Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 111


__ADS_3

Siang berganti malam, malam berganti siang. Waktu yang sedang berjalan terasa begitu cepat bagi orang lain. Akan tetapi, tidak bagi Nindira. Setiap jam yang terlewat, bagai tali yang di lilitkan di leher, semakin berlalu, semakin kuat ikatannya. Ia berharap waktu berhenti, atau berjalan lebih lambat, agar ia bisa benapas sedikit. Namun, karma tetaplah karma, yang datangnya selalu tepat waktu. Keberuntungan pun, seakan tak lagi berpihak padanya.


Satu minggu telah terlewati. Fitto bersama dua orang yang lain datang menjemput Nindira. Fia datang dengan wajah datar dan senyum licik. Satu alisnya terangkat, dengan tangan yang memainkan borgol seakan mengejek Nindira.


"Akhirnya, gue bisa menuhin permintaan lo, Jo!" batin Fitto saat memasang borgol di tangan Nindira. Ada perasaan senang, bercampur bangga yang terpancar di wajah ke tiga orang itu. Bagaimana tidak, karena mencari bukti kejahatan Nindira, salah satu teman terbaik mereka gugur.


Waktu yang berjalan selama 7 hari, tidak membuat netizen dan juga wartawan putus asa. Beberapa wartawan bahkan menunggu sejak pagi di sekitar rumah sakit, demi bisa mengambil gambar Nindira saat di gelandang pihak berwajib. Sedangkan netizen, pun tak kalah hebohnya. Sebagian dari mereka bahkan rela membawa ponselnya ke toilet, demi bisa mendapatkan berita penangkapan Nindira.


...Edyan oi, dia di penjara gitu, nasip anaknya gimana?...


...Bukan anak suaminya kan?...


...Kasihan sama istri muda yang dulu difitnah. Akhirnya dia bisa bernapas lega....


...Kan, aku gak pernah salah. Dari dulu udah tim Istri Muda...


...Suaminya mana? Malu ya?...


Dua Bulan Kemudian


Seorang pria terlihat membopong wanita paruh baya, turun dari mobil dan di pindahkan ke kursi roda. Ia terlihat hati-hati saat mendorong kursi roda masuk ke dalam rumah. Beberapa orang, terlihat mengikuti langkah mereka dari belakang.


"Assalammualaikum," sapa mereka kompak.


Pak Ahmed dan istrinya, dengan wajah bahagia menyambut kedatangan mereka. Mulan yang ada dalam rombongan, menyelinap masuk lebih dulu dan pergi ke kamar Zahra.


"Haiss ...." Mulan menghela napas panjang, melihat Dania masih sibuk memoles muka Zahra. "Masih belom siap juga kalian? Tuh, calon suami udah dateng!" gerutunya sedikit kesal.

__ADS_1


"Iya, iya. Bawel deh, bantuin gitu loh!" Dania pun ikut mengomel, sembari berkacak pinggang menatap Mulan yang berdiri di ambang pintu.


Pak Ahmed di bantu istrinya, masih tampak sibuk menjamu para tamu yang datang. Mereka tampak asik bercengkrama dan saling mengenal untuk pertama kalinya. Hingga, lelaki dengan blazer hitam memberanikan diri untuk berbicara maksud kedatangannya.


"Om, Tante ..." sapanya dengan grogi. "Maksud Dean kesini sama mama dan keluarga, bermaksud untuk melamar Zahra."


"Dean tidak bisa menjanjikan banyak hal, tapi, insya Allah, Dean akan berusaha menjadi suami yang baik baginya."


Rangkaian kata yang ia susun dengan penuh perjuangan, akhirnya berhasil keluar satu per satu. Pak Ahmed dan sang istri saling memandang untuk beberapa saat.


Sebenarnya, mereka sudah tahu tentang maksud kedatangan Dean dan keluarganya, karena Zahra sudah lebih dulu membicarakan hal ini. Namun, respon pak Ahmed dan istri berbeda jauh dibanding sebelumnya.


Jika saat itu mereka hanya mengiyakan, sekarang, mereka justru saling melepas senyum. Seperti ada perasaan lega yang berusaha mereka utarakan satu sama lain.


"Yakin, bisa jadi suami yang baik?" goda Pak Ahmed menatap tajam ke arah calon menantunya. Pertanyaan Pak Ahmed pun membuat Dean menelan salivanya kasar.


Jawaban Dean membuat senyum Pak Ahmed bertambah lebar, bahkan istrinya pun puas dengan jawaban Dean.


"Ya udah deh iya. Langsung tanya anaknya aja kalau gitu. Saya bagian jabat tangan aja," jelas Pak Ahmed sambil memegang tangan sang istri yang diam-diam mencubit pinggangnya.


"Ra, buruan, Ra. Udah dicariin tuh!" teriak Dania yang kini seheboh Mulan.


Zahra pun keluar. Dress putih berlengan panjang, dengan rambut yang di gelung. Make up tipis dengan lipstik nude, seakan memancarkan kecantikan wajahnya.


Dean yang melihat calom istrinya berjalan keluar, pun terpaku dengan mulut yang mengangga. Beruntung, pada saat itu rahangnya tidak sampai terlepas.


"Astagfirullah!" gumamnya lirih dan langsung menunduk saat pikirannya mulai melebar ke pinggir.

__ADS_1


Zahra mengambil tempat duduk di tengah, diapit oleh ayah dan ibunya. Wanita itu terlihat malu-malu saat mencuri pandang pada Dean.


"Dia bilang, katanya mau belajar jadi suami yang baik. Kamu gimana? Sudah siap?" tanya Pak Ahmed langsung ke pokok pembicaraan.


"Insya Allah, Zahra siap, Yah."


Jawaban singkat Zahra, langsung membuat semua orang menghela napas lega, termasuk Dean. Sang Mama, yang duduk di samping Dean pun, langsung meninggikan bibirnya, karena merasa bahagia.


"Om sama Tante gak ada masalah, Zahra juga udah setuju. Masalah tanggal, kalian berdua bisa bicarain pelan-pelan," ucap Bu Ahmed.


"Kalian mau menikah kapan?" timpal Pak Ahmed.


"Sekarang aja, Om. Kebetulan, Dean udah ajak pak penghulu."


Jawaban dean membuat semua orang secara serentak berkata 'Ha'. Bagaimana tidak, sesuai dengan instruksi dari Zahra, kedatangan mereka hanya akan melamar, bukan menikah.


Dari sekian banyak orang yang kaget, rupanya ada Zahra di salah satunya. Ia sendiri seakan merasa 'ketiban perjaka' pada saat itu. Dean pun hanya nyengir kuda setelah berkata demikian.



Bang Dean emang ngak maen-maen ya 🤣


Sekalinya dateng, langsung ngajakin nikah 🤭


Kembangnua kembang, kopi juga boleh looo.


Kebetula , othor aus 🤭🤣

__ADS_1


__ADS_2