
...***Jordhan membawa Zahra***...
Hujan turun rintik-rintik sejak semalam. Langit abu-abu tebal, masih membumbung tinggi. Menutupi cahaya mentari yang bersinar sejak beberapa waktu lalu. Kota Malang menjadi gelap dan dingin dengan semilir angin yang berhembus bercampur dengan hujan.
Ruangan VVIP yang di pesan atas nama Zahra, terlihat sepi tanpa seorang pun. Di dalam hanya terdengar gemercik air dari kamar mandi. Tak beberapa lama, Zahra keluar dengan rambut yang di belit handuk. Ia sempat meregangkan tangan, lalu melihat telapak tangan sebelah kirinya yang di tutup plester.
“Ternyata, infus aja juga manjur.” Gumam wanita itu menatap tangannya.
Meski hanya satu malam menginap di rumah sakit, tubuhnya sudah terasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia bahkan bersiap-siap untuk pulang, setelah mendapatkan izin dari dokter.
Sayup-sayup, pintu kamarnya di ketuk. Ia pun menoleh, melihat Dean masuk sembari menenteng paper bag.
“Kamu keramas, Mee?” Tanyanya melihat handuk yang dililit.
“Iya, gerah banget tau!”
Hela napas kasar terdengar keluar dari dua bibir Dean yang sedikit mengatup. Ia membuka paper bag, mengeluarkan hair dryer dari dalam. Lalu, menarik tangan Zahra dan menyuruhnya duduk dengan baik.
Ia melepasakan handuk yang melilit dibatas kepala, pelan-pelan mengerai rambut Zahra, dan mengeringkannya. Setiap gerakannya terlihat hati-hati dan lembut. Memisah hambut yang menggumpal dengan jemari tangannya.
Sudut-sudut bibir Zahra tiba-tiba terangkat. Raut wajahnya pun langsung merah padam.
“Sejak kapan kamu pindah profesi?” Cletuknya.
“Hah? Apa?” Dean tak begitu jelas mendengar ucapan Zahra, Karena suara bising dari mesin hair dryer.
Zahra pun mendorong hair dryer dan menoleh. Menatap manik mata pria yang berdiri di belakangnya, sambil mengulang ucapannya tadi.
__ADS_1
“Apanya yang pindah profesi?” Dean pun bertanya-tanya.
“Ini! Kamu udah mirip tukang salon, hahaha!” Goda Zahra diselingi tawa riang.
Dean merasa terejek, langsung memanyunkan sedikit bibirnya sembari melirik Zahra. Wanita itu masih tertawa terbahak-bahak, seolah tak perduli seekor macan yang sudah bangun dari tidurnya, berdiri di belakang.
Dean mencondongkan tubuhnya sedikit, mendekatkan bibirnya di telinga Zahra. “Puas-puasin ketawanya. Liat nanti kalau aku udah bisa hukum kamu, Mee!” Bisik Dean yang di akhiri senyum licik menyerigai.
Ancaman itu rupanya mampu menggetarkan perasaan Zahra. Ia bahkan langsung berdiri dan menjauh dari Dean.
“Hemm. Administrasinya udah beres kan? Ayo pulang!”
Lagi-lagi lelaki itu mengangkat sedikit satu sudut bibirnya. Lalu mematikan mesin hair dryer dan memasukkannya kembali ke dalam paper bag.
“Kuat jalannya? Mau pake kursi roda gak?” Dean menatap Zahra yang sedang bercermin sembari mengoles lipstik.
Belum selesai dia berdandan. Dean merogoh saku, mengeluarkan kartu debit, yang diberikan Zahra pada Dania tadi pagi, untuk mengurus administrasi. Namun kenyataannya, Dean yang mengurus semuanya.
“Nih, dari Dania.”
Zahra hanya melirik sesaat, menatap kartu debit miliknya ada di tangan Dean, tentu saja dia merasa aneh dan bertanya.
“Pagi tadi Dania ketemu aku di bawah, dia titip ini.” Jawab Dean singkat. Seolah menutupi kenyataan bahwa dirinya yang mengurus administrasi.
Zahra pun tak curiga. Ia mengira, jika Dania sudah menyelesaikan administrasi. Dia mengambil kartu dari tangan Dean, dan menyimpannya ke dalam dompet.
Selesai menyimpan, mereka segera pergi ke lobi. Dean sempat meminta Zahra untuk duduk dan menunggu sebentar, selagi ia mengambil mobil di tempat parkir yang jaraknya cukup jauh. Tak sampai setengah jam, mobil sedan hitam milik Dean terlihat memasuki lobi depan rumah sakit.
__ADS_1
Zahra langsung berdiri, begitu sedan hitam berhenti di depannya. Namun tiba-tiba, pandangannya menjadi gelap, dan tubuhnya menjadi tak seimbang.
Beruntung, Jordhan yang berpapasan, langsung menangkap tubuh Zahra yang sedikit oleng.
“Kamu gak papa?” tanya lelaki itu.
Zahra mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha mendapatkan kembali pengelihatannya yang sempat gelap. Sinyal cemburu Dean naik pesat, saat melihat calon istrinya berada dalam dekapan lelaki lain. Ia pun langsung buru-buru turun, segera berlari, dan menarik tangan Zahra.
“Mee, are you oke?”
Zahra mengangguk. Dalam sekejap saja, tubuh wanita itu sudah berpindah haluan, yang semula berada di dekapan Jordhan, kini berada di pelukan Dean.
“Kamu anemia. Lain kali, jangan langsung berdiri gitu aja, untung ada yang nangkep, gimana kalau engak?” Dean terdengar cukup ketus.
“Iya, iya.” Zahra mencoba berdiri dengan tegak, bermaksud berterima kasih kepada orang yang sudah menolongnya. Saat ia menatap sosok tinggi dengan lesung pipi itu, Zahra sedikit terkejut.
“Ka-kamu kok di sini?”
Jordhan melirik Dean sesaat, lalu menghela napas panjang dan menatap Zahra. "Kami perlu keterangan darimu. Bisa ikut sebentar?"
Zahra menoleh, menatap Dean yang berdiri tepat di sampingnya. Ada perasaan takut yang tiba-tiba menyapa. Meski diri sendiri sudah yakin, bahwa tidak bersalah. Dean mengangguk, seperti memberi isyarat jika semuanya akan baik-baik saja.
Padahal semalem udah ready, udah siap UP.
Ehh ... malah ketiduran 😅
__ADS_1
Udah gak usah protes, Othor UP lagi nanti 😚😚