Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 82.


__ADS_3

Sebelum Aksa memberi perintah, Baron dan Tobi nampak saling melirik lalu memberi isyarat dengan kedipan mata. Mereka sepertinya sudah tau apa yang harus mereka lakukan.


Keduanya meninggalkan kamar terlebih dahulu dan turun ke lobby, lalu meminta seorang satpam untuk mengantar mereka ke ruang monitor.


"Silahkan!" ucap sang satpam sesaat setelah tiba di depan sebuah ruangan.


Baron mengangguk pelan sembari melirik Tobi, pria itu pun lekas berjalan menuju pintu.


Ketika Tobi mendorong pintu dan melangkah masuk, seorang operator terkejut melihat kedatangannya.


"Buka rekaman tadi malam!" perintah Tobi dengan tatapan tegas dan mengintimidasi.


"Maaf, untuk apa Anda meminta rekaman tersebut?" operator itu mengerutkan kening. Tidak sembarangan orang boleh melihat rekaman itu, takutnya ada konspirasi yang akan merugikan hotel.


"Kami merasa dirugikan akan tindakan seseorang, sekarang buka rekamannya!" tegas Tobi.


"Tapi Tuan-"


"Buka, atau aku ledakkan kepalamu ini sampai hancur!" ancam Tobi. Dia merogoh pinggang celana bagian belakang, sebuah revolver keluar dari sana dan diarahkan ke kepala operator itu.


Sontak operator itu terkejut dengan mata terbelalak. "I-Iya, saya akan membukanya." angguk nya gugup.


Tanpa pikir operator itu langsung memainkan jarinya, dia menunjukkan hasil rekaman yang dimulai dari pukul sepuluh malam.


"Stop!" Tobi bersuara saat menangkap rekaman yang mencurigakan. "Ini, perbesar!" titah Tobi ketika menyaksikan seorang gadis yang diseret oleh beberapa orang pria ke dalam sebuah kamar.


"Ya ini, putar lagi!" imbuh Tobi. Operator itu pun mengikutinya.


Setelah kurang lebih satu jam berada di ruangan itu, Tobi keluar selepas mendapatkan salinan rekaman.


"Ayo Bang, kita harus berbagi tugas!" ucap Tobi pada Baron. Keduanya segera meninggalkan tempat itu.


Sembari berjalan menuju lobby, Tobi mengirimkan potongan-potongan rekaman itu ke ponsel Baron. "Aku harus pergi. Abang urus masalah di sini dan aku akan mengurus masalah lain. Ini murni jebakan, entah apa yang akan dilakukan iblis betina itu setelah ini? Sepertinya dia belum jera juga setelah apa yang terjadi sebelumnya."

__ADS_1


"Ja*lang itu lagi?" Baron mengerutkan kening yang dijawab anggukan kepala oleh Tobi. "Kalau begitu lakukan dengan rapi, kabari aku jika ada perkembangan!" kata Baron.


"Siap Bang, Abang tenang saja."


Setelah mengatakan itu, Tobi meninggalkan hotel sedangkan Baron sendiri kembali ke kamar yang ditempati Aryan semalam.


"Bagaimana Om?" tanya Aksa saat mendengar derap langkah kaki pria yang sudah seperti ayahnya itu.


"Murni jebakan, gadis itu hanya korban. Apapun keadaannya, Aryan harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatannya. Om Tobi sedang mencari keberadaan gadis itu." jelas Baron.


"Aksa setuju," angguk Aksa, lalu memutar lehernya ke arah Aryan. "Kamu dengar kan?" imbuh nya.


Aryan terdiam sesaat. Kenapa dia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang bukan berasal dari dirinya?


Namun beberapa detik kemudian Aryan mengangguk lemah. Salah atau tidak, tetap saja dia sudah melakukannya. "Baik, Aryan akan bertanggung jawab." jawabnya.


Mendengar itu, Aksa mengulas senyum tipis. "Bagus, laki-laki sejati tidak boleh lari dari tanggung jawab. Terlepas kamu bersalah atau tidak, kamu sudah mengambil apa yang paling berharga di diri gadis itu. Semoga saja gadis itu tidak trauma."


Breaking News...


"Telah terjadi pelecehan sek*sual yang dilakukan oleh putra dari seorang pengusaha sukses ternama tanah air. Diketahui pria itu adalah anak bungsu dari Arhan Airlangga. Dari sumber yang kami terima, dia telah menjebak seorang gadis yang tak berdosa, sekarang gadis itu harus dirawat di rumah sakit karena kekerasan sek*sual yang dia alami tadi malam. Tim kami masih menelusuri kebenaran dari berita ini. Update terbaru akan kami siarkan satu jam mendatang."


Seorang reporter televisi swasta menyiarkan berita tersebut hingga tersebar ke seluruh penjuru negeri. Saat mempublikasikan berita itu, beberapa foto Aryan dan gadis itu dipajang di layar televisi. Wajah Aryan terpampang jelas dengan bagian inti yang disensor, sedangkan foto gadis itu disensor di bagian inti dan wajah. Tidak ada yang bisa mengenali siapa gadis itu.


