Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 107.


__ADS_3

Sekitar pukul sebelas malam acara resmi dibubarkan, satu persatu para tamu meninggalkan pesta setelah berpamitan dengan keluarga besar Airlangga yang sudah menjamu mereka dengan sangat baik.


Selepas itu anggota keluarga juga kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat melepas penat setelah seharian disibukkan menjamu tamu penting mereka.


Tiga pasang pengantin baru itu juga meninggalkan lantai satu dan masuk ke kamar masing-masing. Yang tersisa hanyalah para pelayan dari WO yang mulai sibuk membereskan sisa-sisa pesta hari ini.


Aksa memilih tidur di kamar Inara yang sudah dihias layaknya kamar pengantin. Meski sudah basi tapi tetap saja malam ini adalah malam spesial untuk mereka berdua.


Setelah membersihkan diri, Aksa berbaring di samping Inara dan mengendus-endus leher sang istri layaknya anak kucing. Inara sengaja memejamkan mata karena rasa kantuknya yang tidak bisa lagi dia tahan.


"Sayang..." desis Aksa dengan tatapan tak biasa. Melihat tubuh semok Inara yang berbalut lingerie seksi, jiwa kelakiannya meronta seketika itu juga. Panas di tubuhnya menjalar hingga ubun-ubun.


"Ngantuk Kak, besok ya." gumam Inara tanpa membuka mata. Dia memiringkan badan dan menenggelamkan wajah di dada Aksa yang menganga. Hembusan nafasnya yang hangat membuat jantung Aksa berdebar tak menentu, mana bisa dia tidur dalam keadaan seperti ini?


Tak tega menganggu Inara yang benar-benar sudah tertidur di dadanya, terpaksa Aksa meredam keinginannya. Dia pun mengecup kening Inara dan mendekapnya sembari memicingkan mata.


Di kamar sebelah, Avika dan Rai nampak gugup seperti orang yang belum saling mengenal sebelumnya. Entah kenapa perasaan canggung itu mendadak timbul disaat seperti ini?


Setelah Avika membersihkan diri, dia mengenakan lingerie yang sengaja dibelikan Aina untuknya lalu masuk ke dalam selimut sehingga Rai tidak bisa menikmati keindahan tubuh istrinya.


"Dingin ya?" tanya Rai dengan kening mengernyit, lalu berbaring di samping Avika yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


"Hmm..." gumam Avika sembari menahan ujung selimut di lehernya. Tidak hanya dingin, tapi Avika juga gemetaran memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.


"Ya sudah, kalau begitu tidur saja. Aku juga ngantuk," ucap Rai dengan suara bergetar menahan sesuatu.


Meski Rai ingin, tapi dia tidak mau terkesan memaksa. Pikirnya mungkin Avika lelah setelah hampir seharian melayani tamu undangan. Dia pun begitu, tampaknya malam pertama mereka harus ditunda terlebih dahulu. Rai ingin mengumpulkan tenaga ekstra agar tidak cemen di hadapan istri yang baru dinikahinya itu.

__ADS_1


Setelah mengucapkan selamat malam, Rai memeluk Avika dan mencium keningnya lalu memejamkan mata. Begitu juga dengan Avika, hanya beberapa detik saja dia sudah terlelap di dalam dekapan Rai.


Di kamar lain, Aryan dan Dara juga sudah selesai membersihkan diri. Berbeda dengan Aksa dan Rai, Aryan justru memilih tidur di sofa. Dia tidak mau mengganggu Dara, apalagi ketika teringat ucapan istrinya tempo hari.


Meski sebelum mengucap ijab Dara sudah mengatakan bersedia, tetap saja Aryan tau ada keterpaksaan di hati istrinya.


"Aryan..." panggil Dara. Dia yang tadinya sudah berbaring di atas ranjang, kini kembali turun dan berjalan mendekati sofa sembari membawa bantal dan selimut.


"Hmm..." gumam Aryan dengan mata terpejam dan tangan yang terlipat di bawah kepala.


"Tidurlah di kasur, biar aku saja yang tidur di sini." ucap Dara merasa tidak enak hati.


"Tidak perlu, kamu tidur saja di sana. Aku sangat mengantuk," jawab Aryan datar.


