Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 40.


__ADS_3

"Aku masih hidup?" gumam Inara. Dia membuka mata perlahan dan mendapati Aksa yang sudah berdiri di hadapannya. Sementara di kakinya sudah tergeletak sebujur bangkai yang sudah tak bernyawa.


"Aaaaaa..."


Inara menjerit histeris dan berhamburan ke dalam pelukan Aksa, lalu memeluknya dengan erat. "Kak Aksa..." gumam Inara, sekujur tubuhnya bergetar mengguncang tubuh Aksa.


"Lepaskan aku, tidak usah peluk-peluk!" Aksa mendorong pundak Inara, tapi gadis itu malah mempererat pelukannya.


"Jangan lepaskan! Aku takut," lirih Inara.


"Tidak perlu takut, mereka semua sudah mati. Ayo, cepat lepaskan aku!" ucap Aksa sedingin es di kutub utara.


"Tidak mau, aku mau begini saja." geleng Inara. Dia menempelkan bibirnya di leher Aksa.


Aksa menghela nafas berat. "Jangan menyiksaku Inara, aku sedang berjuang melupakanmu. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau aku tidak boleh mencintaimu, jadi jangan menyulitkan ku!" geram Aksa.


Aksa melepas paksa pelukan Inara dari tubuhnya, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan rumah itu. Inara pun menyusulnya di belakang.


"Kak Aksa, tunggu!" seru Inara mempercepat langkahnya.


Dengan gigi menggertak kesal, Aksa masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku sebelah kemudi. Inara pun ikut masuk dan duduk di bangku penumpang.


Sementara itu, Rai masih celingak celinguk keheranan melihat pertengkaran kecil yang terjadi diantara dua sejoli itu.


"Hadeh, cinta memang aneh." gumam Rai. Dia menepuk jidat dan menyusul masuk ke dalam mobil, lalu melesat pergi meninggalkan kawasan itu.


Sepanjang perjalanan pulang, tidak satupun dari mereka yang berbicara. Hening seperti kuburan.


Apalagi Aksa yang masih setia dalam mode dingin. Sesekali dia meringis saat menyentuh sudut bibirnya.


"Kak Aksa, kamu terluka?" Inara memajukan bokongnya dan menempelkan bagian depan tubuhnya pada jok yang diduduki Aksa.


"Rai... Kita ke villa saja, lebih dekat dari sini. Aku mau mengobati lukaku, kalau dilihat Mama bisa repot nanti." seru Aksa tanpa mempedulikan Inara. Dia bersandar pada sandaran jok, hembusan nafasnya terdengar berat.


"Kak..."


"Diam, atau aku turunkan di sini! Kamu mau diculik lagi?" kesal Aksa meninggikan suara.


"Ti-Tidak Kak, jangan!" lirih Inara. Dia segera mundur dan bersandar dengan bibir mengerucut.


Setengah jam berlalu mobil yang dikendarai Rai masuk ke gerbang villa. Aksa turun lebih dulu dan melangkah cepat memasuki villa.

__ADS_1


"Kak Aksa, tunggu!" pekik Inara, lalu berlari mengejar Aksa.


Di dalam sana Aksa menemui Pak Joko yang tengah berada di dapur menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.


"Malam Pak," sapa Aksa.


"Eh, ada Tuan muda Aksa. Maaf Bapak tidak-"


"Tidak apa-apa, Bapak lanjut saja. Nanti tolong bawakan kotak P3K sama es batu ya Pak, aku tunggu di kamar!" ucap Aksa.


Pak Joko membulatkan mata saat menyadari ada luka di bibir Aksa. "Tuan terluka?"


Aksa pun tersenyum menanggapinya. "Hanya luka kecil kok Pak, tidak masalah."


"Oh... Ya sudah kalau begitu, nanti Bapak siapkan."


Setelah mengatakan itu, Aksa berjalan menuju anak tangga tapi seketika langkahnya terhenti saat Inara menghadangnya.


"Kak Aksa, aku obati ya. Lukamu pasti sakit," ucap Inara.


"Tidak perlu, luka ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan luka yang aku rasakan di sini." Aksa menunjuk dadanya.


