Aina.


Dia tidak ingin membahas tentang Aryan untuk saat ini, biarkan saja dia menyendiri terlebih dahulu. Aina sudah menyerahkan masalah ini pada Aksa, semoga saja Aksa bisa menyelesaikannya secepat mungkin.


"Ya sudah, Avika ke kamar Rai dulu ya Ma."


Sambil mengulas senyum tipis Avika berbalik dan melenggang menuju kamar Rai. Tentu saja dia sangat senang, setidaknya ada waktu berdua saja bersama pria itu meskipun sebentar.


Sesampainya di depan kamar Rai, Avika sengaja tidak mengetuk pintu. Dia langsung saja menekan kenop dan mendorongnya perlahan.


Seketika manik mata Avika berguling liar menatap setiap sudut kamar tapi tak menemukan batang hidung pria itu. Avika mengayunkan kakinya perlahan lalu memilih duduk di sisi ranjang. Pikirnya mungkin Rai sedang berada di kamar mandi.


Tidak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka. Rai keluar dengan handuk yang melingkar di pinggang sembari menyisir rambut basahnya dengan jari.


Mata Avika membulat melihat itu, Rai benar-benar gagah dan terlihat begitu mempesona. Jantung Avika berdetak kencang menyaksikan penampilan pria yang kini sedang berjuang untuk membuktikan cintanya itu.


"Vi?" Rai mengerutkan kening saat menyadari kehadiran Avika yang tiba-tiba saja sudah ada di kamarnya.


"Ma-Maaf..." Avika tergugu, dia lekas berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Mau kemana?" tanya Rai mengulum senyum. Dia meraih pergelangan tangan Avika, langkah gadis itu langsung terhenti dibuatnya.


Avika memutar leher, tatapan keduanya saling bertemu untuk sesaat.


"Mama memintaku memanggilmu untuk sarapan, takutnya kamu tertidur dalam keadaan perut kosong. Sekarang lepaskan aku, aku harus keluar." pinta Avika sembari menundukkan pandangan. Dia tidak berdaya menatap Rai terlalu lama. Hatinya bak ditusuk-tusuk jarum melihat penampilan Rai yang begitu menggoda.


"Kenapa terburu-buru? Tunggu aku sebentar, kita keluar sama-sama." ucap Rai. Dia mengikis jarak hingga bibirnya nyaris saja menyentuh kening Avika, hembusan nafas Avika terasa hangat menyentuh bagian bawah lehernya.


"Tapi Rai-"


Rai mengangkat dagu Avika, tatapan keduanya kembali bertemu. Avika berusaha membuang pandangannya tapi Rai malah menangkup tangan di pipi Avika.

__ADS_1


"Kenapa menghindar terus? Katanya mau memberiku kesempatan." Rai menilik manik mata Avika dengan tatapan sendu. "Kalau begini, bagaimana caranya untuk membuktikan bahwa aku layak mencintaimu? Atau mungkin-" Rai menjauhkan tangannya dari pipi Avika. "Ya sudah, pergilah!" imbuh Rai sembari melangkah menuju lemari.


"Rai..." panggil Avika.


"Tidak apa-apa Vi, aku mengerti. Pergilah, aku tidak akan mendesak mu lagi!" sahut Rai tanpa melihat Avika. Dia malah sibuk mengacak-acak pakaian yang ada di dalam lemari, lalu membawa satu stel pakaian ke kamar mandi.


Percuma mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin bisa diraih. Ibarat pungguk merindukan bulan, tangan Rai tidak akan sampai untuk meraih Avika. Bagaimana bisa Rai memilikinya?


Setelah mengenakan pakaian, Rai keluar dari kamar mandi dan mendapati Avika yang masih mematung di tempatnya berdiri.


"Kenapa masih di sini?" Rai tersenyum getir mematut wajah manyun Avika.


Avika hanya diam dengan bibir mengerucut.


"Tidak apa-apa, aku tidak marah." Rai mengacak rambut Avika seperti seorang kakak terhadap adiknya. "Tidak perlu merasa bersalah, cinta itu tidak bisa dipaksakan dan cinta juga tidak harus memiliki. Aku bisa mencari gadis lain di luar sana, itu tidak sulit. Sekarang anggap saja aku ini kakakmu, aku pun akan menganggapmu sebagai adikku."


Setelah mengatakan itu, Rai berjalan menuju pintu. Dia hendak keluar untuk sarapan, tapi Avika malah berhamburan memeluknya dari belakang. Sontak langkah Rai terhenti dibuatnya.


"Aku tidak mau," lirih Avika. Dia memeluk perut Rai dengan erat dan membenamkan wajahnya di punggung Rai.


"Tidak mau apa?" Rai mengerutkan kening.


