Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 114.


__ADS_3

Sesaat setelah mendengar ucapan Rai, hati Avika tiba-tiba mencelos. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi di bawah tadi. Tidak seharusnya dia marah-marah, apalagi di depan Inara. Pasti suaminya merasa dipermalukan.


Lalu Avika turun dari perut Rai dan berbaring di sampingnya, Avika memiringkan badan dan menatap mata suaminya itu dengan intens. Jelas ada keraguan di mata Rai saat membalas tatapannya.


"Maafkan aku-"


"Tidak Kak," Avika menempelkan jemarinya di bibir Rai, sontak ucapan Rai terhenti. "Aku yang salah, aku yang harusnya minta maaf. Tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti tadi." sesal Avika dengan mata berkaca.


Setelah melihat bagaimana intimnya hubungan Aksa dan Inara tadi, Avika mulai berpikir bahwa ada yang salah dengan dirinya. Benar kata Aksa, mereka pengantin baru, harusnya masih hot, tapi yang terjadi justru sebaliknya.


"Bukan Vi, kamu tidak pernah salah." Rai menangkup tangan di pipi Avika dan mengelusnya lembut. "Sudah, tidak usah dipikirkan. Sekarang istirahat saja, aku ke bawah sebentar." imbuh Rai sembari menjauhkan tangannya dari pipi Avika, lalu menurunkan kakinya dari kasur.


"Jangan pergi!" pinta Avika yang dengan cepat menahan pergelangan tangan Rai, kemudian memeluknya dari belakang.


"Vi, aku tidak akan kemana-mana. Aku cuma ingin duduk di bawah," terang Rai. Dia mengusap lengan Avika, dia sama sekali tidak menyalahkan istrinya itu.


Apa yang mau disalahkan? Avika mungkin masih belum sadar siapa dia sekarang, pernikahan ini terlalu mendadak sehingga Avika tidak tau cara menyesuaikan diri dengan statusnya yang baru.


Lalu Avika melepaskan tangannya yang melingkar di perut Rai, dia berpindah dan duduk di atas pangkuan Rai dan mengalungkan tangan di tengkuk suaminya itu.


"Aku siap Rai, aku mau melakukannya." bisik Avika tepat di telinga Rai. Deru nafasnya memburu yang membuat darah Rai berdesis, jantungnya berdegup kencang tak karuan. "Ayo Rai, jadikan aku istrimu seutuhnya!" imbuh Avika, lalu mengecup leher Rai dan menggigitnya. Saking kuatnya gigitan Avika, Rai sampai menahan nafas. Li*bidonya memuncak dan membuat batang berurat miliknya berdiri tegak, terlebih saat Avika menggesekkan bokongnya. Rasanya seperti mendapat sengatan tajam yang mematikan.


"Vi..." gumam Rai dengan nafas tercekat di tenggorokan.


"Ayo sayang, aku menginginkanmu!" de*sah Avika dengan suara yang nyaris tak terdengar. Itu membuat Rai semakin tak berdaya, kali ini dia tidak bisa menahan lagi.


Dengan cepat Rai membanting tubuh mungil Avika ke kasur, dia mengukungnya dan menahan tangan Avika di permukaan kasur. Melihat air muka Rai yang aneh, pipi Avika tiba-tiba bersemu merah, dia mengulum senyum.


"Mmphh..."

__ADS_1


Tak ingin menunggu lagi, Rai lekas mengesap bibir Avika, melu*matnya rakus seperti seekor serigala yang haus akan darah. Avika dengan leluasa mengimbangi permainan Rai, decapan keduanya bersenandung seiring desir angin yang berhembus di sore ini.


Puas menghisap sari pati istrinya, Rai turun mencium setiap inci leher Avika, menghujaninya dengan jilatan menggairahkan dan menggigitnya sesekali.


"Aaagh..." de*sah Avika menggeliatkan tubuhnya. Ini benar-benar nikmat, matanya terpejam seraya menggigit bibir yang kian basah.


Terlebih saat Rai menyingkap dua gundukan kenyal miliknya yang hanya tertutup bra, hasil remasan tangan Rai membuat Avika kehilangan kewarasan. Hampir seluruh bulu roma nya berdiri seperti kulit ayam.


Hisapan dan gigitan kecil yang dilakukan Rai di puncak dadanya semakin membuat Avika mabuk kepayang. Dia tak hentinya mende*sah dengan tubuh meliuk-liuk menikmati rasa yang entah.


