Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 58


__ADS_3

...***Dean datang membawa bukti***...


“Gi-gimana maksudnya? Ma-mama ngak paham.”


Zahra menghela napas panjang. Lalu menatap kedua orang tuanya yang tertuduk, dan menatap mertuanya yang masih penasaran. Lidahnya seakan kelu saat ingin memulai pembicaraan. Tak tahu harus di mulai dari yang mana, karena semuanya terlalu menyesakkan dadanya.


Entah kenapa, pandangannya beralih. Menantap Dean yang berdiri di ambang pintu. Dean mengangguk dengan senyum tipis. Sikapnya seolah sedang memberi Zahra kekuatan.


“Mah, Pah ....” Zahra menatap kedua mertuanya.


“Tiga tahun lalu, atau setahun sebelum Mas Abram datang melamar. Dia ... sudah punya istri.”


Kilat di luar menyambar tanpa gemuruh. Beberapa detik kemudian, terdengar gemuruh yang cukup menggelegarkan, hingga bising di telinga. Namun, gemuruh di luar tak lebih hebat dari berita yang di ucapkan Zahra.


“Zahra lagi becanda ya?”


Zahra tahu, mertuanya pasti menggelak perbuatan anaknya. Ia langsung mengeluarkan ponsel. Disana terdapat banyak berita tentang dirinya sebagai pelakor, bahkan foto Nindira yang sedang akad dengan Abram.


“Mama bisa telfon Mas Abram kalau ngak percaya. Atau ... bisa telfon Tante Ve.”


“Apa hubungannya sama Vera?” Pak Syam sontak berdiri. Tak terima jika adik kesayangannya mendapat tuduhan.


“Karena wanita itu ....” Perkataan Zahra tercekat untuk sesaat, merasakan sesak yang tiba-tiba mencekik kerongkongannya.


“Nindira, adalah keponakan dari suami Tante Ve.”


Lutut Pak Syam seketika lemas, tak mampu menopang berat tubuhnya yang tergolong tinggi dan besar. Pak Syam buru-buru menghubungi Abram, tapi sepertinya Abram tak menjawab. Sampai kemudian ....


“Kamu dimana? Dateng ke rumah abang, sekarang!”

__ADS_1


Aku bisa menebak, kalau papa lagi telfon Tante Ve. Sepertinya, hari ini memang cukup panjang.


Mama mertua Zahra tiba-tiba berdiri. Ia berpindah posisi duduk di samping Bu Ahmed dan memegang tangannya.


“Jeng sudah tahu masalah ini?” tanya Bu Syam sesekali sesengukan menahan tangisnya.


“Zahra baru cerita kemarin.”


Hati wanita paruh baya itu semakin kacau. Zahra pun tak mengira, kalau suami yang dia kenal sebagai sosok yang baik, mampu menipu semua orang. Bukan hanya dia, bahkan orang tuanya pun dia tipu.


Mertua Zahra menangis tersedu-sedu. Ia sendiri tak mengira, anaknya bisa berbuat seperti itu. Melihat istrinya menangis, emosi Pak Syan sedikit meluap. Ia menarik tangan istrinya agar menjauh.


“Nangis apa kamu? Berita itu belum tentu benar!” Seru Pak Syam.


Mendengar pembelaan besannya, Pak Ahmed meradang. Ia mengepal tangannya kuat-kuat, seakan ingin melayangkannya. Namun, tindakan tak terduga datang dari istrinya.


“Mah, Pah. Tenang dulu ya.” Zahra berusaha melerai, tapi tangan Pak Syan tak sengaja mendorongnya hingga Zahra terdorong.


Beruntung, Dean bertindak cepat. Ia pangsung menangkap kepala Zahra yang hampir membentur lantai. Melihat anaknya jatuh, Pak Ahmed berdiri dan berteriak kencang.


“DIAM! Kamu bisa tenang engak!” Suara berat khas seorang bapak-bapak, dengan intonasi yang tinggi, rupanya mampu membuat besannya diam.


Dean, yang baru saja membantu Zahra berdiri, langsung berdiri di tengah-tengah.


“Sudah ya Pak, Om. Kita duduk dulu.


“Kamu siapa? Kenapa ikut campur masalah keluarga?” Tanya Pak Syam masih terlihat emosi.


“Dean Alfian, pengacara Ibu Zahra Ameera.”

__ADS_1


Mendengar kata ‘Pengacara’ Pak Syam mundur beberapa langkah, hingga tubuhnya terhenti oleh tembok. Zahra yang melihat mama mertuanya shock hingga hampir jatuh, langsung menangkap tubuhnya dengan sigap.


“Mah, Mah, duduk dulu, Mah.”


Setelah keadaan sudah lebih tenang. Mama Mertua Zahra juga terlihat lebih relax di tempat duduknya, Zahra langsung menatap Dean. Seakan memberinya sebuah kode.


Dean langsung mengambil berkas yang sudah dia siapkan. Menaruhnya di atas meja agar bisa di lihat semua orang.


“Ini adalah laporan pemeriksaan Ibu Zahra di kepolisian. Beberapa lebam akibat kekerasan fisik yang di lakukan Pak Abram sebagai seorang suami. Sudah melewati tahap visum.”


Keringat Bu Syam pun mulai keluar dari pori-pori. Dinginnya cuaca di luar, nyatanya tak mampu mendinginkan suasana di dalam ruangan yang semakin panas.


“Ini juga ada beberapa foto, dan pemeriksaan kondisi mental Ibu Zahra.” Lanjut Dean.


“Bekas tanparan, tangan yang di ikat, dipaksa untuk ber ....”


“Cukup! Cukup, Mas Dean!” Zahra memotong ucapan Dean begitu saja. Saat ia melihat wajah sang ibu yang sudah basah dengan air mata.


“Mah, Zahra gak mau mempermasalahkan ini. Zahra cuma mau nama baik Zahra di pulihkan, dan juga ... bercerai!”


...☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘...


Othor mau sarapan dulu lah ama bang Jo


Vote jangan lupa. Apa lagi Like


Spoiler, bab berikutnya Tante Ve dateng 🙈🙈


Jeng Jeng Jeng .....

__ADS_1


__ADS_2