
Tak terasa sudah tiga hari waktu berlalu, sampai saat ini Aksa belum juga menemukan keberadaan Aryan. Bahkan orang-orang yang dia utus untuk mencari Aryan tidak kunjung memberikan kabar baik.
Begitu juga dengan Baron dan Tobi, mereka sudah kewalahan karena tak kunjung berhasil melacak keberadaan Aryan.
Aryan meninggalkan rumah tanpa membawa ponsel miliknya. Tidak ada yang tau kemana Aryan pergi sebenarnya.
Setelah mengacak seluruh isi kamar Aryan, Aksa menemukan anting stainless yang waktu itu ditemukan Aryan di kamar hotel. Aksa mengambilnya dan membawanya turun ke bawah.
"Om Baron, ikut Aksa sebentar!" ajak Aksa saat menangkap keberadaan tubuh tinggi besar itu.
Baron mengangguk lemah, lalu mengikuti Aryan menuju kamar tamu.
"Braak!"
Pintu terbuka dengan kasar. Gadis bisu yang ada di kamar itu tersentak dengan mata membulat sempurna. Tubuhnya gemetaran melihat dua orang pria bertato yang melangkah masuk menghampirinya.
"Aaa... Aaa..." gadis itu sebenarnya ingin bicara tapi tak seorangpun yang mengerti apa yang dia maksud.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu jika kamu mau bekerja sama denganku." tegas Aksa dengan tatapan tajam seperti mata elang.
Lalu Aksa melempar sebuah buku dan pulpen ke kasur, tepat di sebelah dia duduk saat ini.
"Kamu tidak bisa bicara, tapi kamu bisa menulis kan?" tanya Aksa dengan tatapan mengintimidasi. Gadis itu benar-benar ketakutan setengah mati, lalu mengangguk lemah.
"Bagus, kalau begitu kita bisa berkomunikasi dengan baik. Ingat, jika kamu berbohong maka-" Aksa merogoh bagian pinggangnya, sebuah revolver keluar dari sana. Tentu saja gadis itu semakin ketakutan dibuatnya. "Pilihan ada di tanganmu," imbuh Aksa.
Lagi-lagi gadis itu mengangguk lemah, meski hidupnya sudah berakhir tapi dia tidak ingin mati sia-sia seperti ini.
Sederet pertanyaan mulai dilayangkan Aksa padanya. Satu persatu dia jawab dengan air muka cemas bahkan dengan mata berkaca-kaca.
Otak Aksa dibuat kusut karena jawaban berbelit-belit yang ditulis gadis itu.
"Apa malam itu kamu benar-benar diperkosa?" tanya Aksa mamastikan. Gadis itu menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Apa kamu mengenal pria itu?" gadis itu menggeleng.
"Apa kamu mengingat wajahnya?" gadis itu mengangguk lemah.
Aksa terdiam sejenak dan menoleh ke arah Baron.
"Apa pria itu Aryan?" tanya Baron menyambung pertanyaan Aksa. Gadis itu menggeleng.
__ADS_1
Baron mengerutkan kening, begitu juga dengan Aksa. Otak keduanya tiba-tiba eror menghadapi gadis itu.
"Maaf, saya tidak tau kenapa saya dibawa ke rumah ini. Saya tidak ingin menikah dengan pria itu, bukan dia yang melakukannya. Saya ingat betul bukan dia pelakunya. Tolong lepaskan saya, jangan sakiti saya!" tulis gadis itu, lalu memperlihatkan tulisannya pada Aksa dan Baron.
Kembali kedua pria itu mengerutkan kening. Ini benar-benar aneh dan tidak masuk akal. Jika gadis itu diperkosa, lalu siapa yang melakukannya? Bukankah jelas pagi itu ada noda darah di atas kasur yang ditempati Aryan. Aryan juga mengaku telah melakukannya.
"Papa mengerti sekarang," tiba-tiba suara Arhan mengalun memecah kesunyian di kamar itu.
Aksa dan Baron memutar leher beberapa derajat. Tatapan mereka bertemu dengan Arhan.
Kemudian Arhan duduk di samping gadis itu dan mengusap rambutnya seperti yang biasa dilakukan seorang ayah kepada putrinya.
Tiba-tiba gadis itu menangis, air matanya jatuh berderai. Dia teringat dengan sosok ayahnya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Belaian tangan Arhan membuatnya merasakan kembali kelembutan sentuhan seorang ayah.
"Dia gadis yang baik, sepertinya dia juga korban seperti Aryan dan gadis itu." lirih Arhan. Dia terus saja membelai rambut gadis itu.
"Aaa... Aaa..." isaknya, lalu memeluk Arhan dengan spontan.
Aksa dan Baron saling melirik dengan tatapan kebingungan. Begitu juga dengan Aina yang baru saja menapakkan kaki di kamar itu. Bukannya cemburu, tapi Aina merasa aneh dengan perlakuan suaminya.
"Apa yang Abang lakukan?" tanya Aina dengan kening mengernyit.
