Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 79.


__ADS_3

"Masuklah ke dalam, lihat hasilnya dan cepat keluar! Om tunggu di sini," ucap Tobi setelah memarkirkan mobil di parkiran gedung advokat.


Avika mengangguk pelan pertanda mengerti maksud ucapan Tobi, apalagi dalam perjalanan tadi Tobi sudah menceritakan bahwa semalam dia sudah menatar kelima teman Avika. Mulai hari ini Tobi melarang mereka mendekati Avika jika tidak ada hal penting yang harus dibicarakan. Sedangkan untuk tiga pria yang membawa Avika semalam, Tobi memberi jatah bogem mentah pada mereka semua. Berani sekali mereka membawa Avika ke tempat seperti itu.


Setelah Avika memasuki gedung, Tobi merebahkan sandaran jok yang dia duduki lalu membaringkan diri sejenak.


Di dalam sana, semua calon advokat sudah berdatangan dan menunggu di depan sebuah ruangan. Dari dalam sana, seorang pria menempelkan secarik kertas dari balik kaca. Semua calon advokat berdesak-desakan menghampiri kaca tersebut untuk melihat apakah ada nama mereka tertera di sana.


Satu persatu dari mereka mulai menjauh saat tak melihat nama mereka tercantum di sana. Avika melangkah menghampiri kerumunan orang, sontak dia berteriak saat namanya tertera pada barisan paling atas. "Yeay... Aku lulus," pekiknya kegirangan.


Tak terbilang betapa bahagianya Avika saat ini. Ternyata usaha dan kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang sangat manis. Akhirnya dia bisa meniti karir sebagai seorang pengacara melalui kemampuan yang dia miliki, bukan karena nama besar keluarganya.


"Avika..." sapa Indah dan Tia yang masih berdiri di sana. Ada guratan kesedihan di wajah keduanya.


Avika memutar leher, "Indah, Tia, bagaimana dengan kalian?" tanyanya.


"Aku juga lulus," sahut Tia.


"Aku tidak," lirih Indah dengan tatapan sendu. "Selamat ya untuk kalian berdua," Indah mengulurkan tangan pada Tia dan Avika secara bergantian.


Avika menyambut uluran tangan Indah sembari mengulas senyum, "Sabar ya, masih ada cara lain. Yang penting jangan menyerah!" ucapnya.


Setelah mengatakan itu Avika berpamitan, dia tidak bisa berlama-lama di sana sesuai janji yang sudah dia buat pada Tobi.


Dia bahkan tidak terlalu peduli saat Indah mencoba membahas kejadian semalam. Avika tidak ingin mendengarnya, dia takut trauma itu kembali menghantui otaknya.


Sesampainya di parkiran, Avika langsung masuk ke mobil. Tobi lekas memperbaiki posisi duduknya dan melesat pergi meninggalkan gedung itu.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Tobi sembari memutar leher ke arah Avika.


"Avika lulus Om, akhirnya Avika bisa jadi pengacara juga." sahut gadis itu sembari mengulas senyum, bahkan dia sempat tertawa saking bahagianya.


"Wah, selamat ya. Keponakan Om memang hebat." Tobi mengulurkan tangan dan mengusap kepala Avika, bagaimanapun Avika sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.

__ADS_1


Dulu Tobi pernah menikah, istrinya sempat mengandung anak perempuan. Akan tetapi takdir berkata lain, istri dan anaknya tidak bisa diselamatkan saat persalinan. Keduanya harus kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Sejak saat itu Tobi memilih sendiri, dia tidak ingin menikah lagi.


...****************...


"Aryan tunggu!" seorang pria berseru saat jam kelas sudah usai. Aryan menahan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.


"Boni, ada apa?" Aryan mengerutkan kening.


"Kenapa buru-buru begitu? Nongkrong dulu yuk, ada yang ingin aku bicarakan." ucap Boni.


"Entahlah, kamu sudah seperti anak perawan saja. Selesai kuliah main pulang, sudah lama kita tidak nongkrong bareng." timpal Jeri.


"Bukan begitu, aku-"


"Alah, tidak usah banyak alasan. Nanti malam ulang tahunnya Boni, kita harus merayakannya. Kapan lagi bersenang-senang?" potong Rudi.


Sebenarnya Aryan ingin pulang secepat mungkin, semalam dia nginap di rumah teman jadi belum sempat bertemu keluarganya setelah dua hari.


Sekarang giliran ingin pulang, ada-ada saja yang mencegahnya. Aryan merasa tidak enak hati menolaknya, mau tidak mau dia terpaksa mengangguk.


Sesampainya di sebuah cafe yang tidak jauh dari kampus, Aryan cs duduk di lantai dua dan memesan makanan untuk teman ngobrol. Mereka semua mulai membahas rencana apa yang ingin mereka lakukan untuk merayakan ulang tahun Boni.


