
"I-Inara..." gumam Aksa terbata. Pipinya memerah dengan mulut bergetar. Jika Inara sempat melihatnya, tamat sudah riwayatnya kali ini.
Apa Inara melihatnya? Aksa berharap tidak, dia belum siap menghadapi kemarahan gadis itu.
Tadinya Aksa merasa gelisah saat bekas luka di dadanya bergesekan dengan pakaian yang dia kenakan. Aksa pikir Inara tidak akan mungkin turun ke ruang bawah tanah, sebab itulah dia membuka pakaian yang melekat di tubuhnya.
Tapi sepertinya Aksa terlalu ceroboh, Inara ternyata mencarinya sampai ke sana. Aksa harus memutar otak untuk menyiapkan jawaban yang akan keluar dari mulut Inara.
"Inara, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aksa santai dengan harapan bahwa Inara belum sempat melihat tubuhnya.
Inara tersenyum kecut, lalu menyapu jejak air mata di pipinya. Kakinya melangkah pelan menuju ranjang yang diduduki Aksa.
"Buka selimutnya!" tegas Inara penuh penekanan. Matanya memerah berapi-api.
"Untuk apa? Jangan bilang kamu mau-"
"Aku bilang buka!" bentak Inara meninggikan suara. Dia semakin mendekat dan meraih selimut itu.
"Apaan sih Inara, jangan gila! Aku tidak berpakaian," alibi Aksa mengalihkan perhatian Inara. Dia pikir Inara tidak akan berani menarik selimut itu jika mengatakan bahwa dirinya tidak mengenakan pakaian.
Tapi ternyata Aksa salah, kali ini gadis itu tidak mau mengindahkan ucapannya.
Inara mengerahkan tenaga sekuat mungkin, keduanya sampai berguling di atas kasur saat Aksa menahan selimut itu sekuat mungkin.
"Inara, jangan bodoh! Aku benar-benar tidak berpakaian," geram Aksa.
"Aku tidak peduli," ketus Inara yang masih berjibaku menarik selimut itu.
"Inara, tolong mengertilah!" keluh Aksa yang sudah kelimpungan mempertahankan diri, tapi Inara tidak mau menyerah sedikitpun. Bahkan kini tubuhnya sudah bertengger di atas perut Aksa.
Inara memelototi Aksa seperti seekor harimau betina yang tengah kelaparan. "Jika kamu benar-benar mencintaiku, maka bukalah selimut ini tanpa aku paksa!" tekan Inara.
"Tapi Ra-"
"Buka, atau selamanya aku tidak akan mau melihat wajahmu lagi!" ancam Inara.
"Adik Kak Aksa yang cantik, jangan gitu dong! Kak Aksa sungguh-"
"Buka Kak Aksa, jangan membuatku marah!" hardik Inara.
"I-Iya, Kak Aksa buka, tapi kamu harus janji dulu sama Kakak." tawar Aksa.
"Janji apa?" Inara menautkan alis.
__ADS_1
Aksa memicingkan mata barang sejenak, lalu menarik nafas dalam-dalam. "Kamu harus janji sama Kak Aksa. Apapun yang kamu lihat nanti, kamu tidak boleh marah. Kalaupun marah, kamu harus mendengar penjelasan Kak Aksa."
"Iya, aku janji. Sekarang bukalah!" angguk Inara.
"Ya sudah, buka sendiri saja!" Aksa melepaskan cengkraman tangannya dari selimut itu. Pasrah tapi tak rela, begitulah kira-kira yang dirasakan Aksa saat ini. Tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar, lambat laun Inara tetap akan mengetahui siapa dirinya.
Dengan tangan bergetar mengeluarkan keringat dingin, Inara beranjak dari perut Aksa lalu menarik selimut itu perlahan.
"Deg!"
Seketika Inara terlonjak dengan mata membulat besar, mulutnya menganga dan bibirnya bergetar. Detak jantungnya tiba-tiba kacau tak beraturan, ngilu bak disayat sembilu tajam.
"Kamu..."
Inara mencebik, sudut matanya mengeluarkan cairan bening ketika sorot matanya melihat tubuh Aksa yang dipenuhi tato. Tato yang sama yang pernah dia lihat di tubuh Akbar, lengan sampai punggung tangan pun memiliki lukisan yang sama.
"Pembohong..."
Inara menjauh, kepalanya menggeleng-geleng tak percaya.
Sebodoh itukah dia sampai tidak menyadari bahwa Aksa dan Akbar adalah orang sama.
"Ra..."
"Tidak, kalian berdua pembohong. Kalian berdua mempermainkan perasaanku," lirih Inara yang terus saja menangis tanpa henti.
"Ra, dengar penjelasan Kak Aksa dulu ya!" Aksa mengikis jarak tapi Inara malah menjauh darinya.
"Bodoh, aku memang bodoh. Bisa-bisanya aku tertipu dengan permainan licik mu itu." Inara merutuki dirinya sendiri. Dia meraih bantal dan melemparkannya ke wajah Aksa.
Aksa sengaja diam menerima apa saja yang akan dilakukan Inara padanya. "Tidak sayang, kamu tidak bodoh. Kamu tenang dulu ya! Ini salah Kak Aksa, seharusnya Kakak jujur dari awal. Tapi Kakak takut kamu marah, Kakak-"
"Berhasil, kamu berhasil menghancurkan hatiku. Terima kasih," Inara melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu.
Sedih, kecewa, marah, malu, begitulah yang dia rasakan saat ini.
