Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 8


__ADS_3


...Zahra Pov...


Saat itu, aku seperti berada di ambang hidup dan mati. Ruang operasi begitu dingin, sangat dingin bahkan sampai menusuk tulang. Baru aku sadari, sekalipun suamiku, Abram, ada di sini, dia juga tak mungkin bisa menggengam tanganku untuk melewati semua ini.


Pikirku, biarkan saja tanpa dia, toh aku bisa sendiri. Namun pada akhirnya, saat aku membuka mata setelah melewati rasa takut itu, yang kutemukan pertama kali itu Intan. Bayang suamiku saja aku tak nampak. Suara penyemangatnya pun aku tak bisa dengar.


Dia cukup sibuk.


Sangat sibuk.


Oke, aku bisa mengerti. Entah apa pun alasan yang dia buat nanti. Aku coba memahaminya tanpa syarat. Jika ada setan yang membisiki hatiku, akan ku lempar dengan kursi.


Namun kenyataannya, sahabatku justru menjawab panggilan pertama suamiku. Panggilan yang langsung dari ponselku. Bagaimana aku ngak murka? Bagaimana aku gak menerima bisik setan yang tiba-tiba hadir?


Astagfirullah ....'


Dania mencoba menjelaskan, dia memaki suamiku, imamku di rendahkan dan di hardik oleh sahabaku sendiri. Bagaimana aku bisa terima?


Aku ingin marah saat itu. Marah sampai melempar semua benda yang ada di sekitar. Namun aku coba menerima dengan baik. Menyuruhnya meminta maaf pada Abram sudah cukup baik, menurutku.


Namun ... dia menolak.


Sudah habis rasa sabarku. Gak masalah kalau kelihangan dia sebagai teman. Toh, aku masih ada yang lain, yang pasti akan suport aku kedepannya.


Benar, kebutaan hatiku, hampir saja merenggut salah satu teman terbaik. Beruntung, keputusanku saat menghubungi Mulan untuk mencari solusi. Dia, memang seorang kakak yang hebat. Hanya berbeda tiga tahun, tapi pikirannya sudah jauh dewasa.


“Gimana pendapatmu kalau suaminu selingkuh?”


“Pendapatku?”


“Sory, Lan. Aku gak bermaksud mendoakan, naudzubilah jangan sampe. Aku cuma minta pendapat, terlebih kalau nanti punya anak dan ...”

__ADS_1


“Paham, rasa khawatirmu memang besar. Dalam islam, selingkuh tidak dibenarkan, tapi poligami dibenarkan. Terlepas dari mau tidaknya seorang istri di madu atau mendapatkan madu.”


“Aku hidup dengan dia hampir empat tahun, tanpa pacaran dan langsung menikah. Kalau saja itu sampai terjadi, aku akan membuatnya menikahi gadis itu dengan syarat, ia harus adil. Kalau ... kalau nantinya tidak adil, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.”


“Ra, pada akhirnya keputusan ada di tangan kamu. Yang paling tahu perasaan dan keinginanmu ya cuma kamu. Bukan aku, atau orang lain.”


Mendengar beberapa nasehat darinya membuat hatiku sedikit lega. Perasaan yang mengganjal sejak semalam terlepas sedikit demi sedikit. Pada akhirnya, aku memilih untuk mencari beberapa bukti.


Jika ....


Jika memang semuanya nyata, hatiku sudah siap sejak sekarang. Mungkin nanti, kalau benar-benar terbukti, air mata dan kekecewaanku juga gak akan besar. Patah hatiku juga gak parah, move on juga pasti cepat.


Dua orang ini masih tetap di sini menjagaku. Sekali tadi, Dania sempat pulang sebentar, tapi tak sampai satu jam sudah kembali sambil membawa satu tas berukuran sedang.


“Ngapain kamu bawa tas gede, Ni?”


“Buat jaga-jaga kalau ada orang yang ditelantarin lagi!” Goda Dania.


“HP mu getar terus tuh? Gak diangkat?”


“Gak perlu!”


Marah, tentu saja. Istri mana yang tidak marah? Sekarang biar aku balas, mengabaikan semua pesan dan panggilanmu selama kamu mengabaikanku kemarin. Kita lihat, siapa besok yang lebih marah, aku atau dia?


Aku baru saja selesai menunaikan solat isya’, ya, tepat saat Dania membantuku melepas mukena. Dia datang ...


Pangeran kesiangan yang sudah terlambat menyelamatkan sang putri.


Pelukan hangat yang kemarin aku nantikan, kini hadir. Biasanya, pelukan seperti ini terasa cukup manis dan menyenangkan. Namun sekarang, semuanya berubah.


“Bee, Sorry, kerjaan banyak banget. Salah satu proyekku ....”


“Mas!” Potongku tak ingin mendengar apa pun penjelasan darinya.

__ADS_1


Padahal, tadi aku sudah menyiapkan mental dan pikiran untuk menerima semua alasannya. Pada saat terakhir, aku justru muak. Muak karena selalu beralasan yang sama.


Sibuk ...


Gak sempat ...


Banyak proyek ...


Proyek baru ...


Lalu, apa lagi?


“Kamu udah makan belom? Mau makan apa? Bebek goreng, sate?”


Benar-benar gak habis pikir. Dia seorang sajarna, berpendidikan tinggi dan ... dan terlihat seperti orang pandai. Namun kenyataannya sekarang? Dia bahkan gak tau aku baru saja selesai menjalani operasi usus buntu.


“Mas, Dania semalam bawa aku ke sini. Intan sejak tadi pagi belum pulang. Mending tanya mereka mau makan apa?”


Dia terdiam sesaat. Aku melihat raut wajahnya seperti orang yang kecewa.


Kecewa?


Tidak sekecewa aku semalam. Aku cuma minta dia ngucapin makasih ke mereka yang udah jagain aku. Namun, apa yang terjadi?


Aku jadi ragu. Apa dia benar-benar suamiku? Mas Abram? Orang yang aku temui dua tahun lalu?


“Me-mereka kan bisa pesan online? Pesan aja nanti aku yang bayar!”


“Gak perlu. Kita bisa beli sendiri. Ayo Tan!”


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Jangan lupa untuk meninggalkan komentar yang baik dan bijak. Jika suka, jangan lupa like dan masukkan ke daftar Favorit. Jika tidak, Anda bisa langsung meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2