Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 54.


__ADS_3

"Turun kalian berdua!" seru Hendru dengan mata melotot tajam.


"Inara tidak mau Yah, Inara mau ikut sama Kak Aksa saja." jawab Inara saat Hendru hampir tiba di dekat motor.


"Ayah bilang turun, jangan sampai Ayah berubah pikiran!" tegas Hendru penuh penekanan.


Tadi sebelum keluar, Hendru sempat bicara dengan Arhan. Arhan mengatakan kalau Hendru terlalu egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Hendru lupa bercermin pada dirinya yang dulu juga tergila-gila pada Nayla.


Bukankah cinta tidak mengenal tempat, lalu apa yang salah jika Aksa mencintai Inara. Toh, mereka tidak punya hubungan darah. Justru akan lebih baik jika Inara menikah dengan Aksa yang sudah jelas putra mereka sendiri.


"Aksa, bawa Inara masuk!" titah Hendru.


"I-Iya Yah," angguk Aksa.


Hendru menggenggam tangan Nayla, mereka berdua masuk lebih dulu ke dalam rumah.


Setelah kedua suami istri itu menghilang dari pandangannya, Aksa turun dari motor dan menggendong Inara di perut.


"Mmuach..." Aksa mengecup pipi Inara dan berputar-putar saking bahagianya.


"Aaaaa... Kak Aksa, awas jatuh!" pekik Inara, dia memeluk leher Aksa dengan erat.


"Hahh... Huftt..." Aksa menghela nafas lega dan membuangnya dengan kasar. "Akhirnya perjuangan ini selesai juga. Sebentar lagi kamu tidak akan bisa lari dari Kakak." ucap Aksa. Dia berhenti berputar dan mengesap bibir Inara dengan lembut.


"Kak Aksa, jangan nakal!" Inara mengerucutkan bibir.


"Calon suami sayang," terang Aksa.


"Kan baru calon, belum tentu juga jadi suami." goda Inara mengulum senyum.


"Loh, kok ngomongnya gitu sih?" Mendadak air muka Aksa berubah gelap, dia menurunkan Inara dari gendongannya dan mundur beberapa langkah.


"Ngambek nih ceritanya?" Inara mengikis jarak dan memeluk pinggang Aksa dengan erat, lalu menempelkan pipi di dada Aksa.


"Sudah, ayo masuk!" ajak Aksa dingin.


"Cium dulu!" pinta Inara dengan manja.


"Apaan sih? Gak ada cium-cium," ketus Aksa.


"Ya sudah, kalau begitu seperti ini saja sampai pagi." Inara mempererat pelukannya, dia tidak mau melepaskan Aksa.


"Astaga, belum apa-apa sudah banyak permintaan." keluh Aksa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Biarin, siapa suruh suka sama aku?" Inara tersenyum dan menutup mulut menahan tawa.


"Pintar ya sekarang, awas saja kalau sudah sah. Kakak bikin nangis tiap malam!" gerutu Aksa.


Inara mendongak, seketika tatapan keduanya saling bertemu. "Nangis keenakan maksudnya?"

__ADS_1


"Ya Tuhan, berilah aku kesabaran menghadapi gadis aneh ini! Huff..." Aksa memicingkan mata barang sejenak, lalu menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. Beruntung urat malu Aksa masih berfungsi dengan baik, jika tidak entah apa yang bisa dia lakukan pada adiknya itu. "Sudahlah, ayo masuk!"


Aksa melepaskan tangan Inara dari pinggangnya, lalu menarik Inara memasuki rumah.


Sesampainya di ruang tengah, mata semua orang tertuju pada mereka berdua. Inara mulai gugup dan memeluk lengan Aksa dengan erat.


"Duduk!" titah Hendru.


Aksa dan Inara mengangguk bersamaan, lalu duduk di sofa kosong tempat Erick dan kedua orang tuanya duduk tadi.


Inara menekuk wajah dan mempererat pelukannya di lengan Aksa.


"Sepertinya akan ada pesta besar nih," seru Arhan mencairkan suasana.


"Makan-makan dong," sambung Baron.


"Kalian berdua diam lah, jangan sampai aku berubah pikiran!" ketus Hendru dengan tatapan tajam seperti mata elang.


"Berubah pikiran saja sendiri. Kalau kau tidak mau menikahkan mereka berdua, biar aku saja yang menggantikan tugasmu. Aku Papa mereka, aku juga punya hak." jawab Arhan enteng.


"Bang, sudah dong!" selang Aina.


"Habisnya kebanyakan drama sih. Setuju ya setuju saja. Kenapa harus ngancam berubah pikiran segala. Mau nunggu mereka khilaf dulu baru memberikan restu? Kan gak seru sayang," Arhan tersenyum miring.


