
...***Pengakuan Jordhan***...
Hujan sudah mereda saat mereka bertiga sampai di kantor polisi. Dean terlihat masih setia menemani calon istri, yang juga kliennya masuk ke dalam. Dua orang pria yang sebelumnya menanyai Zahra di rumah sakit, langsung bangkit dari tempat duduknya begitu melihat Jordhan. Mereka pun langsung menjabat tangab lelaki itu dengan penuh hormat.
"Pak, ini ...." Salah seorang dari mereka memandang Zahra dan Dean yang berada di belakang Jordhan.
"Bu Zahra sama pengacaranya. Ajak mereka ke atas, buatkan teh hangat juga!" Jordhan melangkah menuju deretan rak besi yang ada di sudut ruangan.
Salah seorang dari mereka pun, bergerak mengantar Zahra, dan Dean naik ke lantai dua. Lalu, mempersilakan mereka duduk di sofa. Sepersekian menit kemudian, Jordhan datang dengan seorang pria lain. Terlihat beberapa map di bawa rekan kerjanya, sedangkan dia sendiri hanya membawa ponsel dan buku catatan kecil.
"Gimana, Bu? Sudah jauh lebih baik?" Tanya pria dengan name tag Boby di dada.
"Allhamdulillah, sudah jauh lebih baik."
"Kita mulai ya, Bu Zahra" Jordhan menimpali.
Zahra sempat menoleh, memandang Dean yang duduk tepat di sampingnya. Hela napa panjangnya dapat di dengar mereka berempat. Raut wajah takut Zahra pun tak dapat di tutupi lagi. Dean dengan bijak memegang tangan Zahra sembari mengangguk. Sikapnya seakan mengatakan, jika semuanya akan baik-baik saja.
Melihat kedekatan mereka, Jordhan melirik tajam. Wajah cemburu dan marahnya juga tak bisa di tutupi saat itu. Namun, lelaki berperawakan tinggi nan kekar, berusaha secepat mungkin menyembunyikannya.
"Baik, kita mulai."
Satu jam, dua jam, tiga jam, waktu berlalu cukup cepat bagi orang lain, tapi tidak bagi Zahra. Berbagai pertanyaan ia jawab dengan baik, tanpa ada cacat, atau menimbulkan kecurigaan. Namun, semakin lama dadanya semakin sesak. Terutama saat dia harus membeberkan masalah rumah tangganya, yang jelas akan di dengar Dean, mantan kekasih yang pernah dia tinggalkan begitu saja.
__ADS_1
"Kamu masih simpan hasil labnya?" tanya penyidik.
"Maaf, aku ngak ingat. Dua bulan lalu aku baru pindah rumah, hasil lap itu ...." Zahra terlihat berpikir dengan keras.
"Maaf, Pak. Kondisi klien saya baru saja pulih. Untuk pertanyaan selanjutnya, bisakah kita lakukan lain waktu?" Dean menyela dengan cepat, saat melihat bulir keringat Zahra menetes dari keningnya.
Dua penyidik yang mendampingi Jordhan pun langsung menoleh. Sedangkan Jordhan, dia masih menatap tajam melihat Zahra. Wanita yang tertunduk dengan napas pendek dan peluh keringat yang keluar dari pori-pori di keningnya.
Hela napas kasar di hembuskan Jordhan. Dia menyandarkan pungungnya di sofa sembari melipat tangannya. Lalu, memberi Zahra keputusan yang membuatnya menghela napas lega.
Penyelidikan di hentikan sementara. Zahra pun di perbolehkan kembali dengan pengacaranya. Namun, sebelum wanita itu keluar dari kantor kepolisian, Jordhan menghentikan mereka sesaat.
"Ra, boleh ngobrol sebentar, gak?"
Wajah Zahra terlihat engan, dia pun sempat menatap Dean, sebelum mengambil keputusan. Perlu beberapa waktu baginya untuk setuju, setelah banyak pertimbangan dan rasa terima kasihnya pada Jordhan.
"Dean, bisa tunggu aku di mobil gak?"
Ucapan Zahra tentu membuat Dean tersentak kaget. Dean sempat menolak untuk menunggunya di mobil. Alih-alih patuh, ia lebih memilih menunggunya di depan mobil yang terparkir di sebrang. Zahra juga tak bisa memaksa lelaki yang sudah ia terima pinangannya tersebut.
"Mau ngomongin hal apa?" tanya Zahra begitu Dean berjalan meninggalkan mereka.
"Sory, aku gak bisa hubungi Abram. Tapi beberapa tim sudah mencoba mencari keberadaannya."
__ADS_1
Zahra mengangguk mendengar penjelasan Jordhan. "Nindira ada bilang sama aku, kalau dia Malang sekarang. Tapi aku gak tau lokasi tepatnya dimana."
"Iya, aku denger dari rekaman. Kamu gak perlu cemas, masalah ini, aku yang pimpin!"
Zahra kembali mengangguk, seakan percaya, Jordhan mampu menyelesaikannya dengab baik.
"Ra, aku boleh tanya hal pribadi gak?" tanya Jordhan tiba-tiba. "Aku ... boleh kejar kamu?"
Mendengar itu, Zahra menelan salivanya, meregangkan ke dua bibirnya sambil mengeluarkan napas berat.
"Aku tau kamu baru aja bercerai, jadi gak mau maksa buat jadi pacar atau bahkan ngajak kamu nikah. Jadi ... aku minta izin buat kejar kamu, buat deket sama kamu, buat jaga kamu."
Tengorokan Zahra terasa kering saat mendengar pengakuan Jordhan. Dia menunduk sesaat memainkan jemari kukunya yang tak terlalu panjang. Lalu, menatap Dean yang ada di sebrang, seolah jawabannya ada di wajah lelaki itu.
Wah, bang Dean, sinyal bahaya nih!!!!!
Buruan tarik Zahra, ajak dia kabor!!!!
Vote jangan lupa, hadiahnya juga.
Othor mo lanjut cari wangsit dulu 😎😎😎
__ADS_1