Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 74.


__ADS_3

Di dalam perjalanan, Rai masih asik mengotak atik layar iPhone miliknya sembari terus mengendalikan stir mobil. Setelah cukup lama, akhirnya dia bisa melacak tempat persembunyian para bajingan yang telah berani membawa Avika.


Dengan tangan mengepal erat dan rahang mengerat kuat, Rai mempercepat laju mobilnya. Dia harus segera tiba di sana sebelum sesuatu yang buruk menimpa Avika.


Tak lupa pula Rai mengirim share lok pada Aksa agar lekas menyusulnya. Rai takut dia tidak sanggup menghadapi mereka semua, jika mereka banyak bagaimana? Bukannya Rai takut mati, tapi dia takut tidak bisa menyelamatkan Avika.


"Aksa, Inara, kalian pulang?" sambut Aina ketika melihat kedatangan anak dan menantunya.


"Sayang, tolong sembunyikan masalah ini dari Mama. Jangan sampai ada yang tau!" bisik Aksa saat berjalan beriringan dengan Inara.


"Iya Kak, aku tidak akan buka mulut. Kakak hati-hati ya!" pesan Inara. Dia takut suaminya kenapa-napa.


"Jangan khawatir, suamimu ini bukan pria yang lemah!" Aksa mengurai senyum dan mengecup dahi Inara.


"Ma, Aksa titip Inara bentar ya. Aksa ada keperluan mendesak, Inara takut di apartemen sendirian." ucap Aksa setelah tiba di hadapan semua orang.


"Keperluan mendesak apa?" tanya Arhan penasaran.


"Orang tua tidak boleh tau, ini urusan anak muda." sahut Aksa enteng, lalu mengedipkan mata pada Baron.


Baron yang tengah duduk langsung mengerti maksud Aksa. Dia meninggalkan ruang tengah terlebih dahulu dan menunggu Aksa di dekat mobil.


Arhan yang melihat itupun ikut mengerti, tapi dia terpaksa memilih diam. Dia tidak mungkin menanyakan itu di depan Aina, lagian sudah ada Baron yang bergerak bersama Aksa. Arhan yakin apapun masalahnya, mereka berdua pasti bisa menyelesaikannya.


"Sayang, kamu di rumah dulu ya sama Mama dan yang lainnya. Kakak pergi dulu," ucap Aksa pada Inara.


"Iya, Kakak hati-hati ya." sahut Inara.


Setelah berpamitan, Aksa dengan cepat meninggalkan rumah. Dia langsung masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Baron.


"Avika diculik Om," ucap Aksa sambil menyalakan mesin mobil.


"Pantes dari tadi Avika belum pulang juga." Baron mengerutkan kening. "Apa ada petunjuk?" tanya Baron saat mobil itu sudah melesat pergi meninggalkan gerbang.

__ADS_1


"Belum, tapi tadi Rido yang memberitahu Aksa. Entah kenapa Avika bisa nongkrong di tempat itu?" Aksa sedikit kesal mengingat kebodohan adiknya itu.


"Tidak perlu saling menyalahkan, fokus saja pada pencarian kita! Oh ya, Rai mana? Dari tadi Om tidak melihat dia." tanya Baron.


"Dia sudah bergerak lebih dulu, takut mungkin gadisnya kenapa-kenapa." jawab Aksa enteng.


"Baguslah kalau begitu. Apa itu artinya kamu sudah memberi lampu hijau buat mereka?" Baron bertanya lagi.


"Entahlah, Aksa belum memikirkannya. Yang pasti Aksa tau bagaimana sifat Rai. Dia orang yang baik, Avika pasti bahagia jika bersama dia. Sekarang masalahnya ada di Avika, dia sepertinya tidak tertarik pada Rai." jelas Aksa yang masih fokus mengendarai mobilnya.


"Itu hanya masalah waktu. Kamu seperti tidak tau saja sifat seorang wanita seperti apa. Mereka butuh pembuktian bukan janji-janji semata. Apa bedanya sama Mama, Bunda dan juga Tante? Termasuk istri kesayangan kamu itu." terang Baron.


"Iya juga sih. Ah sudahlah, tidak perlu membahas itu sekarang!" selang Aksa. Dia ingin fokus mencari Avika terlebih dahulu.


"Jadi sekarang mau dimulai dari mana?" tanya Baron.


