Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 99


__ADS_3

...***Melindungi Orang Yang Sama***...


Sudah dua hari berlalu semenjak kehadiran pertama Zahra di kantor kepolisian sebagai saksi. Gelisah, perasaab itu seakan membuat langit mengerti, akan perasaan wanita yang baru beberapa bulan menyandang status Janda. Hingga akhirnya membuat cakrawala disekitar engan untuk bersindar. Awan mendung hampir 24 jam menyelimuti kota. Sesekali menjatuhkan rintik air untuk membasahi tanah yang memang sudah lembab.


Sejak kejadian tragis itu pula, kantor tempatnya bekerja di tutup rapat. Bahkan, dia tidak menerima tamu sama sekali. Meski di tutup, beberapa orang terlihat keluar masuk. Tak hanya Dean dan sahabat baiknya, bahkan Jordhan sesekali datang dengan beberapa berkas di tangannya.


"Kemarin dia datang dengan pengacaranya." Jordhan bersandar di kursi, memandangi Zahra yang duduk di hadapannya bersama dengan Dania.


"Terus, gimana? Kamu bisa kan mastiin Zahra gak akan ketangkep?" Dania terlihat resah.


"Buktinya gak cukup. Jadi surat penangkapannya juga belum bisa keluar." Jordhan masih fokus menatap Zahra yang tertunduk lesu. "Tenang aja, Ra. Aku gak akan ngebiarin surat itu keluar!"


Perkataan itu membuat Zahra menegakkan kepalaya dan menatap Jordhan. Lalu, menaikkan sedikit sudut bibirnya dan mengangguk. Dia seakan percaya, bahwa lelaki itu cukup mampu melindungi dirinya.


Jordhan pun tak berada lama di sana. Ia segera pergi setelah menyampaikan beberapa informasi tentang keberadaan Abram yang sudah diketahui. Bahkan, dia langsung mengajak Abram ke Lab untuk pemeriksaan.


Sekiranya, satu jam sudah berlalu setelah Jordhan pergi. Kini, giliran Dean yang datang dengan beberapa camilan dan makanan. Lelaki itu, setiap hari datang tiga kali. Mengantar makanan, camilan, juga kebutuhan harian yang mungkin di butuhkan calon istrinya. Meski Zahra sendiri sudah melarangnya untuk sering-sering datang, tapi semuanya dianggap bagai angin oleh Dean.


"Jo tadi call aku," kata Dean tiba-tiba.


Mendengar Dean membahas Jordhan, Zahra menjeda mulut yang sedang mengunyah untuk beberapa saat. Terkejut, juga penasaran tentang hal yang mereka bahas.


Jo gak mungkin bilang sama dia kan?

__ADS_1


Cowok di depanku ini, agak serem kalau udah cemburu!


"Abram dateng ke kantor polisi kemaren. Jo cuma tanya hal remeh temeh aja. Masalah tentang kalian." Dean melirik, menatap Zahra sedang menunduk sembari mengaduk nasi beserta lauk yang ada di mangkuk.


"Terus, bilang apa lagi?" tanyanya terdengar penasaran.


Dean melipat ke dua tangannya, dengan tatapan tajam, fokus memperhatikan gerak gerik Zahra. Lelaki itu seakan tahu, mood sang kekasih sedang tidak baik-baik saja. Banyak hal yang dia coba tebak dalam pikirannya.


Apakah, Zahra engan membahas hal yang menyangkut mantan suami dengan Dean?


"Ngak ada. Cuma bahas itu aja." Dean mencoba merahasiakan, tentang ketidak suburan Abram yang sudah ia ketahui.


"Ada hal lain yang gak di sampaikan Jo, tapi aku tau, Mee."


"Kenapa, Mee?" Tanya Dean heran, kala menatap wajah Zahra yang gusar. Melihat ekspresi Zahra, Dean seakan dapat menebak secara kasar, jika ada banyak rahasia yang tidak dia ketahui.


"Hem? Aku gak kenapa-kenapa kok." Zahra mengelak dengan cepat. "Memang, apa sih yang kamu tau?" Zahra mencoba menghindari tatapan mata Dean.


Gelagat Zahra sangat mudah di tebak, terutama saat wanita itu menghindari tatapan mata lawan bicaranya. Hal mudah lainnya yang diketahui Dean sebagai pengacara, dalam mendeteksi gelagat seseorang, dan hal itu menjadi senjata andalan saat dia mengorek informasi tentang kliennya.


Dean pun tertunduk dengan sedikit sesal. Dia kira, saat dirinya berhasil mendapatkan hati Zahra, maka dia juga bisa mendapatkan seluruh perasaannya. Entah itu perasaan resah, takut, cemas atau pun marah. Namun, kenyataan yang dia hadapi sekarang, memang membuatnya kecewa.


Dengan lembut, ia menyingkap beberapa helai rambut Zahra ke belakang telinga, sembari berkata dengan nada lembut, "Aku tau, aku hadir dalam kisahmu yang belum sepenuhnya usai. Aku tau, ada banyak perasaan yang mungkin juga belum sepenuhnya bebas. Entah itu rasa kecewa, marah, atau mungkin cinta."

__ADS_1


Dean mengangkat dua sudut bibirnya, menyipitkan kedua matanya sedikit, lalu memegang kedua tangan Zahra.


"Aku gak maksa kamu buat cerita. Juga gak mau tau kisahmu yang lalu. Hal yang ingin aku beritau sekarang hanya satu hal. Kita sudah bersama sekarang, apapun masalah yang kamu hadapi, kita bisa menghadapinya berdua."


Perkataan Dean membuat mata Zahra tiba-tiba terasa pedih, hingga membuat sudutnya basah, dan akhirnya menumpahkan cairan bening. Dean terlihat panik, saat bulir air mata itu menghujam jatuh dan mendarat di salah satu tangannya. Ia buru-buru berdiri, ingin mengambil tisu. Namun, Zahra mencekal tangannya dan memeluknya sembari terisak.


"Hei, Mee! Kenapa nangis sih? Mee ...." Dean mencoba menenangkan Zahra, tapi wanita itu engan melepaskan pelukannya.


"Kamu nangis kenapa sih, Mee? Aku cuma mau kasih tau, kalau Tente Ve sama Om Pras ada di sini. Kok kamu jadi mewek?" Dean masi berusaha menenangkan Zahra.


Alih-alih berhenti, tangisannya justru semakin kencang. Pelukannya pun semakin kuat, begitu kuat hingga membuat Dean kesusahab bernapas.


"Mee, a-aku gak bi-sa na-pas!"



Votenya Vote!!!!


Spoiler dikit ah ...


Bab selanjutnya akan ada yang ketangkap, ada juga yang metoong ...


Hemm siapose?

__ADS_1


Votenya dulu lah. Kopi jangan sampe lupa 😎


__ADS_2