"Yang kamu bilang tadi," sahut Avika dengan bibir mengerucut.


"Rai..." rengek Avika sembari mencubit perut kotak pria yang masih membelakanginya itu.


"Aduh... Sakit Vi," keluh Rai sembari menggeliat, perutnya terasa sedikit panas.


Lalu Rai melepaskan tangan Avika yang membelit perutnya dan berbalik. Tatapan keduanya kembali bertemu, Rai mengulas senyum melihat air muka Avika yang menggemaskan.


Karena Avika hanya diam, Rai pun membuka suara. "Ayo, aku sudah lapar!" Rai hendak berbalik tapi tiba-tiba saja Avika mengalungkan tangan di tengkuknya. Mata Rai terbuka lebar saat Avika mengecup bibirnya.


Seketika jantung Rai berdegup kencang secepat lari maraton, dia tak menyangka Avika berani melakukan ini padanya.


"Vi?" gumam Rai dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Namun Avika tak meresponnya sama sekali. Dia malah melu*mat bibir Rai sembari meremas rambut pria yang mematung di hadapannya itu.


Karena Avika yang memintanya, Rai pun tak mau tinggal diam. Dia membalas luma*tan Avika dengan penuh kelembutan. Keduanya memicingkan mata dan tenggelam di dalam pagutan panas itu.


Avika membuka mulut hingga Rai jadi leluasa memasuki rongga mulutnya. Lidah keduanya saling membelit dengan deru nafas yang kian memburu, bahkan rasa sesak tak mampu menghentikan kegiatan mereka.


"Aku tidak mau jadi adikmu, aku... Mmphh..." Rai melu*matnya lagi dengan rakus.

__ADS_1


Setelah puas menghisap bisa Avika, Rai melepaskan tautan bibir mereka dan mendekap erat tubuh mungil itu. Matanya berkaca saking bahagianya.


"Rai..." ucap Avika sesaat setelah Rai melepaskan pelukannya.


"Sudah, jangan banyak bicara. Aku lapar, Vi. Jangan sampai aku memakan mu!" seloroh Rai sembari mencubit dagu Avika.


"Apaan sih? Jangan aneh-aneh," ketus Avika mengulum senyum.


"Tapi kamu mau kan?" goda Rai mengedipkan mata.


"Rai..." Avika menggertakkan gigi, matanya menyala tajam yang membuat nyali Rai langsung menciut.


"Hehe... Canda kok Vi, tapi kalau kamu mau... Aww..." Rai meringis saat cubitan Avika kembali menempel di perutnya. Lalu Rai mengecup pipi Avika saking gemasnya.


"Cukup Rai, ayo keluar!" Avika mendorong wajah Rai dan berjalan meninggalkan kamar. Rai menyusulnya sembari mengulum senyum.


Sesampainya di meja makan semua mata tertuju pada keduanya, kecuali Aksa dan Inara yang masih tidur di kamar mereka.


"Kenapa lama sekali?" tanya Aina dengan tatapan mengintimidasi.


"I-Itu Ma..." Avika tergugu, dia tidak tau harus menjawab apa.


"Maaf Tan, tadi Rai ketiduran. Jadi tidak dengar saat Avika mengetuk pintu," timpal Rai yang sengaja ingin menyelamatkan Avika dari serangan Aina.


"Oh... Ya sudah, duduk dan makanlah!" sahut Aina.


Avika menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan. Beruntung Rai dengan cepat memberikan alibi hingga Aina tak lagi bertanya. Bisa tamat dia jika Aina mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


Lalu keduanya duduk dan menyantap makanan yang sudah terhidang di atas meja. Rai terus saja menatap Avika meski mulutnya sedang dipenuhi dengan makanan.


Sayang Rai tidak menyadari bahwa Arhan sedari tadi tak berhenti memperhatikan dirinya. Aina bisa saja terkecoh dengan ucapannya, tapi tidak dengan Arhan.


Seorang pemain lama sudah jelas tau bagaimana gerak gerik seseorang yang mencurigakan, apalagi Aksa pernah mengatakan bahwa Rai mencintai Avika. Bukan tidak mungkin mereka berdua sudah menjalin hubungan tanpa sepengetahuan dirinya.


"Rai, setelah sarapan temui Om di kolam renang!" seru Arhan. Dia meninggalkan meja makan terlebih dahulu setelah selesai menyantap makanannya.


Rai mengangguk lemah, lalu dia dan Avika saling memandang dengan bahasa isyarat.


Rai memutar manik mata sembari mengangkat bahu, Avika menautkan alis dengan bibir mengerucut.


Apa mungkin Arhan sudah tau tentang hubungan mereka? Rai mulai khawatir, dia takut Arhan tidak bisa menerima ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2