
Setelah membangunkan Aksa, Inara menyuapinya makan sampai habis dan memberinya obat agar bekas luka di lengannya cepat sembuh, lalu Inara kembali ke bawah untuk mengisi perut.
Di meja makan, Avika nampak murung setelah ditinggal Rai tadi. Bukannya menyadari kesalahan yang sudah dia lakukan, Avika justru semakin marah dan merasa bahwa Rai tidak mempedulikan dirinya.
"Kenapa Kak? Kok mukanya cemberut gitu? Rai mana? Kenapa Kakak makan sendirian?" cerca Inara dengan berbagai macam pertanyaan. Alih-alih ingin mendapat teman untuk menghibur diri, Avika justru semakin mumet dibuatnya.
"Tanya orangnya sendiri sana!" ketus Avika dengan bibir mengerucut.
Sontak Inara menyipitkan mata mendengar jawaban Avika itu. Apa barusan dia melakukan kesalahan? Bukankah dia menanyakan hal yang wajar? Lalu salahnya dimana?
"Kakak kenapa sih? Aku nanya baik-baik loh, Kak." Beruntung Inara tidak mudah terpancing, dia tau persis bagaimana karakter Avika sebenarnya. Dari kecil mereka tumbuh bersama dan tidurpun bersama, jadi hal seperti ini sudah biasa di mata Inara.
"Makan saja Inara, jangan banyak omong!" tukas Avika dengan sorot mata nampak tajam.
"Ya sudah kalau begitu, sekarang aku makan." sahut Inara mengangkat bahu, lalu mengisi piringnya dengan makanan dan melahapnya sampai tandas.
Benar saja, selama Inara makan, dia sengaja diam tanpa bersuara. Keheningan itu malah membuat Avika semakin meradang. Sepertinya semua orang sama saja, tidak ada yang mengerti dirinya.
"Aaaaagk..." Inara bersendawa sesaat setelah makanan di piringnya ludes tak bersisa.
"Mmm... Ternyata makan masakan sendiri itu enak juga ya." ucap Inara mengulum senyum.
"Kamu sengaja nyindir aku?" Avika memelototi Inara dengan pipi menggembung.
"Siapa yang nyindir Kakak?" Inara menautkan alis. "Jadi orang tuh jangan terlalu perasa Kak, tidak baik." imbuh Inara, lalu mengumpulkan piring kotor dan membawanya ke dapur.
Setelah Inara membereskan dapur dan mencuci piring, dia memilih duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Sebenarnya Inara bisa saja menonton di kamar, tapi dia tidak tega mengganggu tidur Aksa. Suaminya butuh istirahat agar cepat pulih seperti sedia kala.
Tidak lama setelah televisi menyala, Avika ikut duduk di samping Inara. Sengaja Inara berlagak tidak tau karena dia masih kesal ulah ucapan Avika tadi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Aksa menyusul turun. Dia mulai resah karena Inara tak kunjung kembali ke kamar, takut istrinya malah keluyuran kemana-mana.
Saat mendapati dua wanita cantik yang tengah asik menonton televisi itu, Aksa segera menghampiri dan duduk diantara keduanya.
"Ditungguin dari tadi ternyata malah nongkrong di sini, lupa kalau sudah punya suami?" ucap Aksa dengan manja, dia memeluk pinggang Inara dan merebahkan kepalanya di dada istrinya itu.
"Apaan sih Kak? Siapa yang lupa? Aku pikir Kakak masih ingin tidur, makanya aku duduk di sini." jawab Inara menahan tawa, lalu mengacak gemas rambut suaminya itu.
"Kakak maunya tidur sama kamu, sayang." desis Aksa mengulas senyum nakal.
"Hehehe... Sakit-sakit tapi nakalnya gak hilang-hilang, malu dikit kenapa? Ada Kak Avika loh di sini," keluh Inara sembari menoleh ke arah Avika, tentu saja dia malu dilihat adik iparnya itu. Apalagi sedari tadi Avika selalu ketus terhadapnya.
"Untuk apa mikirin orang? Dia kan juga punya suami, pengantin baru lagi. Pasti lagi hot-hotnya," jawab Aksa enteng.
