
"Tok Tok Tok!"
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Rai yang tengah berbaring dalam keadaan bertelanjang dada segera bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu.
"Ceklek!"
Pintu terbuka sedikit, mata Rai menyipit menangkap keberadaan Avika yang tengah berdiri di hadapannya.
"Boleh aku masuk?" tanya Avika sedikit gugup dengan jari-jari yang saling meremas satu sama lain.
"Ada apa?" Rai balik bertanya. Manik matanya berguling liar menatap sekelilingnya, suasana tampak sepi karena hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing tapi Avika malah mendatangi Rai ke kamarnya.
"Tidak ada apa-apa, kalau begitu maaf karena sudah mengganggu waktumu. Permisi," Avika merasa canggung dan memilih berbalik. Rasanya tidak pantas seorang gadis sepertinya masuk ke kamar pria asing di jam seperti ini, tapi entah kenapa Avika seperti ditarik untuk menemuinya.
"Tunggu Vi!" Rai meraih pergelangan tangan Avika dan menariknya ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan cepat.
Mata Avika tiba-tiba melebar saat Rai mengunci tubuhnya di setiap sisi lengannya. Tatapan keduanya saling bertemu dengan deru nafas yang kian memburu.
"Rai, lepaskan aku!" lirih Avika dengan tangan dan kaki yang tiba-tiba gemetaran. Dia dengan cepat memutus kontak mata karena tak kuat melihat tatapan Rai yang tidak bisa dia uraikan. Dia juga gelagapan melihat dada bidang Rai yang terpahat begitu sempurna.
"Kenapa minta dilepas? Bukankah kamu sendiri yang datang mencari ku?" Rai tersenyum getir dengan perasaan yang tidak menentu.
Kenapa saat dia ingin menjauh, Avika malah terus mendekatinya? Dan kenapa saat dia mendekat, Avika justru menghindar darinya? Apa ini yang dinamakan memakan buah simalakama?
"Ma-Maaf... Aku... Mmphh..."
Sebelum Avika berhasil menyelesaikan ucapannya, Rai memiringkan kepala dan mengecup bibir Avika. Sadar atau tidak, dia tak lagi memikirkan akibat yang harus dia terima. Mau ditampar seribu kali pun dia siap menghadapinya.
Yang dia tau saat ini adalah Avika ada bersamanya. Dia hanya ingin berbagi rasa yang dia pendam selama ini.
Akan tetapi sepertinya kali ini Avika tidak keberatan dengan aksi yang Rai lakukan, gadis itu malah memejamkan mata dan menerima saja saat Rai melu*mat bibir mungilnya. Avika bahkan membuka mulut yang seakan memberi celah agar Rai bisa masuk semakin dalam.
Bukannya masuk, Rai malah menghentikan aksinya dan menangkup tangan di pipi Avika lalu menempelkan keningnya di dahi gadis itu.
"Kenapa diam saja? Kenapa tidak menamparku seperti yang kamu lakukan waktu itu?" gumam Rai dengan suara serak yang nyaris tak terdengar. "Tampar aku Vi, ayo tampar!" desaknya.
"Rai..." lirih Avika dengan mata berkaca.
"Ayo Vi, tampar aku sebanyak yang kamu mau agar aku sadar bahwa perasaan ini salah. Buat aku mengerti bahwa aku tidak layak mendapatkan hatimu. Sadarkan aku agar tidak berharap banyak padamu!"
"Rai..."
__ADS_1
Avika ingin bicara tapi Rai lagi-lagi memotongnya.
"Aku salah kan, Vi? Aku tidak seharusnya melakukan ini padamu kan? Aku tidak layak mencintaimu kan? Kenapa tidak menjauh saja dari pecundang ini? Kamu pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku, pria yang memiliki derajat yang setara dengan keluarga ini."
"Cukup Rai!" Avika meninggikan suara.
"Tapi yang aku katakan ini benar kan, Vi? Aku-"
"Plaaak!"
Lelah mendengar ocehan Rai yang sedari tadi tidak mau diam, sebuah tamparan keras akhirnya mendarat di pipi pria itu.
Rai tersenyum getir. Dia menurunkan tangan dari pipi Avika dan menjauhkan kening mereka. "Terima kasih," gumamnya sembari berbalik, seketika air mata Rai menetes membasahi pipinya.
Dia tau Avika tidak menginginkannya, tapi kenapa sulit sekali menjauh dan melupakan gadis itu? Semakin Rai mencoba menghindar, justru perasaan itu semakin kuat mengikat hatinya. Apa Rai sudah tidak waras mengharapkan sesuatu yang jelas bukan miliknya?
"Bug Bug Bug!"
Langkah Rai mendadak terhenti saat Avika memukuli punggungnya berulang kali. Avika benar-benar marah dengan mata merah menyala seperti harimau betina yang kelaparan.
"Aww..." rintih Rai menahan rasa sakit.
