Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 76.


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Avika?" tanya Aksa dari balik telepon yang terhubung.


"Sudah jauh lebih baik, sekarang dia sedang tidur. Maaf, aku terpaksa membawanya ke apartemen. Tadi keadaannya sangat memprihatinkan, aku tidak mungkin membawanya pulang dalam keadaan seperti itu. Dia dipengaruhi minuman dan obat perangsang, pasti semua orang akan syok melihatnya." jelas Rai.


"Tidak apa-apa, tindakanmu sudah benar. Tapi kau tidak melakukan apa-apa padanya kan?" tanya Aksa.


"Sebenarnya aku ingin sekali, tapi aku tidak mungkin melakukannya. Padahal dia sudah berkali-kali menggodaku," terang Rai.


"Brengsek, jangan macam-macam!" geram Aksa.


"Kalau aku mau, aku bisa saja melakukannya tapi sayang otakku terlalu waras." ungkap Rai.


"Baguslah kalau begitu, awas saja jika kau berani menyentuhnya!" sahut Aksa.


"Tidak akan, aku tau batasanku. Sekarang mau aku antar pulang atau kau yang menjemputnya?" tanya Rai.


"Besok saja, biarkan dia istirahat dulu! Tubuhnya pasti sangat lemah," jawab Aksa.


"Ya sudah, besok pagi aku antar dia pulang. Sekarang aku tidur dulu, aku juga lelah." ucap Rai.


Rai kemudian menutup sambungan telepon itu dan menaruh iPhone miliknya di atas meja. Sekarang posisinya tengah berbaring di atas sofa, dia pun memicingkan mata perlahan.


Tidak lama, Rai benar-benar tertidur dengan pulas. Sedikit dengkuran halus lolos dari mulutnya. Bagaimana tidak, otak dan tenaganya dipaksa bekerja untuk menyelamatkan gadis itu. Beruntung dia datang disaat yang tepat, jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan Avika setelah itu.


Mungkin saja dia akan gila jika sempat digilir oleh sampah masyarakat yang tidak punya hati nurani itu.


Pukul tiga dinihari, mobil yang dikendarai Aksa baru saja masuk ke gerbang kediaman Airlangga. Setelah memarkirkan mobil, Aksa dan Baron turun berbarengan. Aksa masuk ke dalam rumah sementara Baron langsung berjalan menuju paviliun.


"Apa yang terjadi?"


Langkah Aksa seketika terhenti saat suara Arhan tiba-tiba mengagetkannya di dalam kegelapan. Samar-samar Aksa mendapati Arhan yang tengah duduk di sofa.


"Avika diculik Pa," jawab Aksa jujur.

__ADS_1


"Hah? Terjadi hal sebesar itu tapi kamu tidak memberitahukannya sama Papa," geram Arhan.


"Lalu Aksa harus gimana Pa? Mengatakan itu di depan Mama? Papa tidak memikirkan kesehatan Mama jika tau tentang hal itu?" keluh Aksa.


"Bukan begitu, tapi-"


"Avika sudah ditemukan, Rai yang menyelamatkan dia. Sekarang dia sedang tidur di apartemen Rai." potong Aksa.


"Kenapa membiarkan dia menginap di sana? Rai dan Avika bukan-"


"Rai bukan laki-laki bejat Pa. Dia mencintai Avika, tidak mungkin dia merusak gadis yang dia cintai. Lagian apa yang dilakukan Rai itu sudah tepat, dia tidak mungkin membawa Avika pulang dalam keadaan kacau seperti tadi. Papa tau apa yang terjadi dan siapa dalang dari semua ini?" tanya Aksa.


"Mana Papa tau?" Arhan mengangkat bahu.


"Mantan istri Papa, wanita iblis itu. Dulu dia berkali-kali mencelakai Mama, sekarang Avika, besok siapa lagi?" geram Aksa.


"Hah? Bukankah dia sudah mati?" Arhan mengerutkan kening.


Setelah mengatakan itu, Aksa berlalu begitu saja. Dia sudah sangat lelah dan ingin beristirahat. Dia juga rindu dengan istrinya Inara.


