Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 97.


__ADS_3

Setelah membahas mengenai kelanjutan hubungan Avika dan Rai, kini Arhan beralih menatap Dara, gadis yang sedari tadi hanya diam dalam lamunannya. Jangankan berucap, menatap mata salah satu dari mereka saja dia tidak sanggup.


Sadar akan tatapan Arhan yang tak biasa pada Dara, semua orang ikut memutar manik mata mereka pada gadis malang itu. Entah apa yang tengah dipikirkannya saat ini?


"Dara..." panggil Arhan.


Gadis itu tak menyahut, hanya raganya saja yang berada di tempat itu tapi pikirannya tengah melayang jauh entah kemana.


"Dara..." Arhan memanggilnya lagi, gadis itu masih saja diam tanpa menyahut.


Lalu Aina beringsut dari duduknya, dia melingkarkan tangan di lengan gadis itu. "Dara..." ucapnya. Sontak gadis itu terperanjat, lamunannya buyar seketika.


"I-Iya..." gadis itu terbata dan mendongakkan kepala menatap Aina.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Aina mencari tau.


Dara hanya menggeleng tanpa berucap sepatah kata pun.


"Dara, kamu dengar Papa kan?" Arhan menyipitkan mata, mencoba berinteraksi dengan gadis itu.


Dara mengangguk cepat dan melirik Arhan sejenak, sedetik kemudian dia menunduk kembali dan memainkan jari-jari mungilnya untuk menetralisir rasa takut yang bersemayam di hatinya.


Arhan mengusap wajah dan menghela nafas berat, dia tau persis apa yang dirasakan gadis itu saat ini. Begitu juga dengan Aina, dia lebih paham karena pernah berada di posisi yang sama.


"Lihat Mama, Nak!" seru Aina sembari menyentuh dagu Dara dan mengangkatnya. Seketika manik mata keduanya bertemu pandang.


"Ma, Dara boleh ke atas gak?" gumamnya.


Aina menghela nafas dan menarik Dara ke dekapan dadanya.


"Tunggu Papa ngomong dulu ya, setelah itu Mama antar ke atas." ucap Aina sembari membelai rambut panjang gadis itu.


Dara hanya diam dengan mata memicing, dia memeluk Aina dengan erat.

__ADS_1


Sadar akan kondisi Dara yang belum bisa menyesuaikan diri dengan keluarganya, Arhan urung melanjutkan niatnya. Dia tidak ingin Dara tertekan, sebisa mungkin Dara harus nyaman dulu berada diantara mereka.


"Pergilah, nanti saja kita bahas!" seru Arhan yang dijawab anggukan kepala oleh Aina.


Karena sudah mendapatkan izin, Aina bangkit dari duduknya dan membawa Dara ke lantai dua.


Sesampainya di kamar, Aina membantu Dara berbaring di atas kasur lalu menyelimutinya. Setelah itu Aina ikut berbaring dengan posisi miring. Dia terus saja membelai rambut Dara seperti Avika waktu kecil, sesekali Aina mengecup keningnya.


Perlakuan lembut Aina itu sontak membuat Dara terbuai dengan mata memicing. Dia baru tau bagaimana rasanya memiliki seorang ibu yang kaya akan kasih sayang dan belaian hangat.


Selama ini Dara tidak pernah mendapatkan kasih sayang seperti yang Aina berikan, siapa ibunya dan bagaimana rupanya saja dia tidak tau.


Kadang-kadang dia sempat berpikir bahwa dia adalah anak haram, hasil hubungan gelap kedua orang tuanya yang sengaja dibuang untuk menutup malu.


Jika tidak, bagaimana mungkin dia bisa diasingkan dan dilarang keras bergaul dengan masyarakat luas?


Dia juga tidak tau kenapa para penjahat itu selalu mengintai gerak geriknya? Siapa mereka dan siapa wanita yang waktu itu memintanya menjadi umpan untuk menjebak Aryan? Ada hubungan apa dia dengan orang-orang itu?


Aina tau betul bagaimana rasanya hidup sendirian tanpa sosok keluarga, Aina juga tau bagaimana sakitnya kehilangan sesuatu yang seharusnya dijaga oleh seorang gadis seperti Dara.


Aina sudah lebih dulu mengecap asam garam kehidupan yang memang tidak adil untuk orang-orang seperti mereka. Beruntung Aina bisa melewati ujian itu, dia juga ingin Dara membuka lembaran baru dan menerima Aryan sebagai suaminya.


Tidak lama setelah Dara terlelap di pelukan Aina, Arhan datang bersama Aryan. Keduanya mendekati mereka dan duduk di sisi ranjang. Segera Aina beringsut dan melepaskan Dara dari dekapannya.


