
"Bagaimana keadaan Rai Kak?" tanya Inda saat berpapasan dengan Baron suaminya. Dia memegang wadah berisi es batu dan kotak p3k di masing-masing tangan.
"Entahlah, tinggal menunggu malaikat maut saja menjemputnya." jawab Baron asal, matanya mengarah pada Avika yang nampak sangat gelisah setelah melihat keadaan Rai tadi. Entah kenapa dia merasa tidak tega melihat Rai kesakitan.
"Ya ampun, apa yang terjadi dengan anak itu? Kasihan sekali dia," lirih Inda dengan mata berkaca. Pikirannya jadi tak menentu memikirkan keadaan pria itu. Bagaimanapun dia sudah menganggap Rai seperti putranya sendiri.
Saat Inda hendak melangkahkan kaki, Baron mencegahnya. Dia tidak mau istrinya memberi perhatian lebih pada Rai meski pria itu sudah mereka anggap seperti anak sendiri.
"Aina, kamu saja yang mengobatinya. Aku ada urusan sama Inda sebentar," ucap Baron sambil menahan tangan istrinya.
"Biar aku saja, Om." jawab Avika cepat. Dia lekas berdiri dan mengambil alih wadah serta kotak p3k itu dari tangan Inda, lalu berjalan menuju kamar Rai.
Aina dan Inda saling melirik satu sama lain, keduanya nampak bingung melihat reaksi Avika yang berlebihan. Ada apa dengan gadis itu?
"Biarkan saja, Avika sudah menganggap Rai seperti kakaknya sendiri!" ucap Baron saat menyadari perubahan raut Inda dan Aina.
Sesampainya di depan pintu, Avika mencoba mengatur nafas lalu menekan kenop dan mendorongnya perlahan. "Permisi," ucap Avika dengan suara bergetar, lalu menutup pintu dan melangkah menuju ranjang.
Sadar akan kehadiran Avika, Rai sengaja pura-pura tidur. Avika pun menatapnya dengan perasaan iba.
Avika kemudian menaruh barang bawaannya di atas nakas dan duduk di sisi ranjang.
"Rai..." panggil Avika.
Rai tak menyahut, lebih baik dia berpura-pura mati seperti yang dikatakan Baron tadi. Lagian untuk apa hidup kalau dia tidak bisa memiliki Avika, gadis yang sangat dia cintai.
Ya, sejak hari dimana Rai masuk ke kamar Avika, disitulah hati Rai semakin yakin kalau dia mencintai Avika, bukan hanya sekedar ketertarikan semata. Apalagi dia sudah mencium Avika untuk pertama kali, dia tidak akan berani melakukan itu tanpa alasan yang jelas.
"Rai... Buka matamu, lihat aku! Aku minta maaf atas kejadian kemarin, tidak seharusnya aku menamparmu." lirih Avika dengan tatapan sendu. Ada raut penyesalan di matanya saat menatap wajah Rai.
Sayang Rai hanya diam tanpa berucap sepatah katapun, apalagi membuka mata.
Sebenarnya Rai tidak ingin kembali dalam keadaan seperti ini, dia tidak mau dikasihani. Akan tetapi dia juga tidak bisa menolak ajakan Baron, belum apa-apa saja pria itu sudah membuatnya muntah darah. Bagaimana kalau Rai benar-benar menolak? Tentu saja Rai hanya akan tinggal nama setelah itu.
__ADS_1
Karena tak ada sahutan dari Rai, Avika akhirnya memilih diam lalu mengambil es batu dan menempelkannya di sudut bibir Rai yang terluka.
"Aww..." rintih Rai sembari membuka mata perlahan. Sepertinya pria itu tidak cocok menjadi aktor, belum apa-apa saja dia sudah mengakhiri aktingnya.
"Rai..." Mata Avika mendadak berkaca saat menyaksikan mata Rai yang terbuka.
"Kamu?" Rai mengerutkan kening dengan susah payah, otot wajahnya terasa kaku. "Apa yang kamu lakukan di sini? Keluarlah!" ketus Rai sembari memalingkan pandangan ke arah lain.
"Rai... Biar aku obati dulu lukamu!" Kembali Avika mengompres luka Rai dengan es batu, Rai meringis dan menepis tangan gadis itu.
"Tidak usah sok perhatian begitu, aku tau kamu senang melihatku seperti ini. Pergilah, aku malas melihat mukamu." usir Rai. Dia mengulas senyum mengejek.
