Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 69.


__ADS_3

Pagi menjelang siang, sepasang pengantin baru itu bangun dalam keadaan saling berpelukan. Aksa mengecup kening Inara dengan sayang, Inara mengecup dada bidang Aksa dengan lembut. Tidak ada seorangpun yang mau beranjak dari posisi mereka. Sepertinya ada magnet yang menarik tubuh keduanya untuk tetap saling menempel.


Siapa sangka pergulatan semalam mampu membuat sekujur tubuh Inara remuk tak bersisa. Tidak hanya sekali, mereka melakukannya berkali-kali sampai lutut Inara goyah dan tak kuat untuk berdiri. Aksa benar-benar menjadikan malam pertama mereka sebagai ladang menimba pahala, beringas dan sadis. Tangis dan rengekan Inara bahkan tak mampu menyurutkan aksinya.


"Mandi dulu yuk, habis itu kita sarapan! Kakak sudah memesan makanan untuk kita, mungkin sebentar lagi datang." ajak Aksa sembari mengelus pipi Inara.


"Kakak duluan saja, aku masih ngantuk. Capek tau Kak, pinggangku rasanya mau copot." keluh Inara. Dia menyingkirkan tangan dari pinggang Aksa, lalu beralih memeluk bantal guling. Matanya masih berat dan ingin tidur untuk beberapa saat.


"Baru semalam sudah bilang capek. Bagaimana kalau tiap malam, sayang?" seloroh Aksa mengulum senyum dan mencubit hidung Inara.


"Auto jadi duren pasti," jawab Inara enteng.


"Ngomong apa sih, sayang? Tidak boleh bicara seperti itu, kita akan tetap bersama sampai menua nanti." Aksa duduk dan turun dari ranjang, lalu menggendong Inara tanpa persetujuan.


"Aaaaa... Turunkan aku Kak, aku benar-benar capek!" rengek Inara sembari mengalungkan tangan di tengkuk Aksa.


"Jangan dituruti, nanti kebiasaan. Kamu bukan anak gadis lagi, sekarang kamu sudah menjadi Nyonya Aksa." Aksa mengulas senyum dan berjalan memasuki kamar mandi. Dia masuk ke dalam bathtub dan memilih berendam dengan air hangat untuk meregangkan otot-otot yang mulai kaku.


Dia juga memandikan Inara dan mengusap tubuh istrinya, tentu saja ada maksud tersembunyi di dalamnya. Hanya saja Aksa tidak akan memintanya lagi, dia tau Inara sudah tidak bertenaga saat ini.


Selesai mandi Aksa kembali menggendong Inara, mereka berpakaian dan keluar untuk sarapan.


...****************...


Di sebuah apartemen sederhana, nampak seorang pria yang masih tergeletak di atas lantai dengan banyaknya botol minuman kosong yang berserakan di sampingnya. Pria itu tertidur dalam keadaan tengkurap dan hanya mengenakan celana pendek saja.


Semalam dia benar-benar kehilangan kendali. Entah kenapa dia merasa dunia ini tak adil baginya. Kenapa rasa itu harus tumbuh jika tak bisa memiliki? Apa cinta diciptakan hanya untuk orang-orang yang berkuasa saja?


Itu sangat menyakitkan, dia tak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan gadis yang dia inginkan. Dia sudah terlanjur memberikan tempat di hatinya. Kini rasa itu menghancurkan dirinya sendiri.


"Aakhh..."


Pria itu terjaga sembari memegangi kepala yang berputar-putar seperti bianglala.


"Nyenyak tidurnya?" Tiba-tiba suara seseorang menusuk di telinga.

__ADS_1


Pria itu memutar tubuh dan terpaku dengan mata yang nampak sembab. "Om Baron?" Dia pun langsung duduk dengan tatapan nanar.


"Dasar anak bodoh!" Baron menghampiri dan menendangnya hingga tergeletak di lantai.


"Aww..."


"Jika saja kau ini bukan sahabatnya Aksa, sudah aku bunuh manusia pecundang sepertimu sekarang juga." geram Baron dengan tangan mengepal erat.


"Kenapa tidak Om lakukan saja?" tantang Rai sembari bangkit dan bersandar di sisi sofa.


"Jangan menentangku, gunakan otakmu sebelum berbicara!" kesal Baron.


"Sudahlah Om, sebaiknya Om pergi saja dari sini. Aku butuh waktu untuk sendiri," usir Rai. Dia ingin bangkit tapi Baron segera berjongkok dan mencengkram lehernya.


"Pulang denganku sekarang, atau bersiaplah untuk pergi selamanya!" ancam Baron.


"Ya sudah, habisi saja kalau begitu!" jawab Rai enteng tanpa gentar sedikitpun.


"Bug!"


