
Usai nonton, kedua anak manusia itu meninggalkan bioskop. Di perjalanan, Inara tak sengaja melihat pasar malam yang digelar di pinggir jalan. Mendadak jiwa kekanak-kanakan Inara meronta-ronta seketika itu juga.
Waktu kecil Inara ingin sekali naik wahana yang ada di pasar malam seperti itu, tapi baik Arhan maupun Hendru tak ada satupun yang mengizinkan. Apalagi Aina dan Nayla, mereka tidak ingin anak-anak berdesak-desakan di tempat seperti itu.
"Kak..." seru Inara saat motor yang dikendarai Aksa melintasi kawasan tersebut.
"Hmm... Kenapa Ra?" sahut Aksa, dia melirik dari kaca spion.
"Mampir di situ yuk, aku pengen banget naik wahana itu." pinta Inara, dia menunjuk pasar malam itu.
"Ciiiiit!"
Mendadak Aksa menginjak rem yang membuat Inara terkejut, sepeda motor itu kemudian menepi di pinggir jalan. "Ngomong apa tadi? Kakak tidak dengar." tanya Aksa sambil menoleh ke belakang.
"Aku mau naik wahana itu Kak. Itupun kalau boleh, kalau tidak juga tidak apa-apa." jawab Inara.
Aksa mengerutkan kening. "Yakin mau naik itu?"
"Iya, dari kecil pengen banget tapi belum kesampaian." Inara mengerucutkan bibir.
"Ya sudah, ayo turun!" ajak Aksa.
"Jadi boleh?" Inara mengukir senyum, senang sekali rasanya diperbolehkan naik wahana tersebut.
"Iya boleh, buat kamu apa sih yang enggak." Aksa ikut tersenyum dan memarkirkan motornya, keduanya turun dan masuk ke dalam pasar malam.
Sesampainya di dalam, Aksa membeli tiket bianglala sesuai permintaan Inara. Sebenarnya Aksa tidak begitu suka, dia takut mabuk, tapi demi Inara apapun akan dia lakukan agar adiknya senang.
Inara nampak begitu bahagia, senyum di bibirnya tak henti mengambang. Dia memeluk lengan Aksa erat saat naik ke dalam bianglala itu. Berbeda dengan Aksa yang mulai terlihat kaku, wajahnya memucat saat duduk di dalam sana.
"Kak Aksa kenapa? Kakak takut ya?" tanya Inara saat menangkap air muka Aksa yang tiba-tiba menggelap.
"Ti-Tidak, siapa yang takut?" sanggah Aksa, dia mengerutkan kening dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia tidak ingin terlihat cemen di dekat Inara.
Saat bianglala mulai berputar, Aksa memicingkan mata barang sejenak. Gugup, tentu saja, tapi dia berusaha menenangkan diri.
"Aaaaa..." Inara berteriak kencang saat posisi mereka sampai di puncak. Dia tak hentinya memeluk Aksa yang kini sedang berusaha tenang, tapi tetap saja perutnya mulai mual saat bianglala berputar kencang.
__ADS_1
"Kak Aksa, ini menyenangkan sekali." sorak Inara yang tidak ada takut-takutnya sedikitpun.
"Hmm..." Aksa hanya bergumam menahan mual yang semakin mengocok perut.
"Uuuuu..." Inara merentangkan tangan, rambutnya berterbangan diterpa angin.
"Jangan dilepas sayang, nanti jatuh!" Aksa menarik Inara ke dalam pelukannya. Sebenarnya bukan takut jatuh, tapi karena dia sudah tak kuat lagi menahan mual.
"Astaga, ini kapan berhentinya ya? Masa' aku harus muntah di sini? Malu-maluin saja," batin Aksa. Dia memeluk Inara dengan erat sembari menutup mata.
Beberapa menit berlalu, akhirnya bianglala itu berhenti berputar. Aksa bergegas turun dan menarik tangan Inara ke tempat sepi.
"Huweek..." Aksa tak bisa lagi menahan. Semua isi perutnya keluar hingga matanya memerah, dahinya mengeluarkan keringat dingin.
"Kak Aksa tidak apa-apa?" Inara menepuk-nepuk punggung Aksa pelan.