"Ke klub milik Rido. Eh, tapi tunggu sebentar!" Aksa merogoh kantong celananya, dia ingat tadi ada pesan masuk yang belum sempat dia buka. "Pesan dari Rai, dia mengirim lokasi."


"Bagus, kalau begitu langsung ke sana saja." ucap Baron.


"Apa itu perlu?" Baron mengerutkan kening.


"Tentu saja perlu, biar lain kali mereka berpikir dulu jika mau melakukan sesuatu." jelas Aksa.


"Ya sudah," Sesuai permintaan Aksa, Baron pun segera menghubungi Tobi dan menyuruhnya ke klub malam milik Rido.


Di sana kelima teman Avika sudah diamankan oleh Rido, tidak seorangpun boleh pergi sebelum Aksa datang. Namun pada akhirnya Tobi lah yang harus mengurus mereka.


Di tempat lain, mobil yang dikendarai Rai tiba di pekarangan sebuah gedung tua yang terdeteksi sebagai tempat penyekapan Avika. Rai turun dengan gagahnya sambil mengeluarkan revolver miliknya yang terselip di pinggang celananya.


Dengan sangat berhati-hati, Rai melangkah mencari pintu masuk. Beruntung sekali tidak ada penjagaan di luar sana sehingga Rai bisa masuk dengan leluasa.


"Bawa gadis itu, setubuhi dia sesuka hati kalian!" titah wanita yang tak lain adalah mantan istri Arhan yang dulu pernah mendapat perlakuan yang sama akibat kekejaman seorang Baron.

__ADS_1


"Jangan!" lirih Avika dengan suara yang nyaris menghilang. Dia masih setengah sadar, namun tubuhnya sudah tak bisa dikendalikan. Rasanya benar-benar panas, ada hasrat yang bergejolak di jiwanya.


Dua orang dari pria itu melepaskan ikatan tangan dan kaki Avika, lalu membawanya ke sebuah ruangan. Empat pria lainnya yang sudah teler ikut menyusul dari belakang, begitu juga dengan wanita iblis yang sudah setengah gila itu. Dia akan merekam kejadian tersebut dan mengirimnya kepada Arhan.


"Jangan, aku tidak mau. Tolong lepaskan aku, ini panas sekali." lirih Avika dengan tatapan nanar. Pikirannya mulai kosong sebab pengaruh obat yang dia minum tadi.


Satu persatu pakaian yang melekat di tubuh keenam pria itu mulai lepas dan terbang entah kemana. Salah seorang dari mereka mulai kehilangan kesabaran dan dengan cepat merobek pakaian yang dikenakan Avika.


"Aaaaa..." Avika menjerit kencang, tubuhnya terasa sakit akibat sentakan yang begitu kasar.


"Jangan menjerit sayang, kita akan bersenang-senang. Kami semua akan memuaskan mu malam ini." bisik pria itu. Dia mengukung tubuh Avika dan bersiap melayangkan aksinya di depan kamera yang sudah menyala.


"Aaaaa..." jerit Avika saat pria itu menggigit lehernya.


"Bug!"


Tiba-tiba pria itu terguling di dasar lantai akibat tendangan keras yang dilayangkan Rai di pinggangnya. Semua orang terperanjat, tidak dengan Avika yang hanya diam dengan tatapan sayu. Avika mulai kesulitan menahan diri, nafsunya semakin bergejolak mematikan sistem sarafnya.


"Bug!"


Rai menghajar pria lainnya hingga ikut terseret di lantai. Satu persatu Rai hajar dengan membabi buta. Dia sangat marah melihat keadaan Avika yang begitu memprihatinkan.


"Bajingan, berani sekali kalian melakukan ini pada Avika ku."


"Bug!"


Lagi-lagi Rai bertindak semaunya sendiri. Beruntung para pria itu tidak ada yang kuat untuk melawan akibat tubuh mereka yang sudah diracuni obat perangsang. Sayang wanita iblis itu sudah keburu kabur saat menyadari kedatangan Rai. Bodoh sekali dia karena lupa menambah pengamanan di tempat itu.


Tanpa pikir Rai lekas menembaki kaki dari keenam pria itu secara bergiliran. Jeritan mereka pecah menahan rasa sakit yang sangat menyiksa.


"Dor... Dor... Dor..."


"Dor... Dor... Dor..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2