
"Rai, lacak nomor ini!" titah Aksa sambil menyodorkan iPhone miliknya ke tangan Rai, tapi tidak mematikan sambungan telepon itu.
Setelah Rai mencatat nomor tersebut, Aksa kembali menempelkan iPhone itu di telinga. Dia mendengar jelas apa saja yang dibicarakan orang-orang itu.
Seketika mata Aksa menyala mendengar pembicaraan mereka, kobaran api memancar di manik matanya. Gigi Aksa menggertak dengan rahang mengerat kuat.
"Sudah, pemilik ponsel sedang melaju menuju arah selatan." ucap Rai setelah melacak keberadaan ponsel Inara.
"Bagus, sekarang ikut aku!" Tanpa mendengar jawaban, Aksa langsung berjalan meninggalkan ruangan.
Rai yang tidak tau apa-apa hanya celingak celinguk seperti orang kebingungan, tapi setelah itu dia langsung berlari menyusul Aksa yang sudah berdiri di depan lift.
"Kita mau kemana? Ini masih jam kerja," tanya Rai mengerutkan kening.
"Inara diculik, ternyata Onic masih mencari keberadaan ku hingga detik ini. Mereka menjadikan Inara sebagai umpan," jelas Aksa, lalu masuk ke dalam lift saat pintu terbuka lebar. Rai pun menyusul masuk dan menekan tombol.
Pagi tadi salah satu anak buah Onic tak sengaja melihat keberadaan Aksa di gerbang kampus. Setelah memastikan bahwa penglihatannya tidak salah, pria itu melapor kepada ketua Onic yang berada di Seoul. Misi pun dimulai melalui Inara, mereka menduga gadis itu adalah kekasih Aksa.
"Mereka mengejar mu sampai ke sini?" Rai mengerutkan kening, lalu memijatnya.
"Sepertinya begitu, aku sudah mendengar pembicaraan mereka. Oberoi dalang dari semuanya, dia belum kapok juga setelah aku melumpuhkan kakinya. Awas saja jika ada yang kurang dari Inara, akan ku jadikan mereka semua santapan buaya!" geram Aksa dengan tatapan mematikan.
Setelah pintu lift terbuka, Aksa mengayunkan langkah besar menuju parkiran. Tangannya sudah gatal ingin bermain dengan para pecundang itu.
Setelah keduanya duduk di dalam mobil, Rai menginjak pedal gas. Mobil itu melesat kencang meninggalkan gerbang Airlangga Grup menuju arah selatan.
Rai menaruh iPhone nya yang masih menyala pada standing hp, di sana tampak jelas kemana arah anak buah Onic membawa Inara.
Sedangkan Aksa nampak fokus dengan telepon yang masih terhubung. Dia membuka dashboard dan mengambil revolver lengkap dengan peluru.
...****************...
"Ini dimana?" gumam Inara setelah reaksi bius yang dia hirup tadi habis. Meski kepalanya masih pusing, tapi kesadarannya mulai kembali.
Dengan tangan yang terikat ke belakang, Inara menatap lekat sekelilingnya. Seperti sebuah kamar yang sudah lama kosong, debu nampak tebal di setiap permukaan benda, sarang laba-laba menghias di langit-langit kamar itu.
"Ya Tuhan, siapa yang membawaku ke sini? Tempat apa ini?" gumam Inara. Dia berusaha menggerakkan kedua tangannya tapi ikatan itu terlalu kuat, Inara kesulitan melepasnya.
Lalu Inara turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Dia berbalik dan menekan kenop dengan tangannya yang terikat, sayang pintu itu terkunci dari luar.
"Halo, siapa di luar? Tolong buka pintunya!" teriak Inara. Dia menendang kuat pintu itu sampai beberapa kali.
"Braaak!"
"Braaak!"
__ADS_1
"Braaak!"
"Hahahaha... Sepertinya gadis itu sudah sadar, ayo lihat!"
Seorang pria berperawakan tinggi besar tertawa sambil menikmati minuman dan menghisap sebatang rokok, lalu menyuruh temannya melihat Inara.
"Ceklek!"
Pintu terbuka sedikit, Inara mundur ke belakang saking terkejutnya melihat sosok yang muncul di hadapannya. Seorang pria bertubuh gemuk dan pendek, kulit hitam serta kepala botak yang terlihat menggelikan, belum lagi kulit wajah yang mengkilap seperti baru terendam dalam minyak goreng.
"Siapa kau?" tanya Inara membulatkan mata.
"Hehehe... Jangan takut cantik!" jawab pria itu sembari menyeringai, gigi depannya yang ompong membuat Inara bergidik ngeri.
"Jangan mendekat!" pekik Inara saat kaki pria itu melangkah maju.
"Jangan galak gitu dong sayang, nanti cantiknya hilang!" Lagi-lagi pria itu menyeringai yang membuat Inara semakin jijik. Jika saja tangannya tidak terikat, ingin sekali dia menjedotkan kepala botak itu ke dinding dan menendang bokongnya sampai nyungsep.