Ternyata dari dulu hingga sekarang sikap Arhan tak pernah berubah sedikitpun. Dia masih orang yang sama yang selalu to the point dalam berucap. Iya iya, tidak tidak, tidak pernah neko-neko.


"Pa, Yah, semuanya. Aksa tidak ingin berbelit-belit. Jika kalian semua merestui hubungan kami, maka siapkan saja tanggal pernikahan sesegera mungkin. Aksa tidak ingin lama-lama seperti ini," ujar Aksa.


"Heh, sudah tidak sabar dia pengen makan daging mentah." seloroh Baron.


"Kak, diam bisa gak!" timpal Inda. Dia membungkam mulut suaminya dengan cepat.


"Bercanda sayang, hehehe..." Baron malah terkekeh dengan sendirinya.


"Tidak lucu," ketus Inda dengan tatapan tajam.


"Ayah merestui kalian, tapi tunggu Inara selesai kuliah dulu!" ucap Hendru.


"Hah?"


Sontak Inara dan Aksa terperanjat mendengar itu, keduanya saling melirik satu sama lain. Tentu saja mereka tidak setuju dengan ucapan Hendru.


"Yah, yang benar saja dong. Itu terlalu lama, Aksa tidak bisa menunggu selama itu." protes Aksa.


"Ya, Inara juga tidak mau. Di kampus banyak kok teman-teman Inara yang sudah pada menikah." Inara mengerucutkan bibir.


Hendru menghela nafas berat dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Lalu kalian maunya bagaimana?"


"Secepatnya," ucap Aksa dan Inara berbarengan.

__ADS_1


"Hahahaha..."


"Kompak banget sih," Arhan tertawa terbahak-bahak. "Sudah Hendru, mereka sudah ngebet pengen nikah. Atur saja secepatnya, jangan sampai mereka berbuat dosa!" tegas Arhan.


"Mas, sudah ya. Ikuti saja kemauan mereka!" timpal Nayla. Dia juga takut Aksa dan Inara salah langkah dan berbuat sesuatu yang menyalahi aturan.


"Ya sudah, terserah kalian saja." Hendru tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menurut.


"Benar Yah?" Inara membulatkan mata dengan lebar.


"Hmm... Iya, mau malam ini juga boleh. Atur saja sama kalian maunya kapan." sahut Hendru yang sudah kehabisan kata-kata.


"Yeay," Inara bersorak kegirangan, dia melepaskan tangannya dari lengan Aksa dan berhamburan ke pelukan Hendru. "Makasih Ayah, Inara sayang sama Ayah." Inara memeluk Hendru dengan erat dan mengecup pipinya dengan lembut.


"Ayah saja yang dipeluk?" Nayla tersenyum kecut.


"Hehehe... Bunda juga," Inara beralih memeluk Nayla dan mencium pipi sang bunda dengan sayang. "Inara sayang sama Bunda."


"Iya, Bunda juga sayang sama kamu. Maafin Bunda ya, tadi pagi Bunda-"


"Tidak apa-apa Bunda, Inara ngerti kok. Bunda pasti takut Inara berbuat salah," potong Inara.


"Bunda takut kamu-"


"Tidak Bunda, kami memang sering tidur bersama, tapi kami belum pernah melakukan itu. Kak Aksa bilang itu untuk malam pertama kita nanti." jelas Inara dengan polosnya.


"Deg!"


Aksa terperanjat kaget.


"Astaga Inara, kamu-" Aksa mengacak rambutnya hingga berantakan.


"Kak Aksa kenapa? Bukankah Kakak sendiri yang bilang begitu?" Inara menautkan alis.


"Iya, tapi tidak perlu dibicarakan di sini juga. Punya malu gak sih?" Aksa mengeratkan rahang.


"Hahahaha..."


"Kalian lucu ya, jadi ingat waktu muda dulu." Arhan mengulum senyum melihat perdebatan kedua anaknya itu.


"Sekarang permasalahannya sudah selesai kan? Kalau begitu kami ke kamar dulu, mau nostalgia malam pertama." Baron bangkit dari duduknya dan menarik Inda meninggalkan rumah besar.


"Kami juga, ayo sayang!" Arhan ikut bangkit dan membawa Aina ke kamar mereka. Dia ingin memberi Hendru waktu untuk bicara dengan Aksa dan Inara.


Kini tinggal Hendru, Nayla, Aksa dan Inara saja di sana. Mereka berempat melanjutkan obrolan dan mulai membahas tentang pernikahan.


Nayla sangsi melihat kedekatan kedua anaknya yang sudah terlalu intim, lebih baik disegerakan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2