Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 49.


__ADS_3

Setelah satu jam berkutat di kamar mandi, Aksa keluar dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya.


Pinggangnya terlilit handuk, tubuhnya menampakkan semua lukisan yang terpahat indah di kulitnya. Rambutnya masih menyisakan tetesan air yang berjatuhan.


Inara yang tengah duduk di sisi ranjang mendadak gelagapan, mau bicara tapi sulit mengeluarkan kata-kata. Dia suka sekali melihat penampilan Aksa yang seperti itu. Seketika semburat merah di pipinya merona.


"Kenapa pipinya merah begitu? Habis ditabok ya?" Aksa mengulum senyum melihat wajah malu-malu gadis yang dia cintai itu.


"Tidak, habis digigit nyamuk barusan." seloroh Inara.


"Mana nyamuknya? Sini Kakak gigit balik, berani sekali dia menyentuh pipi adik kesayangan Kakak." Aksa mendekat dan mengelus pipi Inara.


"Sudah pergi, katanya takut sama Tuan galak." Inara hampir terkekeh, tapi dia dengan cepat membungkam mulut.


"Hehe... Kangen ya sama Tuan galak?" Aksa menyeringai dan menangkup kedua tangannya di pipi Inara. Manik mata keduanya saling memandang dalam-dalam.


"Deg!"


Inara terdiam dengan degup jantung yang berdetak kencang. Tatapan mata Aksa membuatnya meleleh, dadanya berdenyut ngilu hingga menjalar ke sekujur tubuh dan membuat Inara sesak.


"Kenapa? Kok lihatin nya begitu?" goda Aksa sembari mengedipkan sebelah mata.


"Ti-Tidak apa-apa," Inara terbata, jantungnya terasa ingin copot seketika itu juga.


"Bohong, bilang saja suka. Jangan malu-malu kucing gitu!" Aksa meraih tangan Inara dan menempelkan ujung-ujung jari gadis itu di bibirnya, perlahan turun ke leher, dada, perut dan...


Inara memicingkan mata saat tangannya hampir saja menyentuh sebongkah gundukan yang berada di balik handuk yang melingkar di pinggang Aksa.


"Mmuach..." Aksa mendiamkan tangan Inara di perut dan mengecup bibir gadis itu. Inara membuka mata dan memelototi Aksa dengan tajam.


Inara pikir Aksa benar-benar ingin dia menyentuhnya, ternyata gadis itu hanya kena prank. Aksa menahan tawa, dia tau apa yang sedang dipikirkan Inara saat ini.


"Pengen ya?" goda Aksa dengan senyuman nakal.


"Ti-Tidak, apaan sih. Jangan kepedean!" Inara dengan cepat menarik tangannya dan menjauh dari Aksa. Lama-lama dia bisa stres menghadapi sikap konyol kakaknya itu.


"Braaak!"


Inara membanting pintu kamar mandi. Dia berdiri di depan cermin dan mematut pipinya yang sudah seperti kepiting rebus.


"Aaaaaa... Bodoh kamu Inara, apa yang kamu pikirkan?" Inara melompat kesal dan mengacak rambutnya hingga berantakan. Bisa-bisanya dia berpikiran jorok saat Aksa sengaja menjahilinya.

__ADS_1


Di luar sana Aksa tertawa terpingkal-pingkal mengingat ekspresi wajah Inara tadi, sangat lucu dan menggemaskan di matanya. Ingin sekali Aksa memakannya tapi lagi-lagi dia harus bersabar. Dia ingin menyimpan momen itu untuk malam pertama mereka nanti.


Setengah jam kemudian, Inara keluar dari kamar mandi dan mendapati Aksa yang sudah rapi dengan kemeja mocca dan celana jeans hitam yang membalut tubuhnya.


"Mau kemana? Rapi sekali," tanya Inara penasaran.


"Mau pergi makan siang sekaligus kencan sama seorang gadis. Mau ikut?" jawab Aksa enteng.


Seketika air muka Inara berubah gelap. "Tidak, pergi saja!" Inara berjalan menuju balkon dan duduk dengan perasaan hambar.


Dia pikir Aksa benar-benar mencintainya, tapi ucapan tadi membuktikan bahwa Aksa hanya menganggap dirinya sebagai boneka yang bisa dimainkan begitu saja.


Inara menekuk kakinya di atas kursi dan memeluk lututnya dengan erat.


Tiba-tiba saja Aksa memeluknya dari belakang dan mengangkat tubuhnya yang masih ditekuk seperti anak monyet.