"Bang, cepat kemari!" pekik Aina sesaat setelah menyaksikan berita tersebut. Mendadak tubuhnya gemetaran seiring air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Arhan yang mendengar itu langsung berhamburan menghampiri Aina. "Sayang, kenapa teriak-teriak?" tanyanya.


"Bang..." Air mata Aina semakin mengucur deras, dadanya mendadak sesak mengetahui kenyataan pahit itu.


Bagaimana mungkin Aryan sanggup melakukan hal menjijikkan seperti itu? Meski tidak percaya tapi semua bukti jelas mengarah pada putra bungsunya. Aina kesulitan berkata-kata, dia meremas dada yang semakin terasa sesak.


"Aina, ada apa? Jangan membuat Abang takut, ceritakan apa yang terjadi!" Arhan duduk di samping Aina dan mendekapnya dengan erat sembari mengusap lengannya.

__ADS_1


"Aryan Bang, dia-" Aina benar-benar kesulitan menjelaskannya.


"Iya, Aryan kenapa sayang?" Arhan mengusap punggung Aina untuk menenangkannya. "Aina tarik nafas dulu ya, lalu buang perlahan. Ceritakan pelan-pelan sama Abang!"


Setelah mengikuti instruksi dari Arhan, Aina mengatur nafas hingga normal. "Aryan memperkosa seorang gadis, tadi ada breaking news yang menayangkan berita itu. Pria yang ada di foto benar-benar Aryan Bang, Aina kenal betul." jelasnya.


Seketika Arhan tersentak mendengar penjelasan Aina, dadanya ikut sesak. Apa mungkin Aryan berani melakukan itu? Tidak, tidak, Arhan tidak percaya. Selama ini dia sudah berusaha menjadi sosok orang tua yang baik untuk anak-anaknya, dia selalu mengajarkan kebaikan kepada mereka.


Segera Arhan merogoh kantong celana, dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Baron untuk memastikan kebenaran. Setelah sambungan telepon mereka terhubung, Baron mengiyakan kejadian itu dan menyuruh Arhan untuk tenang. Semua sudah bergerak, masalah ini akan diselesaikan secepatnya.


Mendadak iPhone Arhan terlepas dari genggamannya. "Benar sayang, itu memang Aryan. Tapi kenapa?" Arhan mengusap wajah dan menghela nafas berat. Dia merasa gagal menjadi seorang ayah.


"Aryan..." Aina meraung sejadi-jadinya. Tak disangka kejadian seperti dulu terulang lagi pada putra bungsunya. Apa ini karma atas dosa yang pernah dia lakukan di masa lalu?


Dulu Aina hamil setelah menjual diri pada Arhan. Apa gadis itu akan mengalami nasib yang sama? Tidak, gadis itu tidak bersalah. Dia tidak boleh menanggung beban mental ini sendirian. Aina tau persis bagaimana rasanya kehilangan masa depan dan mengandung tanpa seorang suami.


"Bang, cari gadis itu sampai bertemu. Dia tidak boleh menanggung ini sendirian. Dia pasti kesakitan, jiwanya pasti terguncang setelah menghadapi kejadian ini. Apa yang dilakukan Aryan padanya? Kenapa anak itu bisa bertindak sejauh ini?" isak Aina.


"Aina tenang dulu ya, Baron dan Tobi sudah bergerak menyelesaikan masalah ini. Kejadian ini bukan salah Aryan sepenuhnya, dia dijebak." jelas Arhan. Dia mendekap Aina dengan erat dan mengusap kepalanya.


"Tapi tetap saja gadis itu harus menanggung akibat atas kelakuan bejat putra kita. Bagaimana kalau dia tidak kuat menghadapi ini? Bagaimana kalau dia tidak bisa diselamatkan?" lirih Aina.


"Sssttt... jangan bicara seperti itu. Aina harus yakin, semua pasti baik-baik saja." selang Arhan.


Dia juga tidak mau putranya mengalami kejadian seperti ini, tapi nasi sudah menjadi bubur. Arhan berharap Baron dan Tobi bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya. Apalagi sekarang semua orang sudah tau akan kejadian ini, Arhan harus memutar otak untuk mengembalikan nama baik keluarganya. Bagaimanapun ini tidak murni kesalahan putranya, Arhan harus mendapatkan bukti untuk meluruskan kesalahpahaman ini.


Di hotel, para awak media sudah berkumpul di depan bangunan itu. Baron berusaha menjauhkan Aryan dari mereka dan segera masuk ke dalam mobil.


Sementara Aksa sendiri mau tidak mau harus angkat bicara untuk meyakinkan semua orang bahwa kejadian itu murni jebakan dari manusia yang tidak bertanggung jawab.


Setelah menjawab apa yang bisa dia jawab, Aksa pun menjauhi mereka dan masuk ke dalam mobil. Aksa terpaksa membawa Aryan ke apartemen untuk menenangkannya. Dia masih sangat syok dan menggenggam anting gadis itu dengan erat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2