"Tidak apa-apa, lain kali jangan ajak Kakak naik ini lagi!" keluh Aksa setelah perutnya terasa lebih enak.
"Mana aku tau Kakak bakalan mabuk kayak gini. Kenapa tidak ngomong dari tadi?" Inara menautkan alis.
"Kalau ngomong, nanti kamu kecewa. Katanya pengen naik," terang Aksa.
"Sudah, tidak apa-apa. Yang penting kamu senang dan sudah ngerasain gimana rasanya naik bianglala itu." Aksa mengikis jarak dan mengecup pucuk kepala Inara dengan sayang. "Sekarang mau apa lagi?" imbuh Aksa.
"Sudah cukup, kita pulang ke apartemen saja." ajak Inara.
Aksa melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baru jam tujuh, main saja dulu sepuasnya."
"Nanti Kakak mabuk lagi," Inara mengerucutkan bibir.
"Tidak, asal jangan naik itu lagi." Aksa mengukir senyum dan mengacak rambut Inara dengan sayang. Keduanya kembali masuk ke dalam keramaian.
Setelah berputar-putar menyisir area pasar malam itu, Inara menunjuk lapak lukis. Tiba-tiba saja dia pengen melukis seperti anak kecil yang sedang asik bersama orang tua mereka.
"Aku mau mewarnai itu, boleh gak?" tanya Inara sambil menunjuk barisan anak kecil yang berjejer rapi.
"Boleh, ayo!" Aksa mengayunkan kakinya ke lapak tersebut, Inara tersenyum sumringah sambil memeluk lengan Aksa.
__ADS_1
"Bang, minta alat lukisnya dong!" seru Aksa pada penjaga lapak.
"Iya Bang, tunggu sebentar!"
Setelah menunggu satu menit, penjaga lapak memberikan kuas dan pewarna pada mereka. Inara duduk di bangku kecil dan Aksa duduk di belakangnya, dada Aksa menempel dengan punggung Inara.
Inara memilih gambar Elsa, dia mulai mewarnai gambar tersebut dengan hati-hati. Aksa ikut membantunya dari belakang, sesekali pria itu mencuri kesempatan mengecup pundak dan tengkuk Inara.
"Yeay, selesai." sorak Inara sangat antusias. Anak-anak yang ada di lapak itu tertawa melihat tingkah lucu Inara.
"Bagus banget Kak, gambarnya untuk aku saja ya!" pinta seorang gadis cilik yang duduk di samping Inara.
Inara menautkan alis, lalu memutar leher menghadap Aksa.
"Kasih saja, untuk apa juga bawa gambar itu pulang? Kamu kan bukan anak kecil lagi," ucap Aksa.
"Ini, ambillah!" Inara menyodorkan gambar miliknya pada gadis kecil itu.
"Yeay, makasih Kakak cantik." Gadis kecil itu bersorak kegirangan.
"Iya, sama-sama." Inara tersenyum dan mencubit pipi gadis kecil itu gemas.
Setelah Aksa membayar gambar itu, keduanya meninggalkan lapak. Perut Inara mulai keroncongan, dia ingin sosis bakar, telur gulung dan beberapa jajanan lainnya. Aksa pun membelikan semua yang diinginkan Inara.
Sebelum pulang, keduanya duduk di trotoar menyantap jajanan yang mereka beli tadi. Inara tak hentinya tersenyum, sesekali dia menyuapi Aksa hingga mulut pria itu belepotan kena saos.
"Pelan-pelan sayang, belepotan kan?" keluh Aksa.
"Sini, biar aku bersihin!" Inara menoleh ke sana kemari. Saat menyadari tak ada yang melihat mereka, Inara dengan cepat membersihkan sudut bibir Aksa dengan lidahnya.
"Astaga sayang, nakal banget sih." Aksa mengulum senyum, ingin sekali dia melahap bibir itu tapi situasi tak berpihak padanya.
"Hehehe... Enak," Inara tertawa kecil, hal itu membuat Aksa benar-benar gemas.
"Sudah, ayo pulang!" Aksa bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan pada Inara, lalu keduanya naik ke atas motor.
Tanpa diminta, Inara langsung memeluk pinggang Aksa. Motor itu melesat kencang menuju kediaman Airlangga.
__ADS_1
Bersambung...