"Aaakh..." jerit Avika. Entah kapan Rai turun, yang jelas Avika merasa intinya tiba-tiba basah setelah lidah Rai menguasai kelopak berwarna pink muda miliknya. Kaki Avika gemetaran dengan manik mata yang mendadak hilang, dia meremas rambut Rai sekuat yang dia bisa, deru nafasnya kian memburu.


Melihat ekspresi Avika yang begitu menggairahkan, garis bibir Rai melengkung menggambarkan sebuah senyuman yang membuat penasaran.


"Kenapa Vi?" tanya Rai seraya menghentikan aksinya sejenak, dia mematut wajah polos Avika dengan senyum nakal.


"Lagi sayang, aku suka ini." gumam Avika dengan suara yang nyaris tak terdengar. Tentu saja Rai senang karena Avika menyukai permainannya.


Saat Avika tak lagi berdaya, Rai lekas menyudahi kegilaannya. Dalam waktu beberapa detik saja tubuh Rai sudah polos, pakaiannya terbang entah kemana.


"Deg!"


Avika membelalakkan mata saat menangkap penampakan tongkat berurat Rai yang sudah menegang. Tubuh Rai yang proporsional seimbang dengan adiknya yang besar dan panjang.


Pertanyaannya apakah tubuh kecil Avika kuat menerima itu. Rasanya tidak, Avika menelan ludahnya dengan susah payah.


"Boleh aku lakukan sekarang?" tanya Rai meminta izin.


Sontak Avika mengangguk. "Hmm... Tapi pelan-pelan ya, itu kebesaran." jawab Avika dengan polosnya.

__ADS_1


Seketika Rai menyemburkan tawanya, bisa-bisanya Avika membuat lelucon disaat-saat seperti ini.


Setelah Rai memposisikan diri, Avika menggigit bibir. Baru bersentuhan saja rasanya sudah menggelikan, bagaimana kalau sudah masuk?


"Aww... Sakit," rengek Avika saat Rai berupaya memasukinya.


Rai mengerutkan kening, dia mengalami kesulitan karena milik Avika seperti terhalang sesuatu.


Kemudian Rai mencobanya lagi.


"Aaakh..." jerit Avika sembari meremas sprei yang dia tiduri.


Ini sangat menyakitkan, air mata Avika mengalir begitu saja.


"Maaf Vi, aku tidak bermaksud menyakitimu." Rai menyapu pipi Avika dengan jemarinya, lalu mengecup keningnya dengan sayang. Dia rasanya tidak tega melanjutkan ini.


Tapi Avika tidak ingin berhenti di tengah jalan seperti ini, dia memintanya lagi dan akan menahannya jika sakit.


Setelah berjibaku mengalihkan perhatian Avika, akhirnya Rai berhasil menekan tongkatnya sampai dalam. Jeritan Avika lenyap di dalam mulut Rai yang sedari tadi tak henti melu*mat bibirnya.


"Maaf..." lirih Rai setelah melepaskan tautan bibir mereka, lalu mengecup kening, hidung dan dagu Avika bergiliran.


Kini tak ada lagi yang menghalangi penyatuan mereka berdua. Rai sudah bisa keluar masuk dengan leluasa. Jerit Avika tadi berganti dengan de*sahan tiada henti.


Lagi-lagi rasa panas menghinggapi, keringat bercucuran di tubuh keduanya seiring gerakan Rai yang kian cepat mengikuti deru nafas yang semakin memburu.


Setelah satu jam lebih, Rai mengerang mengikuti jeritan Avika yang tengah mencapai pelepasan yang entah ke berapa kali. Kakinya bergetar dengan tubuh menggeliat.


Sementara Rai sendiri langsung terbaring di samping Avika setelah mencabut tongkatnya yang mulai menyusut. Benihnya berenang di dalam diri Avika yang kini tengah mengatur pernafasan.

__ADS_1


Rai memiringkan badan dan memeluk tubuh Avika yang tak sanggup lagi untuk bergerak. Mata istrinya terpejam dengan nafas yang berangsur normal.


Sedangkan di kamar sebelah hal serupa juga terjadi diantara Aksa dan Inara. Hanya saja pertempuran dua insan itu didominasi oleh Inara, dia yang menguasai permainan karena pergerakan Aksa sangat terbatas.


__ADS_2