Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 92.


__ADS_3

Pukul tujuh malam mobil yang dikendarai Rai sudah tiba di depan kediaman Airlangga. Seketika mata Dara melebar menyaksikan rumah besar nan megah itu. Seumur-umur baru kali ini dia melihat rumah semewah itu. Apa dia sedang bermimpi?


"Ayo turun!" seru Aksa setelah membukakan pintu belakang.


Dara mengangguk lemah dengan tatapan bingung, dia lekas turun dan berdiri mematung di samping mobil. Dia tidak bergerak sama sekali meski Aksa sudah berjalan memapah Aryan menuju pintu utama.


"Kenapa bengong? Ayo masuk!" Tanpa pikir Rai langsung saja meraih tangan Dara dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di ruang tengah, semua mata langsung tertuju pada mereka berempat. Tidak terkecuali dengan Avika yang tiba-tiba menggembungkan pipi saat menangkap kondisi tangan Rai yang masih menggenggam erat tangan Dara.


"Brengsek!" umpat Avika dalam hati. Dia membuang muka kesal dan berlalu pergi begitu saja.


Cemburu?


Tentu saja, dia sangat cemburu melihat itu. Belum apa-apa saja Rai sudah berani mengumbar kemesraan dengan wanita lain. Bagaimana nanti?


Sadar akan reaksi Avika yang mendadak berubah aneh, Rai terperanjat dan dengan cepat melepaskan tangan Dara. Bodohnya dia karena tak berpikir sampai ke sana, padahal niatnya baik agar Dara tidak canggung memasuki rumah itu.


"Ya Tuhan, pasti dia salah paham." batin Rai sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Rai memutuskan meninggalkan ruang tengah dan menyusul Avika menuju lantai atas. Beruntung tidak ada seorangpun yang menyadari kepergiannya karena tatapan semua orang tengah tertuju pada Aryan.


"Aryan..." seru Aina. Dia berhamburan ke pelukan Aryan dan memeluknya erat. Satu minggu tak bertemu membuatnya sangat rindu dengan putra bungsunya itu.


"Aww... Sakit Ma," rintih Aryan saat lukanya tak sengaja tersentuh oleh Aina.


Sontak Aina terperanjat dan melepaskan pelukannya. "Aryan, kamu terluka?" lirih Aina dengan tatapan khawatir.


"Cuma luka kecil kok Ma," jawab Aryan.


"Luka kecil bagaimana?" Aina mendengus kesal. Sebanyak itu darah yang berlumuran di baju Aryan, malah dia bilang hanya luka kecil.


"Sayang, kamu bisa mengeluarkan peluru dari lengan Aryan kan?" tanya Aksa pada Inara yang masih berdiri di samping Nayla.


"Bi-Bisa Kak, apa Aryan kena tembak?" tanya Inara balik.


"Iya, kalau begitu kamu tolongin Aryan dulu ya." pinta Aksa yang dijawab anggukan kepala oleh Inara.


Kemudian Aksa membaringkan Aryan di atas sofa. Inara lekas berlari ke kamarnya dan mengambil peralatan medis yang dia punya. Lalu kembali ke bawah dan mengeluarkan peluru yang masih bersarang di lengan Aryan.

__ADS_1


"Aww... Pelan-pelan Kak, sakit." rintih Aryan saat Inara mencongkel lengannya. Saking sakitnya mata Aryan sampai berkaca dibuatnya.


"Jangan cengeng Aryan, kamu itu laki-laki!" selang Aksa dengan senyuman mengejek.


"Tapi ini sakit loh Kak, jangan bisanya ngomong doang." ketus Aryan kesal.


"Ck... Dasar anak manja!" ejek Aksa.


"Ma, bisa minta tolong sumpal mulut putra kesayangan Mama itu gak? Aryan pusing dengerin ocehannya dari tadi." adu Aryan pada Aina.


"Aksa, cukup Nak!" Aina menajamkan tatapan ke arah Aksa.


"Iya Ma, Aksa diam." Aksa menggerakkan tangan di bibirnya seolah-olah tengah menutup resleting.


Tidak lama, sorot mata Aina tertuju pada gadis cantik yang tengah mematung di tempatnya berdiri. Gadis itu nampak gelisah dengan manik mata yang terus saja bergerak menatap sekelilingnya. Dia masih belum percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Sayang, kamu siapa Nak?" tanya Aina dengan penuh kelembutan.


"Dia Dara Ma," jawab Aryan dengan cepat. Sontak mata semua orang terbelalak, termasuk Inara yang masih fokus mengeluarkan peluru di lengannya.


