
Selesai menikmati makan siang, Aksa membayar tagihan dan menggenggam tangan Inara. Keduanya kembali duduk di atas motor dengan tangan Inara yang melingkar di pinggang Aksa. Seketika motor sport itu melesat kencang meninggalkan parkiran.
"Mau kemana lagi Kak?" tanya Inara sambil menopang dagu di pundak Aksa.
"Kamu maunya kemana?" tanya Aksa balik.
"Tidak tau," jawab Inara dengan bibir mencebik.
"Nonton mau gak? Katanya ada film baru yang diputar di bioskop," usul Aksa.
"Terserah Kakak saja deh, aku ngikut." balas Inara.
"Kok terserah sih? Gak ikhlas banget jawabnya." Aksa mengerutkan kening.
"Lalu aku harus jawab apa? Orang yang ngajak keluar kan Kakak?" ketus Inara kesal.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Untuk apa repot-repot ngajakin jalan kalau orangnya sendiri malas begini?" Aksa menghela nafas berat dan mempercepat laju motornya.
"Iya, iya, kita nonton. Gitu saja ngambek," Inara mempererat pelukannya dan memberi sedikit gigitan di pundak Aksa.
Aksa menggeliat geli. "Jangan mancing-mancing, ini jalanan loh. Kalau jatuh bisa mampus kita," geram Aksa.
"Tidak apa-apa mampus berdua, asal jangan aku sendiri saja." Inara mengulum senyum yang membuat Aksa mendengus kesal.
Sepuluh menit berlalu, motor yang dikendarai Aksa masuk ke parkiran sebuah bioskop. Keduanya turun dan masuk ke lobby.
"Kak, aku ke toilet bentar ya!" ucap Inara saat Aksa tengah berbaris mengantri tiket.
"Jangan pergi sendirian! Tunggu Kakak beli tiket dulu, nanti Kak Aksa temani!" jawab Aksa. Dia menggenggam tangan Inara erat, sedetikpun dia tidak mau berjauhan dengan gadisnya itu.
"Lebay banget sih, ke toilet doang pakai acara ditemani segala." sindir Inara.
"Sssttt... Jangan ngeyel kalau dibilangin!" Aksa menajamkan tatapan.
"Iya, iya, gitu saja marah." Inara mengerucutkan bibir.
"Bukan marah sayang, kamu sih gak ngerti dibilangin. Kakak tidak mau terjadi apa-apa sama kamu, sudah Kakak bilangin posisi kamu tidak seperti dulu. Banyak bahaya yang mengintai," jelas Aksa.
Setelah giliran Aksa tiba, dia membeli dua tiket untuknya dan Inara. Selepas itu keduanya berjalan menuju toilet. Aksa berdiri tepat di depan pintu menunggu Inara, dia harus tetap waspada setelah kejadian kemarin. Bisa saja musuh dari Onic mengintainya di tempat itu, mereka pasti membuat rencana lain setelah Aksa menghabisi anak buah Oberoi.
Tidak berselang lama, Inara keluar dari toilet. Aksa menggenggam tangannya dan kembali menuju lobby.
"Mau beli cemilan gak?" tawar Aksa.
__ADS_1
"Kenyang, tapi aku mau es krim. Boleh kan?" sahut Inara sembari menunjuk kios es krim yang ada di dalam gedung.
"Hehehe... Kayak anak kecil saja," Aksa mengukir senyum dan mengacak rambut Inara dengan sayang. "Ayo, mau rasa apa?" imbuh Aksa.
"Rasa coklat vanilla," jawab Inara enteng.
Sesuai permintaan Inara, Aksa memesan es krim rasa coklat vanilla. Setelah mendapatkan es krim tersebut, keduanya masuk ke aula bioskop. Mereka duduk di bagian belakang.
"Film apa sih, rame banget." ucap Inara saat menatap sekelilingnya. Banyak pasangan muda mudi yang sudah duduk menunggu film diputar.
"Kakak gak tau. Film gak penting, yang penting tuh bisa berdua sama kamu." seloroh Aksa mengulum senyum.
"Heh... Gombal," Inara tersipu malu dengan pipi bersemu merah.
Saat film diputar, lampu di dalam aula tersebut dimatikan. Ruangan menjadi gelap dan hanya mendapat penerangan dari layar yang menyala.
Aksa mengikis jarak dan melirik Inara dengan intim. "Cicip dong, dari tadi sibuk sendiri saja."
"Loh, kenapa tadi gak ikut beli?" Inara menautkan alis.
"Kakak maunya bekas kamu, kalau beli rasanya gak enak." seloroh Aksa.
"Hmm... Gombal lagi deh," Inara mencebik.
"Hei Tuan mesum, bisa jaga sikap gak? Ini tempat umum loh," Inara mendengus kesal dengan mata melotot tajam.
"Biarin, emang Kakak pikirin. Mereka semua juga pada sibuk sendiri kok. Untuk apa mikirin mereka?" Aksa mengukir senyum dan menarik pinggang Inara semakin dekat, lalu melahap es krim yang ada di tangan Inara dengan leluasa.