Setelah hampir satu jam berunding akhirnya mereka semua mencapai kesepakatan, mereka menyatukan tangan dan bersorak dengan lantang.


Pukul empat sore, motor Aryan sudah tiba di kediaman Airlangga. Tidak berselang lama mobil Avika juga tiba dan disusul mobil Aksa di belakang.


Setelah melewati drama yang cukup menegangkan, Aksa akhirnya berhasil membujuk Rai untuk ikut pulang ke rumah. Aksa mengancam tidak akan mengirim uang bulanan untuk kedua orang tua Rai jika pria itu masih tetap kekeh dengan pendiriannya.


Ya, sejak tiga tahun terakhir Aksa sudah menjamin kehidupan kedua orang tua Rai. Setiap bulannya dia mentransfer nominal uang yang cukup fantastis demi menjamin kehidupan sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.


Mana mungkin Rai berani berkutik jika hal itu sudah menyangkut mengenai kedua orang tuanya. Apalagi selama ini Aksa tidak hanya menjamin kehidupan keluarganya tapi juga menjamin hidupnya.


Sebenarnya Rai sudah cukup matang dan siap berumah tangga. Siapapun istrinya nanti tidak akan pernah kekurangan karena penghasilan Rai sudah setara dengan penghasilan seorang CEO meski dia hanyalah seorang asisten.

__ADS_1


Tapi bukan itu yang menjadi pertimbangan Rai, asal usul dan derajat keluarga merekalah yang menjadi masalah utama di benak Rai. Dia tidak ingin dicap sebagai benalu dan memanfaatkan keluarga majikannya untuk kepentingannya sendiri.


Saat semuanya turun dari mobil, mereka semua berpapasan. Avika menatap Rai dengan tatapan tak biasa tapi Rai tidak menatapnya sama sekali. Dia memilih mengarahkan pandangan ke tempat lain. Hal itu menyebabkan suasana menjadi canggung.


"Kak Avika... Kakak baik-baik saja kan?" suara Aryan mendadak membuat suasana kembali mencair.


"Tidak apa-apa, memangnya aku kenapa?" jawab Avika dengan pertanyaan pula, dia memutus kontak dari Rai dan beralih menatap Aryan.


"Permisi, aku ke dalam dulu." Rai mengayunkan langkah dan meninggalkan semua orang, sedangkan Tobi sendiri memilih kembali ke paviliun belakang.


Lalu Aksa, Avika dan Aryan menyusul masuk ke dalam rumah. Mereka bertiga berjalan beriringan dengan formasi lengkap sesuai usia mereka. Aina yang melihat kedatangan mereka tentu saja sangat bahagia. Sudah lama dia tidak melihat mereka bertiga sedekat dan seakur ini.


"Tumben anak Mama pulang bareng dan seakur ini. Ada angin apa nih?" tanya Aina dengan alis bertautan.


"Pertanyaan Mama kok aneh gitu? Memangnya Mama tidak suka melihat anak Mama seakur ini, mau lihat kami berantem seperti waktu kecil?" jawab Aksa dengan pertanyaan pula. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.


"Bukan begitu juga kali Nak, Mama senang melihat kalian seperti ini. Berasa kembali ke tahun-tahun sebelumnya." Aina mengulas senyum. Aksa mendekat dan memeluknya serta mencium pipi dan keningnya. Avika mengikuti dan disusul oleh Aryan setelahnya.


"Mama saja yang dicium, istrinya tidak?" Inara mengerucutkan bibir dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Hehehehe... Ada yang cemburu rupanya," Aksa tertawa terbahak-bahak dan lekas menghampiri Inara. Tidak hanya memeluk dan mencium pipi serta kening Inara, dia juga mengesap bibir istrinya di depan semua orang.


Tentu saja Inara terperanjat dan membulatkan mata dengan sempurna. Mendadak pipinya bersemu merah saking tak kuat menahan malu.


"Astaga Kak Aksa, mikir dikit kenapa? Kakak tidak kasihan dengan jomblo yang ada di hadapan Kakak ini?" seloroh Aryan menyindir Avika, baginya hal seperti itu sudah biasa.


Aryan adalah satu-satunya gen Arhan yang menuruni sifat sang papa di waktu muda. Aryan tidak akan pernah puas dengan satu wanita, dia bahkan memacari beberapa orang gadis cantik di kampusnya.


Untuk sekedar ciuman bibir seperti itu bukanlah hal yang tabu bagi Aryan. Tapi meskipun begitu, dia tetap tau batasannya. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang menyalahi undang-undang percintaan anak kuliahan.


Aryan memang terkenal playboy di kampus, setiap gadis yang tergila-gila padanya pasti akan dia pacari. Tak peduli para gadis itu akan bertengkar karena memperebutkan dirinya. Sayang dari sekian banyaknya gadis yang dia pacari, belum ada satupun yang menarik perhatiannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2