
...*****Pak Jordhan Jo******...
“Aahh, pengacaranya.” Jawab polisi itu dengan santai. “Gini, Pak. Pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa, kadang ada salah paham yang ngak bisa ....”
Merasa respon polisi tidak profesional. Dean mengerutkan keningnya, seketika dapat menebak alur yang akan mereka hadapi.
“Jadi, Anda mengira ini masalah sepele?”
“Bu-bukan begitu. Saya hanya menyarankan untuk membicarakannya baik-baik.”
“Pak! Ini jelas-jelas KDRT!” Nada Dean meninggi lagi. Tangannya mengepal kuat-kuat. Zahra menarik napas dalam-dalam, kembali memakai kaca mata yang dia lepas. Lalu, memegang tangan Dean, mengajaknya pergi meninggalkan kantor kepolisian.
“Tenang, Ra. Aku call temenku dulu, serahin semua ke aku.”
Zahra seolah tak peduli lagi. Dunia seperti sedang menyudutkan dia. Mendorongnya hingga ke ujung jurang dan memaksanya untuk melompat, seolah-olah bunuh diri atas kemauannya sendiri.
Dingin menusuk ujung jemari yang di tekan sejak masuk ke dalam ruangan. Perlahan merambat, membuat beberapa otot pergelangannya menegang.
“Mbak Zahra.”
Suara yang tak asing, membuatnya menoleh. Netra matanya menangkap wajah yang tak asing, yang beberapa hari yang lalu pernah duduk satu mobil dengannya.
“Mas ... Jordhan bukan?”
Zahra melepas kaca matanya, mengingat dua lesung pipi yang di miliki lelaki itu. Ia mengingat kembali kesan terakhir saat berpisah di depan bengkel.
“Kamu kenal, Ra?” tanya Dean penasaran.
__ADS_1
“Iya, aku pernah nabrak mobilnya di Malang, gak sengaja.” Jelasnya singkat.
“Gimana kabarnya?” Dia menatap wajah Zahra yang sedikit bengkak, juga ujung bibirnya yang sobek. “Itu ... kamu gak apa-apa?”
“Oh ....” Zahra memegangi pipinya, mengingat kembali hadiah dari sang suami. “Ngak, ini tadi ... gak sengaja ... yah pertengkaran kecil lah.” Elaknya mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Zahra mencoba mengalihkan pembicaraan dengan cepat, “Kamu, ngapain di sini?”
“Kerja serabutan. Seperti yang aku bilang dulu, masih ingat?”
“I see, aku ingat bagian itu.”
“Ayo, Ra. Aku udah call temenku di polda. Dia bisa bantu kita.” Ajak Dean yang merasa sedikit gerah melihat mereka berdua.
Zahra mengangguk dan berpamitan dengan Jordhan. Namun lelaki itu mencekal kepergian Zahra dengan cepat. Perkataannya membuat Zahra langsung berbalik badan.
“Kamu, memangnya tahu masalahnya?” tanya Zahra.
Zahra dan Dean terdiam. Zahra benar-benar tidak menyangka, lelaki bernama Jordhan rupanya cukup jeli memahami kasus seperti itu.
“Kenapa? Kamu ngak di layani di dalam?” tanyanya lagi.
“Mereka menyarankan untuk berdamai.”
“Siapa yang bilang?” Nada Jordhan meninggi membuat Zahra kaget hingga melangkah mundur ke belakang. Melihat Zahra terkejut dan ketakutan, Dean mengambil alih, menjawab pertanyaan Jordhan.
“Kalau gitu, kalian bisa ikut saya. Ngak perlu takut, aku kenal orang dalam, dia cukup kuat. Cuma surat rujukan visum, itu kecil.”
Dean dan Zahra melihat satu sama lain. Zahra berpikir, tidak ada salahnya mencoba untuk ikut Jordhan. Lagi pula, mereka sudah saling mengenal, dan dia terlihat baik. Namun, Dean terlihat menggeleng.
__ADS_1
“Oke, kita ikut.”
Keputusan Zahra sudah bulat, Dean tidak bisa menolak, dan dipaksa untuk patuh. Jordhan mengantar mereka masuk, ke dalam gedung berlantai dua. Naik ke lantai atas dengan percaya diri, lalu membuka pintu kaca dan mempersilakan dia untuk duduk.
“Minum dulu, aku telfon orangnya.”
Begitu Jordhan pergi, Dean buru-buru bertanya. Zahra terlihat santai, menanggapi pertanyaan dari Dean satu per satu.
“Dania di mobil sendirian. Mending suruh dia kesini. Dia juga kenal Jordhan kok.”
“Kok bisa?”
“Dia yang nemenin aku waktu bawa mobil Jordhan ke bengkel.”
“Aihhh ... terserah kamu deh!”
Tak berselang lama, Jordhan kembali bersama dua orang pria berseragam. Berselang beberapa menit usai mereka duduk, Dania menyusul ke dalam. Dia terlihat terkejut saat tahu Jordhan duduk di antara mereka.
“Maaf, dia temanku, yang mungkin bisa jadi saksi juga. Apa boleh dia duduk?”
“Oh, sok mangga, Neng.”
Begiti semuanya duduk di kursi masing-masing. Lelaki paruh baya yang sedikit buncit, mulai mengajukan beberapa pertanyaan.
“Jadi, bagaimana Anda mendapatkan luka itu?”
Sama Bang Jo atau Bang Dean nih?
__ADS_1
Jangan lupa Vote pokoknya!
Makin banyak Vote makin banyak Up 🤭