"Sudah ku bilang jangan menentangku! Kau itu hanya anak ingusan yang belum mengerti apa-apa," Seringai tipis melengkung di sudut bibir Baron.


"Om benar, aku tidak mengerti apa-apa. Maka dari itu tinggalkan aku sendiri! Aku akan mengundurkan diri jadi asisten pribadi Aksa, aku akan kembali ke Seoul secepatnya. Lebih baik mati di tangan musuh daripada mati di tangan-" Tiba-tiba ucapan Rai terhenti, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Baron.


"Kenapa diam? Ayo lanjutkan!" timpal Baron.


"Tidak apa-apa, aku hanya asal bicara saja tadi." Rai menundukkan kepala dan mengusap perut yang masih menyisakan rasa nyeri.


"Aku tau apa yang ada di otakmu, aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu dengan mudah. Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak tau apa-apa, aku hanya ingin melihat seberapa serius kau terhadap putriku." Baron tersenyum miring. "Sini, biar aku pukul wajahmu sampai babak belur! Kita lihat bagaimana gadis itu akan terkejut melihatmu nanti."


"Bug!"


Sekali lagi Rai tersungkur di lantai dan mengeluarkan darah segar di sudut bibirnya.


"Aww..." Rai meringis merasakan sakit.

__ADS_1


"Sini, sebelah lagi!" Baron mendudukkan Rai dan memukul wajahnya lagi.


"Bug!"


Rasanya kekuatan Rai benar-benar lenyap detik ini juga. Ini memang bukan kali pertama bagi Rai mendapatkan pukulan seperti itu, tapi rasa yang dia dapatkan dari tangan Baron sungguh luar biasa. Tidak salah Arhan menempatkan pria itu sebagai jantung pertahanan keluarganya.


Hal itu pula yang melekat di diri Aksa selama ini, pukulan pria itu bagai petir yang mampu mengobrak-abrik pertahanan lawan.


"Sudah, jangan dihapus! Biarkan saja seperti itu!" Baron menarik tangan Rai dan membawanya keluar dari unit itu.


Sebenarnya Rai malu tapi apa boleh buat. Biarkan saja orang-orang menatapnya sinis yang penting misi yang dibuat Baron bisa membuahkan hasil.


Hanya bermodalkan celana pendek dia masuk ke dalam mobil Baron, dia duduk di sebelah bangku kemudi lalu mobil itu melesat pergi dalam kendali Baron.


Sebenarnya hal itu juga merupakan ide dari Aksa. Sebelum Baron pulang semalam, Aksa yang memberi petunjuk untuk mencari keberadaan Rai. Aksa juga yang menyuruh Baron membuat sahabatnya itu babak belur biar Rai tau rasa dan sadar telah bermain-main dengan siapa.


Aksa bukan tipikal pria yang mudah percaya pada siapa saja, harusnya Rai bersyukur karena sudah berhasil menjadi tangan kanan Aksa satu-satunya. Tapi entahlah, gara-gara cinta semua jadi lepas kendali seperti ini. Tidak salah orang-orang mengatakan bahwa cinta itu buta dan bisa membuat orang menjadi gila, contohnya Aksa dan Rai sendiri.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, sampailah mobil Baron di depan kediaman Airlangga. Mereka berdua turun bersamaan, kemudian Baron memapah tubuh ringkih Rai memasuki rumah.


"Rai, apa yang terjadi? Baron, kenapa dengan wajah Rai?" seru Aina saat menangkap kedatangan mereka berdua.


"Entahlah, aku barusan menemukannya di pinggir jalan. Sepertinya dia habis dipukuli orang dan berniat mengakhiri hidupnya." jawab Baron asal.


"Deg!"


Avika yang tengah duduk disamping Aina pun terperanjat melihatnya. Apa yang terjadi dengan pria itu? Kemarin dia menghilang begitu saja, sekarang dia pulang dalam keadaan terluka. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Hal itu menjadi tanda tanya besar di benak Avika.


"Aina, tolong suruh Inda membawakan es batu dan kotak p3k ke kamar! Keadaan anak ini tidak baik, dia baru saja mengalami muntah darah. Sepertinya dia akan berakhir," seru Baron menahan tawa, lalu mengantarkan Rai ke kamar.


Sesampainya di kamar, Baron bergegas menutup pintu lalu mendorong Rai ke tempat tidur. "Tuh, berbaring saja sendiri di sana!"


"Pelan-pelan dong Om, aku benar-benar lemah loh ini." ketus Rai dengan muka memucat.


"Jangan cengeng! Masih syukur aku mau membantumu, sekarang pikirkan sendiri bagaimana cara agar Avika bisa simpati sama kamu. Pura-pura mati kek, terserah." Baron tersenyum miring setelah mengatakan itu, lalu meninggalkan kamar Rai begitu saja.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2