Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 135.


__ADS_3

Hari berganti hari dan kini Inara telah berhasil menyelesaikan kuliahnya tepat di usia kandungan yang sudah memasuki empat bulan. Dia juga baru saja mendapat gelar SP.B dan sudah bisa memulai karirnya sebagai seorang dokter.


Sayang keinginan itu harus Inara tahan setidaknya untuk satu tahun ke depan karena Aksa memintanya fokus pada calon bayi mereka. Aksa tidak ingin Inara kelelahan dan malah mengabaikan kandungannya.


Malam ini Arhan sengaja mengadakan syukuran empat bulanan untuk Inara. Dia hanya mengundang beberapa tamu penting, para tetangga dan anak-anak panti asuhan seperti yang dulu sering dia lakukan saat Aksa masih kecil.


Pada acara kali ini semua anggota keluarga sepakat mengenakan pakaian serba putih. Inara tampil cantik dengan balutan gamis dan selendang putih yang menutupi sebagian rambutnya, sedangkan Aksa sendiri mengenakan baju koko putih dan peci berwarna hitam.


Setelah para tamu berdatangan, semua anggota keluarga ikut bergabung dan duduk di lantai yang beralasan permadani. Semua terlihat rata tanpa ada yang merasa derajatnya paling tinggi.


Tepat pukul tujuh malam acara resmi dimulai. Seorang ustadz menuntun pengajian dan membacakan surat yasin memohon keselamatan atas bayi yang dikandung Inara.


Setelah itu disambung dengan tausyiah yang disampaikan ustadz itu, lalu dilanjutkan dengan doa bersama.


Usai pengajian dilangsungkan, acara ditutup dengan ramah tamah atau makan bersama sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang sudah Tuhan limpahkan pada mereka semua.


Para tamu mulai berdiri dan mengambil makanan masing-masing di meja prasmanan yang sudah disediakan. Ada banyak pilihan makanan yang bisa mereka nikmati sesuai selera masing-masing.


Malam ini Inara memilih makan sate Padang bersama Avika dan Dara. Mereka bertiga duduk berdekatan tanpa ditemani suami mereka yang tengah duduk pada barisan para laki-laki.


Sedang asik menyantap sate yang begitu nikmat menggugah selera, Avika tiba-tiba mematung. Perutnya terasa mual, dia ingin muntah dan segera berlari meninggalkan semua orang.


"Huweek..."


Avika memuntahkan semua makanan yang baru saja ditelannya tadi. Matanya memerah mengeluarkan cairan bening.


"Kakak kenapa?" tanya Inara dan Dara yang langsung menyusul saat ditinggalkan Avika tadi.


"Tidak tau, pusing terus mual." jawab Avika lesu.


"Huweek..."

__ADS_1


Kembali Avika memuntahkan isi perutnya di wastafel.


"Huweek..."


Dara tiba-tiba ketularan mual melihat Avika memuntahkan isi perutnya, lalu keduanya berebutan mengeluarkan isi perut mereka di wastafel yang sama.


"Aneh, kenapa jadi kompakan begini?" Inara menautkan alis bingung. "Kalian berdua hamil?" imbuh Inara yang membuat Avika dan Dara memutar leher menatapnya. "Iya, pasti kalian hamil." lanjut Inara tertawa kecil.


"Apaan sih, Ra?" keluh Avika sembari membasuh mulutnya dengan air.


"Aku bilangin sama Mama dulu," ucap Inara yang langsung berlari kecil meninggalkan mereka berdua.


"Inara..." pekik Avika, tapi wanita buncit itu sama sekali tidak mempedulikannya.


"Astaga si buncit itu, entah siapa yang hamil dia malah main pergi begitu saja." omel Avika dengan bibir mencebik.


Sesampainya di depan, Inara urung menyampaikan itu pada Aina maupun Nayla karena Aksa memanggilnya untuk menyalami para tamu yang hendak meninggalkan kediaman mereka.


Setelah semua tamu menghilang dan menyisakan para anggota keluarga saja, Inara langsung membuka suara di hadapan semua orang yang masih berdiri di dekatnya.