Kemudian Aksa membawa Inara ke kamar. Tidak peduli meski tangannya masih sulit digerakkan, yang penting tangan lainnya masih bisa berdiri dengan normal.
Sepertinya kelakuan Aksa tadi membuat adrenalin Avika terpacu. Bisa-bisanya pengantin baru seperti dirinya kalah telak dengan pengantin basi seperti Aksa dan Inara.
"Braak!"
Pintu terbuka dengan kasar. Setelah menghampiri ranjang, Avika menarik leher baju yang dikenakan Rai. Pria yang tengah berbaring itu tersentak dari tidurnya dan membuka mata lebar-lebar.
"Vi... Apa yang kamu lakukan? Lepas Vi, aku bukan kerbau, main tarik-tarik saja." geram Rai yang sudah terduduk di tepi ranjang.
"Kalau bukan kerbau, maka ikut aku sekarang juga!" tegas Avika penuh penekanan.
"Kamu tidak lihat aku lagi apa tadi?" Rai mengernyit. "Jadi begini cara kamu memperlakukan suami kamu sendiri? Gila kamu Vi," imbuh Rai dengan tatapan kesal.
"Punya istri bukannya bikin kepala segar malah bikin otak makin kusut," gumam Rai sembari bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan Avika begitu saja.
__ADS_1
Dengan kepala cenat cenut, Rai melenggang menuju lantai atas. Dia masuk ke kamar Avika dan melanjutkan tidurnya di sana. Barangkali setelah ini Avika tidak akan mengganggu tidurnya lagi.
Akan tetapi, ternyata Avika malah mengikutinya dan lekas mengunci pintu. Rai sengaja berpura-pura tidur agar Avika tidak mendekatinya.
Namun pikiran Rai ternyata tak sejalan dengan dugaannya, Avika malah merangkak menaiki tubuhnya dan duduk di atas perutnya.
Perlahan Rai kembali membuka mata, betapa terkejutnya dia saat mendapati tubuh Avika yang hanya berbalut bra saja. Rai mengucek mata untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
"Vi, kamu mau apa? Kemana pakaian kamu, hah?" tanya Rai dengan suara yang tiba-tiba serak dan tersangkut di tenggorokan. Hawa kamar itu mendadak panas meski volume AC sudah cukup dingin.
"Panas, aku lebih suka seperti ini di kamarku sendiri." jawab Avika santai sambil mematut Rai dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Oooh, mungkin AC nya rusak. Minggir dulu, biar aku perbaiki!" alibi Rai agar Avika mau beranjak dari perutnya.
"Tidak mau, aku di sini saja." Avika menjatuhkan dadanya tepat di atas dada Rai, sentuhan benda kenyal itu seketika membuat tenggorokan Rai benar-benar mengering. Meneguk ludah saja rasanya begitu sulit.
Apalagi saat wajah Avika tenggelam di lehernya. Hembusan nafas Avika yang hangat membuat jantung Rai ingin melompat keluar dari tempatnya saat ini juga, aliran darahnya berpacu dengan detak jantung yang berdetak semakin kencang.
"Vi..." desis Rai dengan nafas kian memburu. Ini bukan panas, tapi jelas bahwa Avika memang sengaja menggodanya.
"Hmm..." gumam Avika sembari mengendus-endus leher suaminya itu. Avika mengecupnya dan menggesekkan ujung hidungnya, Rai menggelinjang, dia tidak kuat menahan geli.
"Vi... Cukup sayang, aku tidak tahan. Tolong menjauhlah!" pinta Rai dengan suara yang nyaris tak terdengar. Dia bisa khilaf jika Avika tidak menghentikan ini secepatnya.
Rai berpikir bahwa Avika belum bisa menerimanya sepenuh hati, buktinya sudah dua kali Avika menolaknya secara tidak langsung.
Avika masih menganggapnya seperti orang asing, bahkan masalah sepele saja bisa menjadi besar olehnya.
"Tidak perlu memaksakan diri, aku tau kehadiranku tak berarti apa-apa di hidupmu. Kamu akan menyesal setelah ini," lirih Rai dengan mata berkaca.
__ADS_1