Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 112


__ADS_3

...***TIM, Selesai***...


"Saya terima nikah dan kawinnya Zahra Ameera, dengan mas kawin, Logam Mulia seberat 50 gram, dan uang tunai senilai 5 juta rupiah dibayar tunai."


"Sah ya, Sah!"


Zahra duduk di antara sang ibu dan Mulan. Tidak terlintas dalam pikirannya, jika acara pertunangan bisa berubah dengan cepat menjadi akad nikah. Entah kenapa juga, sang ayah langsung setuju saat Dean mengatakan akan menikahi Zahra pada hari itu juga.


Selesai menlafalkan Ijab Kabul, ia dibawa ke sisi Dean dalam keadaan sedikit linglung, tak percaya, dan masih terkejut, tetapi sinar matanya masih memancarkan kebahagiaan yang tak terkira.


Diantara banyak doa dari orang-orang yang hadir di sana. Dean berdiri dan menengadahkan satu tangannya ke atas, sedangkan tangan kirinya di taruh di atas kepala Zahra.


Dean menarik napas panjang dan menutup mata, melafalkan doa untuk sang istri yang baru dia nikahi. Lalu, meniup doa itu ke ubun-ubun Zahra. Wanita dengan gaun sederhana berwarna putih pun, langsung menyambut tangan Dean dan mengecupnya.


"Allhamdulillah," ucap semua orang yang hadir di sana secara kompak, diwarnahi haru kebahagiaan.


Setelah mencium tangan Dean, Zahra perlahan mendekati mertuanya yang sejak tadi duduk menyaksikan pernikakan mereka. Zahra berlutut, dengan tangan yang ia taruh di lutut sang mertua.


"Tante, Zahra sekarang boleh panggil Mama kan?" tanyanya dengan tutur kata lembut, yang kemudian di sambut oleh senyum serta anggukan kepala sang mertua.


Zahra pun langsung berdiri dengan sedikit membungkuk, agar bisa memeluk mertuanya yang sedang duduk di kursi roda. Selesai memeluk mertua, Zahra pun pindah ke kakak iparnya untuk meminta restu.


Bukan hanya Zahra saja yang meminta restu, Dean pun ikut meminta restu pada orang tua Zahra dan kekuarga besarnya yang juga hadir di sana.


"Mas Dean, besok langsung ke KUA buat urus berkas-berkasnya ya," sela bapak penghulu saat mereka selesai meminta restu


"Baik, Pak. Besok kami langsung ke KUA."



...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...


Di tempat yang lain.

__ADS_1


Seorang lelaki dengan kaos berwarna biru tua, terlihat sedang mendaftar sesuatu di Ruang Pendaftaran. Lalu, dia diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu. Tidak memakan waktu yang lama, sampai seseorang memanggil nama Nindira dengan suara sedikit lantang.


Mereka berdua di persilakan duduk di kursi yang saling berhadapan, dengan kaca tebal sebagai pembatas di antara mereka.


"Kenapa kamu kesini?" tanya nindira ketus.


"Kenapa? Aku cuma mau melihatmu!"


Wajah Nindira semakin masam mendengar jawaba lelaki yang pernah menjadi suaminya, Abram. Dia bahkan membuang muka, seakan tidak mau menatap Abram.


"Kamu cuma mau ngetawain aku, kan?"


Senyum Abram mengembang penuh, menggerakkan bulu-bulu tipis di dagunya. Entah apa yang ia pikirkan pada saat itu. Jelas-jelas, istri yang dulu di belanya sedang duduk di sana sebagai terpidana.


"Iya, aku mau menertawakanmu!" seru Abram. "Dulu aku terjebak dengan bujuk rayumu dan keluargamu. Seperti orang bodoh yang mau-maunya nikah dengan wanita licik berlidah ular." Sorot mata Abram semakin meremehkan Nindira. Kata-kata kasarnya bahkan membuat wanita itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Aku tau sejak awal, kalau kamu memang suka. Aku juga udah tau rencanamu untuk membuatku menikah denganmu. Hanya saja, aku sedikit sial dan akhirnya terjebak bersamamu untuk waktu yang lama." Abram masih menatap remeh ke Nindira.


"Kenapa? Tentu aja demi melindunginya dan bisa keluar dari cengkramanmu. Kamu pikir, aku sejak awal pria bodoh yang tidak semua rencana licikmu? Kamu pikir, kamu bisa mengikatku dengan anak yang bukan milikku?" Abram bersandar di kursi sambil melipat tangan.


"Oh come on! Kita hanya pernah tidur satu kali dan itu cuma kebetulan. Gak ada kebetulan yang lain kalau kamu hamil sama orang mandul!" Abram bangkit berdiri dan berbalik, bersiap untuk pergi. Namun sebelum pergi, ia sempat melambaikan tangan dari belakang tanpa menatap Nindira.


"Opsesi cintamu itu mengerikan, Nindira!"


Nindira yang makin emosi pun, lantas menggutuk Abram. "Kamu pasti dapat balasannya, Bram! Kamu pada akhirnya gak akan bisa dapetin dia!" teriaknya lantang.


...Aku sudah mendapatkan balasannya dari awal, saat aku mengetahui kisah cinta pertamanya masih belum selesai. Yeah, meski pada saat itu aku yakin, masih ada cinta walau sedikit....


...Namun, ini bukan salahnya, karena sejak awal, aku yang salah di posisi itu. Aku telah terikat dengan Nindira dan menjadikannya istri muda tanpa memberitau dirinya, itu sudah satu kesalahan besar....


...Aku sudah mendapatkan karmanya, Nindira. Sudah lebih awal dan lebih dulu. Sekarang, hukuman ke duaku adalah melepaskannya agar bahagia dengan cinta pertamanya....


Abram merogoh saku dan mengambil ponsel. Ia langsung membuka pesan WhatsApp dan mengetik sebuah pesan.

__ADS_1


📩 Selamat atas pernikahanmu, mantan istri. Semoga kalian bahagia selalu.


...Maaf, selama ini aku tidak menjadi suami yang baik. Melihat cara dia mencintai dan menjagamu, aku yakin, dia adalah orang yang tepat untukmu....


...Maaf, jika sikap kasarku selama ini telah menyakitimu....


...Ada banyak alasan saat aku tidak ingin menceraikanmu pada saat itu, salah satunya adalah rasa khawatir jika kamu jatuh ke orang yang salah....


...Namun, saat aku melihat cinta dari lelaki itu, akhirnya aku menyadari hal yang penting....


...Alasan kenapa kamu masih mencintainya....


...Selamat berbahagia ... Zahra Ameera....


...🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼...


...T A M A T...


...🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼...


Hai readers setia yang selalu menaburi othor dengan sajen dan Vote.


Ternyata, Istri Muda sudah selesai ya.


Jangan khawatir, Dean dan Zahra masih akan menghibur kalian di extra part.


So, jangan di hapus dari rak baca ya ♡


Buat pembaca setia TIM, Author ada Give a way loooo.


Apa aja sih?


Simak di pengumuman ya 😊

__ADS_1


__ADS_2