Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 115.


__ADS_3

Tak terasa sudah satu minggu saja Dara dirawat di rumah sakit, hari ini dokter sudah mengizinkannya pulang dan memintanya untuk istirahat total selama proses penyembuhan.


Untuk luka di tubuh Dara memang sudah membaik, memarnya sudah hilang, tapi dia harus memulihkan mental yang sempat drop karena kejadian hari itu. Berbeda dengan Aryan yang masih belum sadarkan diri hingga detik ini.


"Ma, Dara boleh bertemu Aryan kan?" tanyanya pada Aina yang sedang sibuk mengemas barang-barang.


Sebenarnya Aina tidak tega membawa Dara pada Aryan, tapi bagaimanapun juga dia sudah terlanjur berjanji. Mau tidak mau terpaksa Aina menganggukkan kepala.


Aina sadar bahwa Dara juga punya hak untuk mengetahui keadaan suaminya. Aina tidak boleh egois, siapa tau kehadiran Dara bisa membantu Aryan melewati masa-masa sulitnya.


Setelah selesai mengemasi barang-barang, Aina memapah Dara menuju ruangan Aryan yang ada di sebelah. Baru saja pintu terbuka, air mata wanita itu sudah berjatuhan melihat suaminya yang terbaring lemah dengan bantuan alat medis.


"Aryan..." gumam Dara dengan suara yang nyaris tak terdengar, lalu dia berlari menghampiri brankar.


Makin kesini air mata Dara semakin tak bisa dikendalikan, dia menggenggam tangan Aryan dan mengecupnya berulang kali.


"Aryan bangun, kamu kenapa?" lirih Dara terisak, lalu memutar leher ke arah Aina. "Mama bohong, kata Mama Aryan baik-baik saja." isak Dara sesenggukan.


Aina yang mendengar itu dengan cepat menyapu pipinya yang juga ikut basah. "Lalu Mama harus bilang apa, Nak? Kalau Mama bilang yang sebenarnya, apa kamu bisa terima?"


"Tapi tetap saja Mama berbohong," Dara menyeka pipi dan hidungnya yang tiba-tiba mengeluarkan ingus.


"Mama terpaksa sayang, Mama melakukan ini demi kamu. Jika kamu masih lemah, bagaimana bisa kamu mendampingi Aryan? Mama juga tidak punya pilihan, kalian bertiga hampir membuat Mama mati berdiri."


Aina kembali menyapu pipinya. Wajar jika Dara marah karena merasa dibohongi, tapi apa yang bisa Aina lakukan? Dia juga tidak ingin membohongi menantunya itu.


Lalu Aina memilih keluar dari ruangan Aryan, Nayla yang tadinya menunggui Aryan juga ikut keluar meninggalkan sepasang suami istri itu. Biarkan Dara menemani suaminya terlebih dahulu, barangkali kehadirannya bisa menyadarkan Aryan dari komanya.

__ADS_1


Setelah pintu tertutup rapat, Dara duduk di tepi brankar dan mematut Aryan dengan mata sayu seraya menggenggam tangan Aryan erat.


"Aryan... Kamu dengar aku kan? Bangun Aryan, aku mohon!" lirih Dara.


Kembali air mata Dara berjatuhan, dia tidak sanggup melihat Aryan seperti ini. "Aryan bangun, buka matamu! Kamu pembohong, katamu tidak sanggup hidup tanpa aku tapi kenapa kamu diam saja? Apa yang kamu katakan waktu itu tidak benar? Kamu tidak mencintai aku kan?"


Dara tidak bisa mengendalikan emosinya, dia mengguncang lengan Aryan untuk membangunkannya. "Bangun Aryan, tolong buka matamu!" isak Dara berlinangan air mata. Sayangnya Aryan tak bereaksi sama sekali.


"Kalau kamu tidak bangun, aku akan meminta Papa untuk mengurus perceraian kita. Ini sudah satu bulan sejak kejadian malam itu, buktinya aku tidak hamil. Berarti tidak ada gunanya kita bersama,"


Setelah mengatakan itu, Dara berniat turun dari brankar tapi tangannya tidak bisa terlepas dari genggaman Aryan. Sontak mata Dara terbelalak, Aryan meresponnya, itu artinya Aryan menyadari kehadirannya. "Aryan... Kamu menggenggam tanganku?"


Saking semangatnya, Dara spontan berteriak memanggil Aina. Aina dan Nayla yang menunggu di luar langsung terperanjat dan berhamburan memasuki ruangan.


"Dara, apa yang terjadi Nak?" tanya Aina dan Nayla bersamaan, mereka khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Aryan.