Setelah es krim yang ada di tangannya habis, Inara mulai fokus menatap layar. Sepertinya film kali ini sedikit menguras emosi. Aksa sesekali mengepalkan tangan, gregetan melihat pemeran wanita yang sangat keras kepala.
Sedangkan Inara sendiri nampak sedih dengar tangan saling meremas. Dia merasa hidup tak adil buat si pemeran wanita yang terlalu menderita, nyesek sampai ulu hati.
Aksa yang menyadari itu langsung mengikis jarak diantara mereka, dia melingkarkan tangan di pinggang Inara dan menarik gadis itu ke dalam dekapan dadanya.
Inara yang sudah terbawa perasaan tanpa sadar ikut melingkarkan tangannya di pinggang Aksa dan memeluknya sangat erat. "Kak Aksa jangan seperti itu ya, aku takut." lirih Inara dengan mata berkaca.
Aksa mengerutkan kening. "Kenapa takut?" tanya Aksa penasaran.
"Aku takut Kak Aksa juga membagi cinta untuk wanita lain, aku takut cintaku kalah dengan wanita itu." ungkap Inara.
Entah sadar atau tidak, jelas ucapan Inara itu mampu mengguncang tubuh Aksa, jantung Aksa berdegup kencang secepat lari maraton.
Senang?
__ADS_1
Ya, Aksa sangat senang mendengarnya. Itu artinya Inara juga mencintai sosok Aksa, bukan Akbar saja.
"Seberapa cinta kamu sama Kakak?" tanya Aksa ingin tau.
"Banyak dan sangat, aku takut cinta ini tidak menemukan jalannya. Aku takut orang tua kita menentang hubungan ini." lirih Inara.
"Jika menikah adalah satu-satunya jalan agar mereka merestui hubungan kita bagaimana? Bukankah kamu tidak ingin menikah dengan Kakak?" tanya Aksa memastikan.
"Aku mau, tapi aku masih kuliah. Aku ingin mengejar cita-citaku terlebih dahulu." sahut Inara.
"Kelamaan sayang, kamu keburu dijodohkan kalau nunggu selesai kuliah." Aksa mengingatkan kembali tentang perjodohan itu, dia tau Hendru tidak akan main-main dengan ucapannya.
"Menikahlah dengan Kakak, Kakak janji tidak akan mengekang kamu setelah itu. Kamu masih boleh kuliah, kamu juga boleh jadi dokter sesuai keinginan kamu tapi tetap di bawah pengawasan Kakak." terang Aksa.
"Bagaimana kalau setelah menikah aku langsung hamil? Aku tidak mau," keluh Inara.
Seketika Aksa tersentak, apa maksudnya coba? Apa Inara tidak mau mengandung anaknya? Lalu untuk apa menikah kalau begitu? Bukankah setiap rumah tangga menginginkan kehadiran seorang anak untuk melengkapi kebahagiaan mereka?
"Kamu tidak bersedia mengandung benih dari Kakak?" Aksa merenggangkan pelukannya, tentu saja dia kecewa mendengar penuturan dari mulut Inara barusan.
Inara terdiam sejenak. Sesaat setelah kesadarannya kembali, dia mendongak dan menatap manik mata Aksa dengan penerangan seadanya.
"Kak Aksa, bukan itu maksud aku. Tapi-" Inara mencoba menjelaskan tapi Aksa keburu memalingkan wajahnya.
"Kak Aksa, lihat aku dulu!" Inara menangkup tangan di pipi Aksa dan memutar wajah pria itu ke arahnya. "Aku mau, tapi maksudnya diundur dulu sampai aku benar-benar jadi dokter. Kalau masih kuliah kan repot,"
"Bohong..." Aksa menggembungkan pipi, sengaja ingin melihat reaksi Inara.
"Astaga Kak Aksa, gak percayaan banget sih jadi orang." Inara menautkan alis, bingung bagaimana cara menjelaskannya.
"Bagaimana mau percaya? Kamu kan cintanya sama Akbar, bukan sama Kakak." ketus Aksa.
"Ya Tuhan, Kakak bego apa bodoh sih? Bukankah kalian berdua adalah orang yang sama? Tidak peduli aku mencintai siapa? Yang jelas raganya tetap ini kan?" Inara mencebik dan meninju dada Aksa saking geramnya melihat tingkah konyol kakaknya itu.
"Hahahaha..." Aksa tertawa terbahak-bahak dan menarik Inara kembali ke dalam dekapannya. "Tapi Kak Aksa ingin kamu mencintai pria yang ada di hadapan kamu ini sayang."
"Iya, aku cinta sama Tuan galak ini. Puas!" Bukannya marah, Inara malah ikut tertawa dan menggigit dada Aksa gemas.
"Aww... Sakit sayang, jangan mancing-mancing!" Aksa mengangkat dagu Inara dan mengesap bibir gadis itu dengan cepat.
"Mmphh... Tuan galak gila, dasar mesum!" Inara mendorong wajah Aksa dan mengalihkan pandangannya. Meski sebenarnya dia suka tapi tetap saja dia malu dicium di tempat umum seperti itu.
Bersambung...
__ADS_1