"Kasihan sekali dia," lirih Arhan dengan mata berkaca.


"Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi." sahut Aina. Keduanya bicara dengan nada pelan agar Dara tidak terusik.


Lalu Aina dan Arhan mengajak Aryan duduk di balkon. Keduanya ingin Aryan memperbaiki kesalahan yang sudah dia lakukan pada gadis itu.


Sebagai orang tua, mereka ingin Aryan menjadi sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Terlepas salah atau tidak, Aryan sudah mengambil paksa kesucian gadis itu.


"Ma, Pa, Aryan akan menepati janji yang sudah Aryan buat. Aryan akan menikahi Dara, Aryan akan bertanggung jawab." tegasnya penuh keyakinan.

__ADS_1


"Bertanggung jawab saja tidak cukup Aryan. Papa ingin kamu benar-benar menerimanya di hidupmu dan juga di hatimu." tekan Arhan.


"Aryan sudah menerimanya Pa, Aryan mencintai dia. Dia gadis yang unik, tidak sama dengan gadis yang pernah Aryan pacari sebelumnya." jelas Aryan.


Seketika mata Aina menyipit, dia masih ragu dengan ucapan Aryan. Bagaimana mungkin putra bungsunya itu memiliki cinta untuk Dara? Bukankah mereka tidak saling mengenal sebelumnya?


Lalu Aryan menjelaskan semua yang terjadi sesaat setelah kabur dari rumah. Seminggu ini dia tinggal bersama Dara dan dia menyukai apa saja yang ada di diri gadis itu.


Tidak hanya cantik tapi Dara memiliki sisi lain yang tidak bisa dia temukan di diri gadis lain di luar sana. Dara memiliki hati yang lembut, dia istimewa di mata Aryan.


Meski tidak pernah terbersit di pikirannya untuk menikah muda, tapi Aryan siap mengemban tanggung jawab itu. Dia siap menerima Dara di dalam hidupnya maupun di dalam hatinya.


Setelah cukup lama berbicara dari hati ke hati, Aina dan Arhan meninggalkan balkon dan keluar dari kamar.


Aryan yang tinggal sendiri memilih masuk ke kamar dan duduk di sisi ranjang. Dia mematut wajah polos Dara yang tiba-tiba saja membuat darahnya berdesir. Jantungnya berdegup kencang tak menentu.


Meski malam itu Aryan tidak bisa melihat jelas wajah Dara, tapi dia bisa merasakan kehadiran gadis itu.


Aryan benar-benar sudah terjerat dalam belenggu cinta yang menggerogoti hatinya. Dia berjanji akan mengganti rasa sakit itu dengan kebahagiaan yang tidak ada habisnya. Dia akan menjadikan Dara ratu di dalam hidupnya.


Lalu Aryan memilih berbaring di samping Dara, dia merentangkan tangan dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya.


"Bagaimana Ma, Pa?" tanya Aksa sesaat setelah Aina dan Arhan tiba di lantai satu. Kening Aksa mengernyit menanyakan itu.


"Ya begitulah, mungkin Dara masih trauma. Dia juga belum bisa menyesuaikan diri dengan keluarga kita." jawab Aina, lalu menekuk kaki di sofa.


"Biarkan saja dia tenang terlebih dahulu, Papa tidak ingin mendesaknya untuk segera menikah dengan Aryan. Takutnya dia malah berpikir untuk kabur," timpal Arhan.


"Mungkin lebih baik begitu, tapi yang Aksa bingung..." Aksa menghentikan ucapannya sejenak. "Gadis ini sepertinya sudah lama disiapkan untuk menghancurkan keluarga kita. Kemarin saat Aksa menemukan mereka, dia memohon agar Aksa tidak menyakiti Aryan dan meminta Aksa membawanya saja. Dia pikir Aksa penjahat itu, dia sampai menangis dan mengatakan bahwa dialah sasaran wanita iblis itu sebenarnya. Aksa penasaran, siapa gadis ini sebenarnya?"


"Tidak penting siapa dia, yang jelas sekarang dia adalah bagian dari keluarga kita. Papa minta kepada semua anggota keluarga yang ada di rumah ini untuk memperlakukannya dengan baik. Kata Aryan gadis itu sebatang kara dan tidak pernah bergaul dengan orang lain. Dia tinggal di sebuah gubuk dan bertahan hidup dengan memanfaatkan apa saja yang ada di sekelilingnya. Skenario hidupnya sudah disetting oleh iblis betina itu."


Mendadak semua orang bergeming mendengar penjelasan Arhan barusan. Miris sekali nasib gadis itu, sudah tidak punya keluarga, diasingkan dan sekarang harus kehilangan kesuciannya.

__ADS_1


__ADS_2