Inara menautkan alis. "Tapi Kak-"


Inara mencebik sambil menatap punggung Aksa yang semakin menjauh darinya. Dia pikir Aksa membantunya karena sudah memaafkannya, tapi ternyata dia salah.


Saat Inara hendak melangkah, Pak Joko datang membawa kotak P3K dan baskom kecil berisi es batu.


"Eh, ada Non Inara juga." sapa Pak Joko.


"Iya Pak, Pak Joko mau ke kamar Kak Aksa ya?" tanya Inara saat menyadari bawaan yang ada di tangan pria baruh baya itu.


"Iya, tadi Tuan Aksa memintanya. Apa yang terjadi? Kenapa Tuan Aksa bisa terluka?" Pak Joko balik bertanya.


"Tidak apa-apa Pak, hanya insiden kecil saja. Sini, biar aku saja yang membawanya ke kamar Kak Aksa!" Inara mengambil alih kotak P3K dan baskom itu dari tangan Pak Joko, lalu melangkah menaiki anak tangga.


Sesampainya di depan pintu kamar Aksa, Inara mengetuk pintu lebih dulu. Karena tidak ada jawaban, Inara pun memutuskan untuk masuk dan menaruh bawaannya di meja sofa. Inara kemudian duduk menunggu Aksa yang masih berada di kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, Aksa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang. Seketika Aksa terlonjak melihat Inara yang tengah duduk sembari menekuk wajah.


Tanpa pikir Aksa langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Astaga, hampir saja." batin Aksa sambil mengusap dada. Detak jantungnya mendadak kacau, beruntung Inara tidak sempat melihatnya.


"Kak Aksa, lama banget sih. Aku membawakan obat untukmu, sini aku bantu obati." teriak Inara yang sudah lelah menunggu Aksa.


"Keluar dari kamarku! Apa kau sudah gila? Masuk sembarangan ke kamar pria yang tidak ada hubungan apa-apa denganmu." oceh Aksa memperkeras volume suaranya.


"Siapa bilang tidak ada? Kamu kakakku, aku bisa masuk ke kamar ini kapanpun aku mau." sorak Inara.


"Oh, jadi begitu menurutmu." Aksa menyeringai. "Aku keluar sekarang ya, tapi jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi diantara kita. Aku tidak memakai apa-apa, bahkan handuk pun tidak." goda Aksa mengulum senyum.


"Hah?" Inara menyipitkan mata.


"Aku hitung sampai tiga. Jika dalam hitungan ketiga kamu masih ada di kamar ini, maka kita berdua akan melakukannya. Lagian saat ini juniorku sedang berdiri, aku ingin sekali memakan mu."


"Braaak!"


Belum sempat Aksa menghitung, Inara sudah menghilang lebih dulu dan membanting pintu dengan kasar.


"Hahahaha... Aksa tertawa puas sampai terpingkal-pingkal.


"Dasar gadis bodoh!" Kepala Aksa keluar dari balik pintu, manik matanya bergerak liar memperhatikan setiap sudut kamar. Setelah memastikan bahwa Inara sudah tidak ada, Aksa membuka pintu dengan lebar dan melangkah dengan santai.


"Aku memang ingin sekali memakan mu, tapi bukan dengan cara seperti ini." gumam Aksa tersenyum puas.


Di kamar sebelah, Inara menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Garis bibirnya terangkat sedikit menyiratkan kekesalan yang memuncak hingga ubun-ubun.


Enteng sekali Aksa bicara kotor seperti tadi pada dirinya. Apa kakaknya itu tidak punya malu?


Tidak tidak, bukan tidak punya malu tapi tidak ada otak.


Kakak mana yang berani bicara seperti itu pada adiknya?


Hanya Aksa, hanya dia yang berani bicara sembarangan tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Dasar gila!" umpat Inara, tanpa disengaja seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.


Inara memang kesal, tapi dia juga merasa lucu dengan tingkah Aksa.


"Kenapa aku harus lari?" Inara menyipitkan mata. "Harusnya aku diam saja di sana, pengen lihat bagaimana bentuknya."


Inara terkekeh ketika pikiran kotor itu menjalar di otaknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2