"Tapi ini kamar kamu, aku-"


"Bahkan setelah menikah pun, aku tetap saja orang asing di matamu. Kenapa Dara? Segitu hinakah aku?" lirih Aryan, lalu bangkit dari pembaringannya dan berjalan menuju pintu.


"Kamu mau kemana?" seru Dara yang membuat langkah Aryan terhenti, dia berbalik dan kembali menatap wajah istrinya.


"Sudah tiga minggu sejak malam itu terjadi, berarti satu minggu lagi kamu bisa melakukan tes kehamilan. Jika hasilnya negatif, aku akan menuruti keinginanmu. Sampai saat itu tiba, sebaiknya kita pisah kamar saja. Untuk apa kamar pengantin semegah ini jika akhirnya aku akan tetap kehilangan orang yang aku cintai?" lirih Aryan dengan mata berkaca.


Setelah mengatakan itu, Aryan kembali berbalik dan meninggalkan Dara begitu saja. Dia kemudian masuk ke kamar Aksa yang kosong dan memilih tidur di sana.


Sebenarnya Aryan juga tidak ingin seperti ini, tapi ucapan Dara tempo hari masih terngiang-ngiang di kepalanya. Pisah, cerai, hamil, meninggalkan, itu sangat menyakitkan untuknya. Jika ujung-ujungnya mereka harus bercerai, Aryan berharap Dara tidak hamil agar anaknya tidak jadi korban karena keegoisan mereka berdua.


...****************...

__ADS_1


Pukul tiga dini hari, Dara terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya terasa kering tapi tak ada air yang bisa dia minum. Dengan berat hati, Dara terpaksa turun dari ranjang dan berjalan meninggalkan kamar.


Sesampainya di dapur, Dara celingak celinguk menatap sekelilingnya yang gelap dengan penerangan seadanya. Semua orang sudah tidur dan para pelayan sudah pada pulang setelah membereskan sisa-sisa pesta tadi malam.


Dara bergegas menuangkan air ke dalam gelas. Setelah meneguknya, dia menuangnya lagi dan membawa gelas berisi air putih itu menuju kamar.


Namun siapa sangka ternyata ada pelayan dari WO yang masih stay di sana. Tiga orang pria berpakaian pelayan dengan wajah sangar yang sangat menakutkan.


"Craang!"


"Mmm..."


Tiba-tiba gelas yang ada di tangan Dara terlepas dan hancur menjadi serpihan-serpihan beling kecil.


Mendadak pandangan Dara mengabur, matanya terpejam sesaat setelah seorang pria membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah dituangi obat bius.


"Pa, suara apa itu?" tanya Leona yang tiba-tiba terbangun saat telinganya mendengar suara pecahan kaca. Karena jarak pintu kamarnya tidak terlalu jauh dengan tangga, suara itu terdengar begitu jelas di telinga.


"Mungkin pelayan yang masih membereskan ruangan, biarkan saja Ma. Ayo tidur lagi, Papa ngantuk!" gumam Airlangga dengan mata tertutup rapat.


Sepertinya ucapan Airlangga barusan cukup masuk akal, mungkin mereka tidak sengaja menyenggol piring atau gelas. Begitulah pikir Leona, dia pun kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidur sembari memeluk suaminya.


Sedangkan di luar gerbang sana sebuah mobil sudah menunggu dengan pintu terbuka lebar. Tiga pelayan tadi menggendong Dara memasuki mobil itu dan melepaskan pakaian pelayan yang mereka kenakan, lalu membuangnya tepat di dekat pintu gerbang.


Mereka sengaja melakukan itu untuk meninggalkan jejak agar keluarga Airlangga panik bukan kepalang, terutama Aksa yang menjadi target utama mereka.


Sementara Andi dan Dori yang bertugas menjaga gerbang sudah terkapar setelah meneguk minuman yang disuguhkan pelayan abal-abal itu. Mereka berhasil menyingkirkan tiga pelayan dari WO dan menyamar agar bisa memasuki rumah itu.

__ADS_1


"Ayo jalan!" seru seorang penjahat yang duduk di bangku belakang. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya, kali ini Aksa tidak akan bisa mengelak dari mereka.


__ADS_2