"Rai, aku di sini dengan maksud baik. Aku hanya ingin membantu mengobati lukamu. Bukannya berterima kasih, kamu malah mengusirku. Sadar Rai, ini rumahku. Aku berhak melakukan apa saja sesuka hatiku." geram Avika dengan mata merah menyala.
"Deg!"
Rai tersentak kaget, dia seketika terdiam setelah mendengar ucapan Avika. Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut gadis yang dia cintai, itu sudah jelas membuktikan bahwa dia bukanlah siapa-siapa di rumah itu.
"Iya, kamu benar. Kamu pemilik rumah ini dan aku hanya seorang pecundang yang menumpang tinggal tanpa rasa malu sedikitpun. Begitu kan maksud kamu?" Rai diam sejenak dan mengusap wajah dengan kasar. "Kalau begitu terima kasih untuk tumpangannya, aku tidak akan merepotkan keluargamu lagi." Rai mencoba bangkit tapi Avika dengan cepat menahannya.
"Bukan begitu bagaimana? Sudah jelas kamu baru saja menegaskan bagaimana statusmu di rumah ini. Apanya yang salah paham? Lagian aku tau siapa aku dan dimana posisiku, tapi tidak perlu menyindirku seperti itu juga!"
"Aku tidak menyindir mu, kamu saja yang terlalu sensitif. Sudah aku bilang aku mau mengobati lukamu, kenapa main usir-usir begitu? Kamu yang tidak menghargai kebaikan orang,"
"Ya sudah, sekarang obati cepat! Aku sudah tidak sabar ingin pergi dari rumah ini. Lama-lama aku bisa gila jika terus melihatmu... Aww..."
Rai menjerit kesakitan saat Avika menekan es batu di area luka Rai dengan kasar.
"Dasar monster, bisa pelan gak sih?" ketus Rai kesal.
"Enak kan? Mau aku tekan lagi?" tawar Avika dengan tatapan tajam.
"Sadis kamu, jadi begitu cara mengobati orang sakit?" geram Rai.
__ADS_1
"Tidak juga, tapi bisa lebih parah dari itu." gertak Avika mengulum senyum.
"Jangan senyum-senyum di hadapanku!" tegas Rai.
"Sejak kapan ada peraturan seperti itu?" Avika menautkan alis sambil mengelap luka Rai dengan alkohol, lalu meneteskan obat merah dan menutupnya dengan plester.
"Pokoknya ada," sahut Rai.
"Hehehe... Dasar aneh, jangan suka mengada-ada kamu!" Avika beringsut sembari membereskan nakas. Saat dia hendak berdiri, Rai dengan sigap meraih pergelangan tangannya.
"Jangan pergi!" lirih Rai dengan air muka memelas.
Avika menautkan alis. "Aku sudah selesai mengobati mu, untuk apa lagi aku di sini?"
"Perutku juga sakit, tadi ada yang memukulnya sampai aku muntah darah." ungkap Rai.
"Tapi itu sepertinya luka dalam Rai, aku tidak bisa mengobatinya. Aku panggil Om Baron dulu biar dia yang membawamu ke rumah sakit." Avika hendak berdiri tapi Rai lagi-lagi mencegahnya.
"Tidak usah, aku tidak apa-apa kok." tolak Rai.
Rai kemudian menarik tangan Avika dan meletakkannya di atas dada. "Kalau luka di sini kamu bisa mengobatinya kan? Ini perih sekali, Avika. Aku rasanya ingin mati saja daripada menahan rasa ini." ungkap Rai dengan tatapan tak biasa.
Seketika Avika bergeming dengan mata membulat sempurna. Jantungnya berdegup kencang merasakan detak jantung Rai yang sangat cepat.
"Vi..." Rai bangkit dari pembaringannya tanpa melepaskan tangan Avika dari dadanya. Dia duduk berhadapan dengan gadis itu dalam jarak yang cukup dekat.
"Vi... Kamu bisa merasakannya kan?" gumam Rai dengan tatapan sendu.
"Ra-Rai..." Avika terbata, dia tidak tau harus berkata apa.
"Vi... Tolong rasakan!" lirih Rai.
"A-Aku tidak tau Rai, aku pergi dulu." Avika menarik tangannya dengan cepat dan berlari meninggalkan kamar itu. Sungguh situasi aneh dan menyudutkan baginya. Dia benar-benar gugup dan tidak tau harus berkata apa.
__ADS_1
Dia bahkan tidak tau bagaimana perasaannya terhadap Rai. Apa Rai hanya sekedar kakak atau malah lebih dari itu? Yang Avika tau Rai itu sahabatnya Aksa, itu artinya Rai kakaknya juga.
Bersambung...