"Aaaaa... Kak Aksa, apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku!" Inara menjerit saking kagetnya.


"Hahaha... Jangan merajuk gitu sayang, ayo bersiaplah! Kita akan makan di luar," ucap Aksa sambil membawa Inara ke kamar, lalu mendudukkannya di depan meja rias.


Inara menggembungkan pipi dan menatap tajam Aksa dari pantulan cermin. "Aku tidak mau, pergi saja dengan gadis itu."


"Gadis mana?" Aksa mengulum senyum.


"Hihihi... Cemburu ya?" seloroh Aksa.


"Tidak, untuk apa cemburu?" sanggah Inara.


"Iya, itu cemburu namanya." goda Aksa dengan seringai tipis di bibirnya.


"Tidak, aku tidak cemburu. Pergi saja dengan wanita manapun, aku tidak peduli." Inara membuang wajah dan melipat tangan di dada.


"Kamu yakin?" Aksa mengulum senyum.


"I-Iya," jawab Inara terbata.


"Ya sudah kalau begitu," Aksa berbalik dan menjauh dari Inara, lalu menyemprotkan parfum ke pakaiannya.


Inara mendengus kesal. Bukannya dibujuk, Aksa malah acuh tak acuh padanya.


Dengan mata memerah mengobarkan api yang menyala, Inara meraih benda apa saja yang ada di atas meja hias, lalu melemparkannya ke arah Aksa.

__ADS_1


"Pergi sana, pergi saja jauh-jauh! Bila perlu jangan pernah kembali lagi! Pria brengsek, pembohong, tukang kibul, pengkhianat!" umpat Inara mengeluarkan kemarahan.


"Aww... Ra, berhenti! Apa kamu sudah gila?" Aksa mengelak kesana kemari menghindari barang-barang yang dilemparkan Inara ke arahnya.


"Hiks... Bodohnya aku mempercayai kata-katamu itu. Jika aku hanya sekedar mainan, maka biarkan aku pergi dari sini!" lirih Inara terisak.


Aksa terdiam sejenak, tanpa disengaja benda terakhir yang dilemparkan Inara mengenai bagian sensitif nya.


"Bug!"


"Aww..."


Aksa meringis sambil mengapit kedua pahanya dan menutupnya dengan tangan. Lumayan sakit hingga air mata Aksa langsung menetes begitu saja.


"Astaga Ra, aku bahkan belum pernah menggunakannya sekalipun, tapi kamu sudah ingin membunuhnya lebih dulu." keluh Aksa terduduk lemas di sisi ranjang.


Inara memutar leher dan terperanjat memandangi ekspresi Aksa yang tak biasa.


"Kak..." Inara berhamburan dari duduknya dan berjongkok di kaki Aksa. "Ma-Maaf, aku tidak sengaja."


Karena panik, Inara tidak bisa berpikir dengan jernih. "Coba lihat!"


"Hah?" Aksa tersentak dengan mata melotot tajam.


"Cepat buka! Aku mau lihat," desak Inara. Dia menyingkirkan tangan Aksa yang menutup permukaan benda keramat itu.


"Ra, kamu yakin mau lihat?" Aksa menelan ludah dengan susah payah, dahinya mengeluarkan keringat jagung, bahkan kakinya bergetar hebat dengan jantung berdegup kencang.


Inara tak menyahut saking fokusnya pada inti Aksa, tangannya bergerak membuka kancing celana dan menurunkan resleting Aksa.


"Ughhh..." Aksa memicingkan mata saat tangan Inara tak sengaja menyentuh pusaka miliknya. Benda itu bereaksi dan membesar seketika.


Inara bergeming melihat benda yang dibalut segitiga pengaman itu, matanya membulat dengan sempurna.


"Astaga, apa ini? Besar sekali," Inara bergidik ngeri, bulu kuduknya tiba-tiba meremang.


"Kenapa diam saja? Ayo pegang!" gumam Aksa dengan suara berat menahan hasrat yang sudah membara di dirinya.


"A-Aku-" Inara terbata, dia tidak tau harus melakukan apa.


"Please, sekali ini saja. Kamu membuatku sesak Inara, aku... Ughhh..." Aksa mengerang saat tangan lembut Inara bergerak menyentuh miliknya.

__ADS_1


"Cukup, tidak usah dilanjutkan!" Aksa langsung berdiri dan bergegas mengancingkan celananya kembali. Kalau dibiarkan dia takut lepas kendali dan merusak Inara sebelum waktunya.


Bersambung...


__ADS_2