Saat Inara tengah berjibaku menekan kode untuk membuka pintu, Aksa dengan sigap menangkapnya dan menggendongnya ke kasur.
"Lepasin aku! Kamu jahat, aku membencimu. Kamu sudah menyakitiku, sakit sekali rasanya dibohongi seperti ini. Apa salahku? Apa yang sudah aku lakukan padamu sebelumnya?" teriak Inara. Dia meronta-ronta membebaskan diri, dia juga meninju dada Aksa tanpa henti.
"Bug!"
"Bug!"
__ADS_1
Sesakit sakitnya saat Inara ditinggalkan tanpa sepatah kata pun, lebih sakit lagi saat Inara mengetahui kebohongan besar ini.
"Inara, jangan begini! Kakak tau ini salah, tolong beri kesempatan Kakak untuk menjelaskan. Bukankah kamu sudah janji tidak akan marah dan mau mendengar penjelasan Kakak." tegas Aksa.
"Tidak mau, aku tidak mau mendengar apa-apa lagi. Hiks..." Inara terisak, lalu meremas dadanya yang terasa sangat ngilu.
"Inara, jangan keras kepala. Sekali saja tolong dengarkan Kakak!" Aksa duduk di sisi ranjang dan memangku Inara di atas pahanya.
Aksa mendekap Inara dengan sangat erat sambil sesekali mengecup keningnya.
"Lepasin aku! Aku mau pulang," pinta Inara memelas setelah tangisannya mereda.
"Iya, nanti kita pulang sama-sama ya." bujuk Aksa.
"Tidak mau, aku maunya sekarang." lirih Inara.
"Iya, kita pasti pulang. Kakak janji," Aksa menghela nafas berat, lalu menyeka jejak air mata di pipi Inara.
Inara mencebik dan menyembunyikan wajahnya di dada Aksa. "Sakit Kak, sakit sekali. Kenapa Kak Aksa tega membohongiku?" gumam Inara dengan suara tertahan.
"Maafin Kak Aksa ya, Kakak tidak ada maksud membohongi kamu." Aksa merasa bersalah tapi semua sudah terlanjur terjadi, kini Aksa hanya ingin memperbaiki kesalahannya.
"Demi Tuhan, Kakak tidak ada maksud membohongi kamu." Aksa menghela nafas berat sambil menatap langit-langit kamar.
"Sejak tiga tahun yang lalu, Kak Aksa bergabung dengan sebuah organisasi rahasia di Seoul. Kakak tidak bohong, sejak itu Kakak memang mempunyai dua karakter sekaligus. Sosok Akbar itu adalah bos muda Alliance, itu sebabnya Kak Aksa menukar gaya rambut dan memakai soflens berwarna biru. Kakak tidak mau identitas asli Kakak terbongkar, itu sangat membahayakan untuk keselamatan keluarga kita." Aksa menjeda ucapannya.
"Saat kamu diculik, Kakak sengaja datang dengan sosok Akbar. Kakak pikir yang menculik kamu adalah musuh bebuyutan Kakak, tapi ternyata tidak ada hubungannya dengan mereka. Itu murni perdagangan manusia." Aksa kembali menjeda ucapannya.
"Awalnya Kakak hanya ingin membantumu dan membawamu kembali, tapi siapa sangka malam itu menjadi petaka buat diri Kakak sendiri. Kamu mungkin tidak ingat bagaimana kamu memulainya, tapi kejadian malam itu tidak bisa lepas dari ingatan Kakak." Aksa menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Kamu tidak akan tau bagaimana susahnya Kakak menahan diri malam itu. Kamu yang memulainya, kamu yang mencium Kakak lebih dulu, kamu yang mencuri ciuman pertama Kakak. Kakak hampir saja gila karena kamu," Aksa mengusap wajahnya dengan kasar.
"Itulah sebabnya Kakak melarikan diri sebagai Akbar dan kembali sebagai Aksa. Kakak tidak mau merusak mu, kamu adik Kakak."
"Setelah kejadian itu, Kakak ingin melupakannya tapi tidak bisa. Semakin Kakak melupakan semakin ngilu dada ini. Saat Kakak tau kamu kabur dan berbohong pada Mama sama Bunda, Kakak takut kamu kenapa-kenapa. Sebab itulah Kakak mencari mu sampai kota Bukittinggi."
"Kakak akui Kakak salah karena tidak jujur dari awal. Tapi perasaan ini tidak bohong, Kakak benar-benar mencintaimu. Itulah sebabnya Kakak menghilang dalam wujud Akbar, Kakak ingin kamu membalas perasaan Kakak untuk Aksa. Kakak ingin kamu mencintai Aksa."
"Sekarang Kakak sudah mendapatkan jawabannya. Kakak memang tidak pantas untukmu, mungkin hubungan kita hanya ditakdirkan menjadi kakak dan adik saja. Kakak ikhlas, Kakak akan berusaha melupakanmu."
"Sekali lagi maafin Kak Aksa ya, ini semua di luar kendali Kakak." Aksa menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menyapu wajahnya dengan kasar.
"Ayo, sekarang Kakak antar pulang!" Aksa mengacak rambut Inara dan menurunkan gadis itu dari pangkuannya, lalu menyambar baju dan bergegas mengenakannya.
__ADS_1
Kini Aksa tidak membutuhkan sarung tangan lagi, dia membuangnya dan berjalan meninggalkan kamar. Inara pun menyusulnya dari belakang.
Bersambung...