
Pagi hari semua orang sudah turun dari kamar masing-masing dan berkumpul di meja makan seperti biasanya. Namun tiba-tiba pandangan Aina tertuju pada bangku kosong yang ada di samping Aryan.
Tidak ada yang tau apa yang terjadi dengan Dara dini hari tadi. Mereka semua juga tidak ada yang melewati tangga, padahal serpihan beling kaca masih berserakan di ujung tangga sana.
"Dara mana Aryan?" tanya Aina menautkan alis. Biasanya Dara selalu turun lebih awal dari yang lainnya, tapi kenapa pagi ini dia belum juga menampakkan batang hidungnya?
Aryan tak menyahut, dia malah diam seperti tak peduli sama sekali.
"Aryan, Mama bertanya sama kamu. Apa kamu tuli?" timpal Arhan meninggikan suara. Dia tidak suka melihat Aryan yang terkesan tidak menghargai Aina sama sekali.
Aryan memutar lehernya ke arah Arhan dan mematut nya dengan tatapan malas. "Aryan tidak tau, Pa. Tadi saat Aryan masuk ke kamar dia sudah tidak ada. Aryan pikir dia sudah turun,"
"Masuk ke kamar?" Airlangga ikut bersuara. "Apa semalam kalian tidak tidur sekamar?" imbuhnya dengan mata menyipit.
"Tidak, Aryan tidur di kamar Kak Aksa." geleng Aryan sembari menundukkan kepala. Dia sibuk mengacak-acak makanan yang ada di piring, selera makannya tiba-tiba hilang ketika semua orang sibuk membahas istrinya.
"Aww..."
Mata yang tadinya tertuju pada Aryan tiba-tiba beralih menatap arah tangga.
"Lola, kamu kenapa?" tanya Nayla yang berada paling dekat dengannya.
"Ada pecahan beling, Nyonya." sahutnya sembari menjauh dari ujung tangga.
"Beling?" Leona mengulangi kata itu, air mukanya mendadak gelisah saat teringat dengan apa yang dia dengar dini hari tadi.
"Pa, apa suara itu yang Mama dengar subuh tadi?" tanyanya pada Airlangga.
"Bisa jadi, mungkin para pelayan itu lupa membersihkannya." jawab Airlangga enteng.
"Lola, sini biar aku obati!" panggil Inda. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki dapur. Setelah mengambil kotak p3k, dia lekas mengobati luka di kaki Lola agar tidak infeksi.
"Aryan, pergi lihat Dara ke kamar!" titah Arhan tegas dan jelas.
"Iya, Pa." angguk Aryan.
Baru saja Aryan bangkit dari duduknya, Andi tiba-tiba berlarian menghampiri mereka semua. Dia memegang pakaian pelayan di tangannya. "Maaf Tuan, Dara tidak ada di kamar." ucapnya dengan nafas tersengal.
__ADS_1
"Apa maksud kamu?" Arhan langsung berdiri dan reflek menggebrak meja, semua orang tersentak kaget dibuatnya.
"Semalam ada yang menyamar jadi pelayan, kami disuguhi minuman yang sudah diberi obat tidur. Dari rekaman CCTV, mereka berhasil membawa Dara. Ini pakaian yang mereka kenakan semalam, mereka membuangnya di dekat gerbang." jelas Andi.
Mendengar itu, tubuh Aryan tiba-tiba merosot di lantai. Penyesalan itu akhirnya datang setelah tau apa yang terjadi dengan istrinya.
"Bodoh, kenapa kamu begitu bodoh jadi orang? Andai saja kamu tidak meninggalkan Dara sendirian, pasti hal ini tidak akan pernah terjadi." Aryan merutuki dirinya sendiri sembari memukuli kepalanya, tangisannya pecah di hadapan semua orang.
"Kamu memang bodoh," geram Aksa dengan tinju mengepal kuat. Andai saja Aryan bukan adiknya, ingin sekali dia menginjaknya sampai mati.
Lalu Aksa menyambar pakaian pelayan yang ada di tangan Andi. Seketika giginya menggertak dengan rahang mengerat kuat. Sebuah guratan tinta membuat manik matanya bergerak ke arah Rai.
Rai yang melihat itu langsung mengerti dan lekas bangkit dari duduknya. Aksa pun melempar pakaian itu ke arahnya.
"Oni-"
"Ikut aku!" potong Aksa menghentikan ucapan Rai. Dia tidak mau Aina tau kelakuan brutalnya di masa lalu.
Seiring langkah Aksa yang tengah berjalan menuju pintu utama, Rai, Andi, dan Baron lekas menyusulnya.
Sementara Arhan sendiri kembali duduk di kursinya, dia tau ada yang tidak beres dari tatapan Aksa pada Rai tadi. Jika dia ikut Aina pasti curiga, lebih baik dia pura-pura tidak tau dan melanjutkan makannya.