Aksa yang mendengar suara Aina dengan cepat menyembunyikan revolver yang ada di tangannya. Dia tidak mau Aina syok melihat itu.
Setelah beberapa saat, gadis itu menjauh dari Arhan. Arhan mengusap air matanya dengan sayang.
"Sini, duduk di samping Abang!" Arhan memanggil Aina untuk duduk di sampingnya. Aina mengangguk lemah dan mengikuti permintaan suaminya.
"Aina jangan marah ya, ini spontan reaksi ayah terhadap putrinya." jelas Arhan agar Aina tidak salah paham, lalu mendekap Aina dan mengecup keningnya.
"Sekarang semuanya sudah jelas, bukan gadis ini yang malam itu dinodai oleh Aryan. Semua sudah diatur dengan sangat rapi untuk mengelabui kita semua." imbuh Arhan.
"Maksud Abang?" Aina menautkan alis.
"Sepertinya gadis ini juga korban. Dia sengaja dijebak untuk menggantikan posisi gadis yang sebenarnya sudah digauli oleh Aryan." jelas Arhan.
"Tunggu sebentar Pa, Aksa benar-benar tidak mengerti." selang Aksa kebingungan.
"Malam itu Aryan melakukannya dengan gadis lain, sedangkan gadis ini juga dinodai oleh pria lain. Pasti wanita itu sengaja biar kita menganggap gadis ini yang dinodai Aryan. Mungkin ada rencana lain dibalik semua ini." tebak Arhan.
"Apa itu benar?" tanya Aksa dengan tatapan mematikan. Gadis itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Jadi anting ini bukan milikmu?" Aksa menyodorkan anting yang ada di tangannya ke arah gadis itu. Dengan cepat gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Nah, sekarang sudah jelas kan. Mungkin iblis itu berpikir bahwa gadis bisu seperti dia ini bisa diperalat untuk menghancurkan keluarga kita. Sayangnya gadis ini terlalu baik. Dia hanya korban, dia pasti juga tidak mau dijadikan alat seperti ini." Arhan kembali membelai rambut gadis itu.
Kembali gadis itu mengambil buku dan pulpen lalu menggoresnya dengan tinta. "Terima kasih, kalau begitu biarkan aku pergi dari sini." tulisnya dan memperlihatkannya pada Arhan.
"Memangnya kamu mau kemana? Apa kamu punya keluarga?" tanya Arhan.
"Tidak, tapi aku harus pergi. Aku tidak bisa berada di sini, aku akan kembali ke kampung. Tadinya aku ingin mencari pekerjaan tapi aku malah dibawa oleh seorang pria." tulisnya lagi.
"Kalau begitu tinggal saja di sini, kamu bisa bekerja di rumah ini kalau kamu mau. Lagian kamu baru saja diperkosa, kalau kamu hamil bagaimana? Siapa yang akan menjagamu di kampung?" tawar Arhan.
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa hidup sendiri. Kalau aku hamil, aku akan membesarkan anak itu. Aku tidak akan membuangnya, anak itu tidak bersalah. Mungkin ini merupakan rencana Tuhan agar aku punya keluarga kembali." tulisnya lagi. Dia tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Arhan mengusap wajah dan menghela nafas berat. Mau tidak mau Arhan terpaksa mengangguk, dia tidak memiliki hak untuk melarangnya.
"Baiklah, tapi kamu harus janji dulu!" ucap Arhan.
"Janji apa?" tulis gadis itu.
"Kalau kamu mengalami kesulitan, datanglah kemari. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu," ungkap Arhan.
"Aaa..." gadis itu mengangguk dengan seulas senyum yang terukir di bibirnya. Dalam keadaan seperti ini, masih saja dia bisa tersenyum padahal masa depannya sudah direnggut secara paksa.
Arhan memalingkan wajah ke arah Aina, air matanya tiba-tiba menetes. Dia ingat betul bagaimana dulu Aina bersikukuh menolaknya, padahal jelas-jelas Aina tengah mengandung darah dagingnya. Kenapa kejadian seperti itu harus terulang lagi di depan matanya?
"Aksa, suruh Om Tobi mengantar gadis ini sampai ke desanya. Jangan lupa berikan bekal untuknya!"
Setelah mengatakan itu, Arhan berlalu meninggalkan kamar. Dia tidak sanggup melihat kepergiannya, seakan-akan gadis itu adalah Avika putrinya.
Bagaimana jika hari itu Rai tidak datang tepat pada waktunya? Mungkin Avika akan mengalami nasib yang sama dengan gadis itu. Membayangkannya saja Arhan tidak sanggup.
"Apa kamu yakin ingin pergi dari sini?" tanya Aina setelah kepergian Arhan.
"Aaa..." gadis itu mengangguk yakin.
Sebenarnya Aina juga tidak tega melepasnya tapi dia tidak punya hak untuk memaksa.
Lalu mereka semua meninggalkan kamar dan berjalan menuju halaman.
Setelah Aksa menemui Tobi, pria itu lekas menyiapkan mobil. Dia pun mengantar gadis itu sampai ke alamat.
__ADS_1
Bersambung...