"Aww... Sakit Kak, Kakak sengaja ingin membunuhku ya? Ada dendam apa Kakak padaku?" ketus Aryan saat Inara tak sengaja mengapit dagingnya.


"Ma-Maaf Aryan, Kakak tidak sengaja." Inara terbata dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"Dara..." lirih Aina dengan tatapan sendu. "Apa kamu benar-benar Dara, Nak?" tanya Aina memastikan. Air matanya tiba-tiba jatuh saat menangkup tangan di pipi gadis itu.


Dara menautkan alis, dia bingung dengan reaksi semua orang yang tengah fokus menatap dirinya. Apalagi sentuhan tangan Aina yang membuatnya seakan merasakan sentuhan seorang ibu. "I-Iya," angguk Dara gugup.


"Dara..." tanpa pikir Aina langsung mengecup kening gadis itu, lalu memeluknya dengan erat. "Sayang, maafkan Mama ya Nak. Mama sudah gagal mendidik Aryan." Aina terisak sembari mengelus rambut Dara. Gadis itu nampak semakin kebingungan.


Mama?


Seumur hidup baru kali ini Dara mendengar panggilan itu. Siapa wanita yang tengah memeluknya saat ini? Kenapa dia mengakui dirinya sebagai Mama di hadapan Dara?


"Sayang, Papa juga minta maaf ya Nak. Papa juga gagal mendidik Aryan," Arhan melangkah mendekati Aina dan Dara, lalu memeluk keduanya dengan perasaan tak menentu.


"Kalian siapa?" tanya Dara heran, tubuhnya tiba-tiba gemetaran. Dia mendorong suami istri itu dan mundur beberapa langkah.


"Maaf, kalian pasti salah orang. Aku tidak punya Papa dan Mama, aku-" Dara langsung berbalik dan berlari menuju pintu utama.

__ADS_1


Sepertinya dia salah tempat, dia tidak layak mendapatkan pelukan seperti tadi. Dia hanya sampah dan selamanya akan tetap seperti itu.


"Kak, kejar dia. Jangan biarkan dia pergi, tolong Kak!" pinta Aryan pada Aksa.


Aksa mengangguk lemah dan berlari menyusul Dara. Arhan dan Aina ikut berlari mengejar mereka.


"Dara tunggu!" seru Aksa. Sayang gadis itu tidak mengacuhkannya sama sekali. Dara terus saja berlari menuju gerbang.


"Pak Anang, kunci gerbangnya!" teriak Aksa dengan lantang. Pak Anang yang baru saja menutup gerbang lekas mengangguk dan memasang gembok hingga Dara tak bisa meninggalkan tempat itu.


"Pak, tolong buka pagarnya!" pinta Dara dengan air muka memelas, dia menangkup tangan memohon.


"Maaf Non, Bapak hanya menjalankan perintah." ucap Pak Anang.


"Dara..." seru Aina dan Arhan bersamaan.


Dara berbalik dan menangkup tangan dengan air mata yang berjatuhan di pipinya.


"Tolong biarkan aku pergi, tempatku bukan di sini. Aku-"


Ucapan Dara terhenti saat Aina meraih tubuh kecilnya dan memeluknya dengan erat. Hati Aina benar-benar hancur, entah apa yang sudah dialami gadis itu selama ini sehingga dia terlihat sangat ketakutan.


"Sekarang tempatmu di sini, Nak. Kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini." lirih Aina sembari membelai rambut Dara.


"Tidak, aku tidak bisa-"


"Dara..." seru Aryan. Dia lekas menyusul setelah Inara berhasil mengeluarkan peluru dari lengannya dan memasang perban untuk menghentikan pendarahan. Aina segera melepaskan tubuh kecil gadis itu.


"Kamu tidak boleh pergi kemana-mana, kita akan menikah dan kamu akan menjadi istriku." tegas Aryan dengan penuh keyakinan.


Seketika mata Dara membulat dengan sempurna. "Menikah?" gumamnya dengan tatapan sayu.


"Tidak Aryan, kamu salah orang. Aku tidak akan menikah dengan siapa-siapa. Aku-"


"Aku apa? Aku kotor maksudmu?" sambung Aryan.


Lagi-lagi mata Dara membulat dengan sempurna. Apa maksud Aryan? Apa Aryan tau bahwa dia sudah tidak perawan? Sederet pertanyaan mulai membelit di benak Dara.


"Aryan, aku-"

__ADS_1


"Sudah, sekarang ikut aku!" Aryan meraih pergelangan tangan Dara dan membawanya memasuki rumah. Arhan, Aina, dan Aksa pun menyusul dari belakang.


Bersambung...


__ADS_2