Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 60.


__ADS_3

"Terima kasih untuk tumpangannya," ucap Rai setelah memarkirkan mobil Avika. Gadis itu hanya mengangguk tanpa bicara, lalu keduanya turun bersamaan.


"Cie cie, tumben pulangnya ada yang nemenin. Sepertinya status jomblo Kak Avika sudah berakhir nih," seloroh Aryan yang baru saja memarkirkan sepeda motor miliknya di garasi. Dia baru pulang dari kampus.


"Teg!" Avika menjitak kepala Aryan saking kesalnya.


"Aww..." Aryan meringis.


"Hati-hati jika bicara, kamu tau kan kalau dia itu sahabatnya Kak Aksa? Jadi jangan mengada-ada!" geram Avika dengan tatapan masam.


"Iya tau, tapi kan-"


"Jangan berpikir macam-macam, Aryan! Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa, tadi kami tidak sengaja bertemu di kantor Papa. Kakak hanya kasihan karena tidak ada taksi yang lewat di sana." Avika mencoba menjelaskan.


"Ya, kakakmu benar. Kami tidak ada hubungan apa-apa, kalau begitu permisi." Rai ikut menimpali lalu meninggalkan mereka berdua di sana.


Rai tau persis bagaimana tipe gadis kaya seperti Avika. Gadis manja yang selalu disuguhi dengan segala kemewahan yang ada. Mana mungkin Rai dapat menjangkaunya? Sebelum hatinya terluka, lebih baik dia mengubur perasaan itu dalam-dalam.


Rai terlahir dari keluarga sederhana, sejak SMA dia selalu mendapat beasiswa karena kepintarannya. Hal itulah yang membawanya sampai ke Seoul dan bertemu dengan Aksa sekitar tiga tahun yang lalu.


Waktu itu Rai baru saja mengalami insiden kecil yang membuatnya harus berurusan dengan mafia. Aksa lah yang membantunya dan membawanya menjadi bagian dari Alliance.


"Kak, tapi Rai itu keren loh. Selain tampan dia juga pekerja keras. Kakak yakin tidak tertarik padanya?" goda Aryan saat mereka berdua berjalan memasuki rumah.


"Apaan sih Aryan? Jangan ngaco!" ketus Avika dengan tatapan kesal.


"Tapi hal itu bisa saja terjadi kan Kak? Dia sepertinya berasal dari keluarga baik-baik, orangnya juga gak neko-neko." kata Aryan.


"Cukup Aryan! Dari pada mikirin itu lebih baik kamu mikirin Kak Aksa, kita sudah ditipu habis-habisan sama dia." ucap Avika mengalihkan pembicaraan.


"Ditipu bagaimana?" Aryan mengerutkan kening.


"Kak Aksa akan menikah, kamu pasti belum tau kan?" terang Avika.


"Menikah?" Aryan lagi-lagi mengerutkan kening. "Menikah sama siapa? Jangan bercanda Kak? Memangnya Kak Aksa punya pacar? Dia kan baru pulang dari Seoul,"


"Kaget kamu kan? Begitu juga dengan Kakak saat pertama kali mengetahui ini. Apalagi jika kamu tau siapa calon istri kakakmu itu." ucap Avika.


"Memangnya siapa Kak?" tanya Aryan penasaran.


"Dia kakakmu juga," jawab Avika cepat.

__ADS_1


"Kakakku?" Aryan menyipitkan mata. "Kakak yang mana?" imbuh Aryan.


"Pikir saja sendiri! Siapa kakak perempuanmu selain aku?" Avika tidak menyebutkan siapa orangnya, dia malah menyuruh Aryan memikirkannya sendiri.


"Selain Kak Avika?" Aryan berpikir sejenak. "Kakakku cuma tiga, Kak Aksa, Kak Avika sama Kak... Hah, jangan bilang Kak Inara," Aryan membulatkan mata dengan sempurna.


"Seratus buat kamu," Avika mengacungkan jempol.


"Jadi benar?" Aryan menutup mulutnya yang sudah menganga. Sulit dipercaya.


"Awalnya Kakak juga tidak percaya, tapi Papa sama Ayah sendiri yang mengatakannya. Ayah bahkan sudah mengurus surat nikah mereka di kantor KUA." jelas Avika.


"Ya Tuhan, berarti kita dikibuli dong. Pasti semua orang yang ada di rumah ini sudah tau." Aryan mendengus kesal.


