
Sebelum membaca, pastikan Anda sudah cukup umur dan sedang dalam suasana yang bagus. Mungkin novel ini akan sedikit menguras emosi Anda, tapi mohon untuk berkomentar yang BIJAK.
Saya ulangi, Mohon Berkomentar Bijak. Jika tidak menyukai alur atau jalan ceritanya, Anda bisa meninggalkannya.
Selamat membaca dan terima kasih.
...πππππππππππππ...
...Jika cinta itu penyakit, ...
...maka, pernikahan adalah penawarnya....
...Lantas, ...
... bagaimana jika pernikahan yang disebut-sebut sebagai penawar, ternyata lebih menyakitkan?...
...\~KayKha\~...
βRa, selama menikah, kamu ngerasa mas Abram menyembunyikan sesuatu ngak?β Dania, menatap sahabat baiknya, Zahra.
__ADS_1
βTanya apa sih kamu ini?β Dengan gampangnua Zahra mengabaikan Dania dan fokus menatap layar ponsel yang menerima sebuah pesan.
βAku ini udah dua tahun menikah, keluarga juga udah kenal. Menyembunyikan sesuatu ....β Zahra terkekeh pelan, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
βJangan ngaco!β Lanjut Zahra acuh tak acuh.
Dania menghela napas panjang nan berat. Sesekali menatap gelas, lalu menatap Zahra. βRa, aku serius!β Dania mencoba mengambil titik fokus Zahra sembari menjentikkan jari beberapa kali.
βOke oke, ngomong yang jelas!β Nada bicara Zahra mulai meninggi dan terdengar tidak sabar.
Dania segera mengambil ponsel yang ditaruh di meja, membuka kunci, dan kemudian menyodorkannya pada Zahra. βCoba lihat!β ucapnya.
Raut wajah Zahra terlihat cukup engan mengambil ponsel Dania. Namun pada akhirnya, ia tetap mengambil ponsel milik sahabat sepuluh tahunnya. Ditatapnya layar tipis berteknologi canggih dengan cermat. Wajahnya terlihat kecut, kala netra matanya fokus melihat sebuah foto. Seorang wanita dan pria yang terlihat cukup mesra, menghadap ke kamera dengan senyum lebar.
Buru-buru ia meletakkan ponsel di atas meja dan mengelak dengan cepat, βAh, itu rekan kerjanya!β
βRa, jangan konyol ya! Bucin juga jangan gitu-gitu banget! Mana ada rekan kerja, tangannya sampe melingkar di pinggang macam uler!β Dania melotot kesal.
Wajah Zahra mulai gusar. Matanya melihat jelas tangan sang suami yang melingkar di pinggang si wanita. Namun pikirannya ngotot, ada kepercayaan, jika sang suami tidak mungkin berpaling muka darinya.
__ADS_1
βNa-nanti aku tanya deh!β Zahra mencoba menenangkan hatinya, juga menjaga citra sang suami di hadapan Dania.
βDih, Ra ....β Dania memutar mata. βMana ada ceritanya maling mau ngaku? Gini deh, coba kamu selidiki dulu, Abram beneran nyeleweng atau engak?β
Hati istri mana yang tak resah?
Meski pikirannya dipaksa untuk percaya bahwa suaminya sangat setia. Perasaan wanita, tetap bisa rapuh.
βNia, a-aku pulang dulu ya.β Zahra buru-buru memasukan ponselnya ke dalam tas, hendak pergi dari hadapan Dania. Menyembunyikan perasaan sakit yang tiba-tiba menusuk hati.
βAre you oke, Ra?β Cekal Dania memegang tangan Zahra. βMau jalan dulu gak? Ke taman atau ... mau ke kosku?β
Zahra terdiam, menatap sahabatnya dengan pandangan nanar. Matanya terlihat fokus, tapi siapa yang sangka, tatapannya sudah terbang entah kemana. Membayangkan hal-hal yang sedikit mengusik.
βJangan ditahan sendiri, Ra.β
βAku mau nenangin diri dulu, Sorry!β
Zahra beranjak pergi setelah berkata demikian, meninggalkan Dania yang masih duduk di kursi. Buru-buru keluar dari cafe dan menaiki mobil pemberian Abram. Memacu pedal gas di jalanan kota Malang yang sedikit padat.
__ADS_1
...πππππππππ...
Jangan lupa untuk meninggalkan komentar yang baik dan bijak. Jika suka, jangan lupa like dan masukkan ke daftar Favorit. Jika tidak, Anda bisa langsung meninggalkannya.