"Aku bilang jangan mendekat, apa telingamu tuli?" bentak Inara.
Saat Inara masih berusaha menghindari pria itu, di luar sana mobil yang dikendarai Rai tiba dan berhenti agak jauh dari rumah kosong itu.
"Di sini," ucap Rai sambil celingak celinguk memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Sangat sepi, cocok menjadi tempat persembunyian para penjahat.
"Apa kau siap?" tanya Aksa sambil menoleh ke arah Rai.
"Bagus. Kau masuk dari depan, aku lewat belakang." Keduanya turun dari mobil.
"Habisi saja mereka, jangan kasih ampun!" imbuh Aksa dengan revolver yang sudah siaga di tangannya, lalu dia melenggang menuju belakang rumah.
"Habis kalian, beraninya sama wanita." batin Aksa dengan tatapan membunuh. Manik matanya menyala membentuk kobaran api.
Sementara Aksa sedang berusaha menjebol pintu belakang, Rai sudah lebih dulu tiba di dalam rumah. Mata Rai tertuju pada sebuah kursi kayu panjang, ada dua orang pria bertato yang duduk dengan pistol yang tergeletak di atas meja.
"Hai..." sapa Rai sambil mengunyah permen karet dengan sombong. Suara decapannya terdengar jelas di telinga.
Kedua pria itu mendongak dan menatap Rai barang sejenak. Saat menyadari sesuatu dan mencoba meraih pistol...
"Dorrr..."
"Dorrr..."
Dua peluru menembus punggung tangan keduanya dalam jarak sepersekian detik saja.
"Ahh..."
__ADS_1
Dua pria itu menjerit menahan rasa sakit dan panas yang begitu menyiksa.
"Bajingan tengik," umpat Rai. Dia mendekat dan melayangkan bogem mentah pada keduanya. Dua pria itu tersungkur lemah, Rai kemudian menginjak punggung tangan keduanya secara bersamaan.
"Ahh..."
Lagi-lagi kedua pria itu menjerit menahan rasa sakit.
"Pergilah ke neraka!" Rai tersenyum dan menembak keduanya tepat di bagian dada. "Menyusahkan saja," imbuh Rai, lalu meniup ujung revolver miliknya dengan santai.
Di belakang sana, Aksa berhasil melumpuhkan dua orang pria yang menangkap kedatangannya. Berbeda dengan Rai, Aksa justru menembak kepala keduanya tanpa ampun. Apalagi sebelumnya Aksa sempat baku hantam dengan mereka, Aksa mendapat sedikit hadiah di bagian bibir.
"Sial..." umpat Aksa. Dia meringis saat menyentuh sudut bibirnya yang terluka.
"Siapa di sana? Tolong aku... Tolong..." teriak Inara sesaat setelah mendengar suara tembakan.
"Diam!" hardik pria gendut yang masih bersamanya. Pria itu menarik paksa lengan Inara dan berdiri di belakang, sebelah tangannya melingkar di leher Inara dan sebelahnya lagi memegang pistol yang dia arahkan ke kepala gadis itu.
"Diam, atau peluru ini akan bersarang di otakmu!" imbuh pria itu.
"Ja-Jangan, aku mohon!" lirih Inara ketakutan. Sekujur tubuhnya bergetar, matanya berkaca saking takutnya.
"Braaak!"
Pintu terbuka lebar, tatapan Inara dan Aksa bertemu untuk sejenak.
"Kak Aksa..." lirih Inara menitikkan air mata. Aksa pun membuang pandangannya.
"Lepaskan gadis bodoh itu! Untuk apa menyekap gadis tidak berguna itu?" ucap Aksa mengalihkan perhatian pria gendut itu.
"Gadis bodoh?" ulang pria itu.
"Iya, dia hanya gadis bodoh." Aksa tersenyum mengatakan itu. "Kau juga bodoh karena menyekap orang yang salah," terang Aksa.
"Salah?" Pria itu nampak kebingungan.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan gadis itu, terserah kau saja mau diapakan!" Aksa kembali tersenyum. "Urusanmu denganku kan? Maka kita selesaikan secara jantan." imbuh Aksa sambil mendekat.
Pria gendut itu terlihat dilema menelaah kata-kata Aksa barusan. Saat dia lengah dan hendak menurunkan pistol dari kepala Inara, Aksa dengan cepat menarik revolver yang terselip di pinggangnya.
"Dorrr..."
"Aaaaaa..." Inara menjerit histeris sambil menutup mata. Rasanya dia ingin pingsan saja, dia pikir peluru itu sudah bersarang di kepalanya tapi...
Pria gemuk itu tersungkur bersimbah darah sesaat setelah kepalanya dihadiahi timah panas oleh Aksa.
__ADS_1
Bersambung...