"Ma, Bunda, lihat ini!" Dara menunjuk tangannya yang digenggam erat oleh Aryan. "Aryan menggenggam tangan Dara Ma, dia menggenggamnya erat. Dara sudah berusaha menariknya tapi Aryan tidak mau melepaskannya." terang Dara terisak.


Dengan langkah besar, Nayla berjalan meninggalkan ruangan dan berlari menuju ruangan dokter. Setelah menjelaskan apa yang terjadi, dokter itu mengikuti Nayla ke ruangan Aryan.


"Permisi," ucap dokter itu sesaat setelah memasuki ruangan. Aina lantas bergeser tapi tidak dengan Dara. Dia tidak bisa menjauh karena tangannya masih digenggam erat oleh Aryan. Dokter itu sampai geleng-geleng kepala, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Tidak apa-apa, kamu di sana saja." imbuh dokter itu, terpaksa dia memeriksa keadaan Aryan dari sisi sebelah kiri.


Setelah melakukan beberapa metode pemeriksaan, dokter itu menatap Dara sejenak, kemudian beralih menatap Aina dan Nayla bergantian.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Aina harap harap cemas, tentu saja dia berharap dokter itu akan mengatakan kabar baik. Dia tidak tega melihat Aryan terbaring begitu lama.

__ADS_1


"Ini sungguh diluar perkiraan saya, pasien sudah bisa merespon ransangan. Mungkin kehadiran istrinya dapat membantu agar putra Anda bangun secepatnya, kita tunggu saja!" jelas dokter itu.


Seketika mata Dara membulat sempurna, begitu juga dengan Aina dan Nayla. Ternyata kehadiran Dara benar-benar mempengaruhi emosi Aryan sehingga dia bisa mengenali sentuhan yang dilakukan istrinya.


Setelah dokter itu meninggalkan ruangan, Aina dan Nayla lekas menghampiri Aryan. Mereka berdua mengusap pucuk kepala Aryan dan mengecupnya bergantian.


"Ma..." panggil Dara.


"Iya sayang, kenapa Nak?" sahut Aina sembari tersenyum bahagia.


"Dara mau bercerai saja dengan Aryan," ucap Dara yang membuat darah Aina berdesir, dia tak percaya Dara akan mengatakan itu disaat-saat seperti ini. Apa Dara sudah gila? Bukannya membantu agar Aryan cepat bangun, dia justru mengucap kata-kata perceraian.


"Kamu jangan gila Dara, Aryan saja masih koma tapi kamu-" Aina tidak sanggup melanjutkan ucapannya, dia ingin marah dan menampar menantunya yang tidak tau diri itu.


"Ma..." Dara mengedipkan mata, memberi isyarat agar Aina mau mengikuti permainannya.


Nayla lebih dulu mengerti dan menepuk pundak Aina, ibu tiga anak itupun menganggukkan kepala.


"Sebelum kami menikah, kami berdua sudah membuat perjanjian. Jika dalam satu bulan setelah malam itu terjadi Dara tidak hamil, berarti pernikahan kami tidak perlu dilanjutkan. Ini sudah satu bulan Ma, nyatanya Dara tidak hamil. Berarti Dara bisa bercerai dengan Aryan. Mama tolong bilangin sama Papa ya, tolong urus perceraian kami secepatnya! Dara akan pergi dari hidup Aryan." ucap Dara panjang lebar.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau, Mama akan mengatakan ini pada Papa. Tunggu Papa pulang dari kantor sebentar lagi," sahut Aina.


"Aww..." tiba-tiba Dara meringis kesakitan saat tangannya dicengkeram kuat oleh Aryan. Aina dan Nayla tersentak melihat itu, lagi-lagi Aryan bereaksi mendengar ucapan Dara.


"Mama jangan bohong ya, Dara tidak mau punya suami lemah seperti Aryan. Dara mau mencari laki-laki lain saja, laki-laki yang lebih kuat dan bisa menjaga Dara dari orang-orang jahat itu."


Semakin Dara mengatakan tidak menginginkan Aryan, semakin kuat pula Aryan mencengkramnya.

__ADS_1


Aryan memang belum bisa membuka matanya tapi dia bisa mendengar dan merasakan sentuhan. Sekilas sudut matanya mengeluarkan cairan bening yang jatuh tanpa diduga.


Melihat itu, sudut bibir Dara terangkat membentuk sebuah senyuman tipis, begitu juga dengan Aina dan Nayla. Tidak apa-apa memancing emosi Aryan asalkan dia bisa bangun dari komanya.


__ADS_2