Dia segera berbalik, sekarang malah dadanya yang dipukuli oleh Avika.
"Bug!"
"Brengsek kamu Rai, aku benci sama kamu." umpat Avika dengan pancaran sinar kemarahan yang begitu besar.
Rai menyipitkan mata. "Kalau aku brengsek, sudah sejak semalam aku perlihatkan padamu." geram Rai dengan gigi menggertak kuat.
"Lalu kenapa tidak kamu lakukan? Bukankah kesempatan itu ada? Kamu bisa memanfaatkan kesempatan itu, tapi kenapa tidak kamu lakukan?" bentak Avika dengan suara lantang, beruntung setiap kamar di rumah itu memiliki alat peredam suara.
"Karena otakku masih berfungsi dengan baik. Aku tidak mungkin merusak gadis yang sangat aku cintai, puas." Rai menjawab dengan suara tak kalah lantang, lalu menyentak tangan Avika hingga terlepas dari genggamannya.
Rai kemudian memijat dahi, kepalanya berasa ingin pecah menghadapi situasi rumit ini. "Sudahlah Avika, sebaiknya kamu keluar saja dari sini. Jangan membuat keributan di tengah malam seperti ini!" Rai menunjuk pintu, sedetik kemudian dia berbalik memunggungi Avika.
"Tidak mau,"
Bukannya keluar, Avika malah berhamburan mendekati punggung Rai dan melingkarkan tangan di pinggang pria itu. "Aku tidak mau keluar," Avika menempelkan pipi di punggung Rai dan mempererat pelukannya.
Rai bergeming dengan saluran nafas yang tiba-tiba menyempit, sesak sekali rasanya seperti diapit dua batu besar.
__ADS_1
Bersusah payah Rai menarik nafas, semakin sesak pula yang dia rasakan.
"Vi... Apa yang kamu lakukan?" ucap Rai dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Kenapa masih bertanya? Tidak lihat aku sedang apa?" ketus Avika. Dia mengulum senyum tanpa terlihat oleh Rai.
"Iya, aku tau. Tapi kenapa kamu memelukku?" Rai mengerutkan kening sembari mencoba melepaskan tangan Avika yang membelit perutnya.
"Entahlah, aku ingin saja. Kenapa memangnya? Tidak boleh?" jawab Avika menahan tawa.
"Ti-Tidak, bukan begitu. Maksudku-"
"Terima kasih untuk apa yang sudah kamu lakukan sebelumnya. Kamu sudah menyelamatkanku dari para bajingan itu, kamu juga sudah menjagaku tanpa memanfaatkan kesempatan itu. Aku berhutang padamu, aku akan memberimu kesempatan untuk masuk ke dalam hatiku."
"Deg!"
Kali ini tidak hanya sesak yang Rai rasakan, tapi jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat. Sekujur tubuhnya tiba-tiba gemetaran dan merinding.
Apa dia sedang bermimpi? Apa yang dikatakan Avika barusan benar adanya? Apa gadis itu benar-benar memberinya kesempatan? Rai belum bisa mencerna kata-kata Avika dengan sempurna.
Lalu Rai berbalik. Avika melepaskan pelukannya dan mengalungkan tangan di tengkuk Rai sembari mengulas senyum.
"Vi... Apa kamu yakin ingin memberiku kesempatan?" Rai mencoba memastikan.
"Iya, tapi cuma sekali. Jika kamu berhasil membuktikan cintamu padaku, aku akan menerimamu. Tapi jika kamu gagal, aku tidak mau melihat wajahmu lagi." jawab Avika enteng.
"I-Iya, aku janji akan membuktikan ketulusan cintaku padamu. Aku juga janji akan menjagamu dari bahaya apapun, nyawaku sendiri yang akan menjadi taruhannya." tegas Rai dengan mata berkaca. Dia tidak tau harus berkata apa lagi saking gugupnya setelah mendapat lampu hijau dari Avika.
"Buktikan, jangan hanya bicara doang!" Avika menajamkan tatapan sembari mengulum senyum.
"Iya, akan ku buktikan. Terima kasih atas kesempatan yang sudah kamu berikan, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
Saking semangatnya, Rai segera mengangkat bokong Avika hingga paha gadis itu melingkar di perutnya. Rai berputar-putar sembari membelit pinggang Avika dengan erat.
"Aaaaa... Rai, aku pusing." teriak Avika. Dia memeluk kepala Rai dengan erat takut tubuhnya terlempar ke lantai.
"Bug!"
Bukannya jatuh ke lantai, tubuh keduanya malah jatuh di atas kasur dengan posisi Rai yang berada di atas tubuh Avika.
Deru nafas keduanya memburu dengan mata saling menatap sendu. Beberapa detik kemudian, Rai menempelkan bibirnya di bibir Avika dan mengecupnya dengan lembut. Avika hanya tersenyum tanpa penolakan sama sekali.
__ADS_1
Bersambung...