"Ma, Pa, Bun, Yah, semuanya. Kayaknya besok kita harus mengadakan syukuran lagi deh." ucap Inara seraya mengukir senyum.


"Hah?"


Sontak semua mata terbelalak mendengar ucapan nyeleneh Inara.


Saat Inara hendak berbicara kembali, Avika menghampirinya dan membungkam mulutnya. Berbeda dengan Dara yang hanya diam di samping Aryan suaminya.


"Diam Inara, jangan asal bicara kalau belum tau kepastiannya." geram Avika menggertakkan gigi.


"Avika, Inara, kalian berdua ini kenapa sih? Jangan bikin rusuh, baru juga selesai acara." timpal Aina mengerutkan dahi.

__ADS_1


Segera Inara menyingkirkan tangan Avika dari mulutnya dan mengambil kesempatan itu untuk berteriak. "Kak Avika sama Dara hamil, Ma. Inara-"


Ucapan Inara langsung terpotong saat Avika membungkam mulutnya kembali. Tapi percuma saja, semua orang sudah terlanjur mendengarnya.


"Vi..." Rai yang dari tadi diam sontak melongo dan menarik Avika mendekatinya. Avika langsung terdiam menatap mata nyalang suaminya itu. "Katakan padaku, apa itu benar?" tanya Rai dengan nafas memburu. Tentu saja dia sangat penasaran dan berharap yang dikatakan Inara barusan benar adanya.


"A-Aku tidak tau, Rai." jawab Avika tergagap saat dada mereka sudah menempel satu sama lain.


Sementara Aryan sendiri nampak tengah menilik wajah Dara yang hanya ditekuk menatap lantai yang dia pijak. "Dara, apa kamu hamil?" tanya Aryan seraya mengangkat dagu istrinya hingga tatapan keduanya saling bertemu.


"A-Aku juga tidak tau, Aryan." jawab Dara menggelengkan kepala.


"Tapi aku sangat yakin bahwa mereka berdua juga hamil, periksa saja kalau tidak percaya. Orang barusan keduanya muntah-muntah kok, aku sendiri yang melihatnya." terang Inara sambil bergelayut di tengkuk Aksa.


"Ya sudah, tidak usah diributkan." selang Arhan mencairkan suasana. "Rai, Aryan, besok bawa istri kalian ke dokter biar semuanya jelas!" imbuh Arhan mengambil jalan tengah.


"Iya Pa," angguk Aryan dan Rai bersamaan.


...****************...


Pagi hari semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan menikmati sarapan yang sudah terhidang di atas meja. Hanya Aksa dan Inara yang tidak ada karena masih betah di kamar mereka.


Rai dan Aryan nampak terburu-buru menghabiskan makanan yang ada di piring mereka. Keduanya sudah tidak sabar untuk ke dokter memeriksakan istri masing-masing.


Setelah Avika dan Dara menghabiskan makanan mereka, Rai dan Aryan dengan cepat menggenggam tangan istri masing-masing lalu membawanya ke ruang tengah.


"Pa, Ma, Yah, Bun, Om, Tan, kami pergi dulu ya. Doain semoga hasilnya positif!" ucap Rai dan Aryan berbarengan, wajah keduanya nampak sumringah penuh pengharapan.


"Iya, kalian hati-hati ya. Habis periksa langsung pulang, jangan keluyuran kemana-mana!" ucap Arhan mewakilkan semua orang.


Setelah berpamitan pada semua orang, mereka berempat meninggalkan rumah dan masuk ke mobil yang sama. Rai duduk di depan bersama Avika, sedangkan Aryan duduk di bangku tengah bersama Dara. Mobil itupun melaju meninggalkan gerbang memasuki jalan raya.

__ADS_1


Di lantai atas, Aksa dan Inara masih setia berbaring dalam selimut yang sama dengan tubuh yang masih polos setelah menyelesaikan aktivitas rutin yang menguras tenaga. Aksa memeluk Inara dari belakang sambil mengusap pelan perut buncit istrinya yang sudah semakin terlihat jelas, lalu membenamkan wajahnya di tengkuk Inara seraya menciumnya sesekali.


__ADS_2