Setelah kepergian Aksa, Arhan menyandarkan punggung pada kepala sofa. Dia tak menyangka bahwa iblis betina itu masih hidup sampai detik ini. Jika dia tau wanita itu akan bertindak senekat ini, dia sendiri yang akan menghabisinya waktu itu.


Arhan mengusap wajah dengan kasar kemudian menghela nafas berat. Dia sangat bersyukur Rai berhasil menyelamatkan Avika sebelum kejadian mengerikan itu terjadi kepada putri semata wayangnya.


Di atas sana, Aksa langsung masuk ke kamar Inara yang tidak terkunci tapi tak melihat batang hidung istrinya di sana. Aksa kemudian berjalan ke kamar mandi dan lekas membuka pintu, tetap tidak ada Inara di mana-mana.


Kemana Inara? Bukankah ini masih pukul tiga dinihari? Tidak mungkin Inara sudah turun ke bawah, lagian di bawah sana masih gelap. Hanya ada Arhan yang dia temui tadi.


Lalu Aksa melangkah meninggalkan kamar itu dan berjalan menuju kamarnya. Baru saja membuka pintu, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya. Ternyata wanita yang dia cari memilih tidur di kamarnya. Apa tadi Inara kesulitan memejamkan mata?


Segera Aksa masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Sebelum naik ke kasur, dia memilih membersihkan diri dulu di kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Aksa keluar hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dia segera mengambil celana pendek di dalam lemari dan lekas mengenakannya.

__ADS_1


"Aaaaaaah..."


Aksa menguap dengan mulut terbuka lebar, lalu naik ke kasur dan berbaring di samping Inara. Aksa mengikis jarak dan membelit tubuh mungil istrinya layaknya sebuah guling.


Tiba-tiba Inara tersentak saat merasakan pergerakan di tubuhnya. Inara membuka mata perlahan dan tersenyum saat menangkap wajah Aksa yang begitu dekat dengan dirinya.


"Kak Aksa sudah pulang?" gumam Inara dengan suara serak, lalu memeluk suaminya dan menenggelamkan wajah di dada Aksa.


"Sudah, ayo tidur lagi!" jawab Aksa. Dia kemudian mendekap erat tubuh Inara dan mengecup keningnya.


"Bagaimana keadaan Kak Avika? Apa Kakak berhasil menemukannya?" tanya Inara mengkhawatirkan keadaan Avika.


"Sudah, Kak Avika sekarang di apartemen Rai. Besok mereka akan pulang," jawab Aksa.


"Kenapa Kak Avika malah nginap di sana? Kenapa tidak pulang sama Kakak saja?" tanya Inara lagi.


"Tadi Rai yang menyelamatkan Kak Avika. Kak Avika dalam keadaan tidak sadar di bawah pengaruh obat, sama seperti kamu waktu itu." jelas Aksa.


"Kok bisa? Apa yang mereka lakukan pada Kak Avika?" Inara bertanya lagi.


"Tidak ada, Kak Avika berhasil diselamatkan oleh Rai. Tidak terjadi apa-apa, sekarang tidur lagi!" ucap Aksa sembari mengusap kepala Inara.


"Hmm..."


Inara mempererat pelukannya dan kembali memejamkan mata. Tidak lama dia pun tertidur saat merasakan dekapan tubuh suaminya yang begitu hangat.


Aksa mulai mengantuk, matanya terasa berat saat mengusap rambut Inara. Wajah lelap wanita itu mampu meneduhkan jiwa Aksa yang tadinya sempat memanas dibakar api kemarahan yang begitu besar.


"Manis sekali," gumam Aksa sembari mengelus pipi Inara dengan lembut. Lagi-lagi dia mengecup kening Inara dan membiarkan bibirnya menetap di sana.


Beberapa menit berselang Aksa kembali menguap dan mulai memejamkan mata. Rasa kantuk itu semakin menjadi-jadi dan tak bisa ditahan lagi. Apalagi seharian tadi tubuhnya sudah terlalu lelah berolahraga ranjang bersama Inara.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2