"Jelas, kita saja yang kudet jadi adik. Awas saja jika ketemu mereka berdua nanti, Kakak bejek-bejek sampai hancur. Apalagi Kak Aksa tuh, dulu sok-sokan membenci Inara, sekarang malah jatuh cinta. Dasar munafik!" gerutu Avika.


"Benar, Aryan setuju. Dulu tiap hari bikin Kak Inara nangis, pakai ngatain gendut dan hitam segala. Apa ini yang disebut senjata makan tuan? Tidak tidak, karma kali ya." timpal Aryan.


"Entahlah, tapi yang jelas Kakak mau bikin perhitungan sama mereka berdua."


Setelah mengatakan itu, Avika masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Aryan.


...****************...


"Hmm..." Inara bergumam dan mempererat pelukannya. "Tapi masih ngantuk," dessah Inara.


"Masih ngantuk atau pengen dipeluk terus?" seloroh Aksa mengulum senyum.


"Dua-duanya," gumam Inara, dia kembali memicingkan mata.


"Hehehe... Enak ya dipeluk seperti ini?" Aksa menyipitkan mata.


"Enak banget, apalagi kalau-" Inara menghentikan ucapannya.


"Kalau apa?" tanya Aksa penasaran.


"Gak jadi," ucap Inara.


"Loh, kok gak jadi? Jangan bikin penasaran dong sayang!" Aksa mengerutkan kening.


"Aku lapar Kak, pesan makanan dong!" Inara mengalihkan pembicaraan, perutnya terasa sangat lapar.

__ADS_1


Mendengar itu Aksa kemudian meraih iPhone miliknya yang tergeletak di atas nakas, dia membuka aplikasi Gofood dan memesan beberapa macam makanan lengkap dengan minuman yang disukai Inara.


"Sudah, mau apa lagi?" tanya Aksa.


"Itu saja," gumam Inara.


"Kakak mau mandi sebentar, mau mandi bareng gak?" tawar Aksa.


"Mau... Tapi nanti setelah kita menikah," Inara mengulum senyum.


"Ais, itu mah sudah pasti. Maksud Kakak tuh sekarang. Mau ya?" bujuk Aksa penuh harap.


"Hehehe... Dasar Tuan galak mesum!" Inara menggigit permukaan dada Aksa.


"Aakhh..." Bukannya meringis sakit, Aksa malah mengerang menikmati rasa yang entah.


"Sayang, ayolah! Kakak janji tidak akan menyentuh yang satu itu." Suara Aksa terdengar serak saat memohon pada Inara.


"Malas, janji hanya tinggal janji kalau otaknya sudah tidak berfungsi." sindir Inara.


"Sayang..." Aksa melepas pelukannya dan memanjat tubuh Inara. Deru nafasnya terdengar kian memburu.


"Mau ngapain?" Inara membulatkan mata.


"Mau makan kamu," Aksa mengulas senyum nakal dan menahan kedua tangan Inara agar tidak memberontak.


Langsung saja Aksa membungkam bibir mungil adiknya itu dan melu*matnya dengan penuh kelembutan. Inara terbawa dan membalas lu*matan itu. Suara decapan keduanya menyatu mengisi kehampaan kamar itu.


Tak berhenti di sana, Aksa beralih mengecup daun telinga Inara dan memberikan gigitan kecil di sana lalu menghujani leher Inara dengan kecupan bertubi-tubi. Inara menggeliat dengan nafas yang sudah tak beraturan.


"Kak Aksa..." dessah Inara.


Aksa mengangkat kepala dan mengecup kening Inara dengan sayang. "Maaf ya sayang, belum boleh." Aksa mengulum senyum, kemudian beranjak dari tubuh Inara.


"Jahat banget sih," Inara mengerucutkan bibir.


"Hehehe... Sabar ya, kalau sudah sah pasti Kakak berikan. Sekarang Kak Aksa mandi dulu," Aksa turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.


Inara hanya diam sambil menghela nafas berat. Rasanya seperti nano-nano, semua rasa membaur jadi satu.


Tidak lama, seorang kurir datang mengantar pesanan. Inara mengambilnya dan menata makanan itu di atas meja makan. Setelah semua beres, Inara kembali ke kamar. Dia juga mau mandi untuk menyegarkan diri setelah kena prank tadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2