"Tidak ada yang salah dengan kita, mereka saja yang tidak suka melihat kebahagiaan kita. Aina tenang dulu ya, Dara pasti baik-baik saja. Baron pasti bisa menemukannya." bujuk Arhan. Dia mengikis jarak dan membawa Aina ke pelukannya.
"Arhan, apa ini kerjaan wanita itu lagi?" tanya Airlangga dengan tatapan mengintimidasi.
"Iya Pa, dua bulan terakhir ini dia kembali datang dan mencoba menyakiti cucu-cucu Papa. Scandal yang terjadi antara Aryan dan Dara juga ulahnya." ungkap Arhan.
"Astaga, apa sih yang ada di otak si Tasya itu? Setelah bertahun-tahun dia tidak kapok juga mengganggu keluarga ini." geram Leona. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan mantan menantunya itu.
"Sudah Ma, sekarang kalian semua tolong bantu doa saja. Biar ini menjadi urusan kami para laki-laki!" kata Arhan.
"Aku sendiri yang akan membunuhnya jika sesuatu terjadi pada istriku," selang Aryan dengan mata merah menyala. Dia bangkit dari lantai dan berlari menyusul Aksa.
"Aryan..." sorak Aina.
"Sssttt... Biarkan saja sayang, biar dia mengerti bagaimana rasanya dijauhkan dari istrinya sendiri. Biar dia tau menjadi suami itu tidaklah gampang." cegat Arhan saat Aina hendak menghentikan Aryan.
__ADS_1
Di luar sana, Aksa menjelaskan siapa Onix kepada Baron dan Andi. Aksa juga meminta Baron menghubungi anak buahnya untuk berjaga-jaga.
"Mereka bukan orang biasa, kali ini kita semua harus lebih berhati-hati. Tangan kosong saja tidak cukup untuk melawan mereka, mereka itu orang-orang terlatih."
"Mereka nampaknya sengaja bekerja sama untuk menghancurkan aku, sasaran utamanya sudah pasti aku. Dara hanya umpan yang mereka susun melalui wanita iblis itu." jelas Aksa.
"Lalu bagaimana cara kita menemukan tempat persembunyiannya?" tanya Baron.
"Tunggu saja Om, mereka pasti menghubungiku sebentar lagi. Sekarang kita masuk dulu, jangan sampai para wanita di dalam sana curiga. Kalau mereka tau, jangan harap kita bisa bergerak. Auto dikurung dalam kamar seminggu penuh, hahaha..."
Aksa tertawa terbahak-bahak, dalam keadaan genting seperti ini dia masih sempat-sempatnya bercanda.
"Astaga, kau ini." geram Rai mendorong pundak Aksa. Tapi setelah dipikir-pikir, ucapan Aksa itu ada benarnya juga. Kalau Avika sampai tau, dia pasti tidak akan mengizinkan Rai pergi mencari Dara. Apalagi mereka berdua belum sempat melakukan malam pertama.
"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Aksa, tapi tiba-tiba langkahnya dihadang oleh Aryan.
"Aku ikut Kak," ucapnya dengan yakin.
"Ikut kemana?" Aksa mengangkat alis.
"Kemana lagi? Tentu saja mencari istriku," kesal Aryan hingga ubun-ubun.
"Siapa yang mencari istrimu? Kami semua mau ke dalam untuk sarapan. Lagian istrimu bukan urusan kami, siapa suruh tidak becus jadi suami? Sekarang menyesal kan, cari sendiri kalau kamu mampu!"
Setelah mengatakan itu, Aksa melenggang masuk dengan entengnya, Rai dan Baron pun menyusul tanpa mempedulikan Aryan. Sementara Andi lekas memanggil Tobi ke paviliun belakang. Sejak Tobi kembali, dia dan istrinya menempati tempat itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Aksa?" tanya Airlangga penasaran.
"Tidak apa-apa, Opa. Mantan menantu Opa berulah lagi," jawab Aksa sesaat setelah duduk di kursinya.
"Kakak yakin?" timpal Inara sedikit curiga.
Saat Aksa menyelang ucapan Rai tadi, Inara ingat dengan kejadian yang pernah menimpanya waktu itu.
Ya, orang-orang itu berasal dari sebuah klan. Inara ingat betul namanya Onix.
"Yakin sayang, ini cuma masalah kecil. Ayo, habiskan makanannya!" Aksa mengulas senyum dan mengusap rambut Inara.
__ADS_1
Terpaksa Inara menurut, dia tidak mau Aina curiga jika dia bertanya terus. Dia yakin Aksa bisa menyelesaikan kemelut ini. Apalagi dia juga tau bahwa suaminya merupakan mantan bos muda sebuah klan besar di kota Seoul.
Dia berharap Dara bisa ditemukan secepatnya dan dalam keadaan baik tanpa kurang satu apapun jua. Dia kasihan dengan gadis itu, sepertinya masalah demi masalah tidak pernah bosan menghinggapi hidupnya.