
...*****Tante Ve******...
Matahari merangkak sedikit lebih tinggi. Sinarnya menembus tirai tipis dan menyinari ruangan, membuatnya nampak terang.
Dania bangun lebih dulu, melihat Zahra masih tertidur, ia berjalan mengendap-endap, keluar dari kamar. Takut, kalau gerakannya membangunkan Zahra. Mengingat semalam Zahra menangis sampai larut malam.
Jemari tangannya fokus menatap pesan Whatsapp, sembari menutup pintu. Melihat beberapa pesan yang belum sempat terbalas. Dari Intan, Mulan, dan juga, Abram. Sudut bibir Dania mendadak naik sedikit lebih tinggi.
Ia menaruh ponsel di atas meja usai membalas beberap pesan. Kemudian, membuka kantong kresek dan mengambil mie instan.
Mie kering baru saja di masukkan ke dalam air yang mendidih. Tiba-tiba saja, ia mendengar pintu di ketuk cukup kencang. Tak mau membuat ketukannya semakin kencang, dia buru-buru membukanya.
Dania melihat Dean berdiri di depan pintu dengan napas yang terengah-engah. “Dimana Zahra?” tanyanya tiba-tiba dan langsung masuk ke dalam.
“Masih tidur. Kenapa panik?”
“Kamu kenal yang namanya Vey?”
“Vey? Maksudnya tante Ve?”
“Itu lah pokoknya. Kenal ngak?”
“Dia tantenya Abram. Adik kandung dari pihak ayah. Kenapa sih?”
Dean terlihat cemas. Begitu cemasnya sampai-sampai mengacak-acak rambutnya sendiri. Tingkah laku aneh Dean justru membuat Dania bertanya-tanya dalam hati.
“Kamu gak bisa bangunin dia?” cetus Dean makin kacau.
__ADS_1
“Kamu gak tau semalam dia kayak gimana? Dia baru aja tidur. Kasihan loh.”
“Ta-tapi ini tuh ... aahh sial!”
“Kenapa sih? Ada apa? Kamu kesetanan gitu memangnya kenapa?”
Dean mengambil napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan cepat. Sesekali memandang wajah Dania yang makin penasaran.
“Gak tau mau ngomong dari mana. Kalau gak Zahra sendiri ... makin susah, Dan.”
“Ya udah intinya aja.”
Dean mendekat, membisikkan sesuatu ke telingga Dania. Seketika wajah Dania berubah pucat. Kedua tangannya mengepal, mencengkram bungkus mie yang masih di pegangnya.
“Sumpah ya! Kalau aku jadi Zahra, bakal ku ....”
Cklak!
“Eh, udah bangun.” Sahut Dania merubah ekspresi wajahnya dan kalimat dengan cepat.
“Ngomongin apa?”
Dania melirik melihat Dean. Cepat-cepat merubah topik pembicaraan mereka, agar Zahra tak makin kacau saat mendengar kabar yang baru saja di bawa Dean.
“Oh, ini ... Dean tanya mau makan apa?” Dania bicara sambil berjalan mematikan kompor.
“Kamu mau makan apa, Ra? Biar Dean beliin.” Lanjutnya.
__ADS_1
“Kalian aja, aku lagi ngak mood makan.” Zahra pun pergi ke kamar mandi begitu saja. Meninggalkan Dean dan Dania yang saling menatap memberi kode.
Begitu melihat Zahra masuk. Dania mendekat dan berbisik pada Dean. Menyuruhnya untuk tutup mulut tengang masalah ini.
“Tanya dulu mau dia apa.”
Sekali lagi, Dean hanya bisa menghela napas panjang. Pikirnya, wanita terlalu mendramatisir suatu masalah. Terutama masalah rumah tangga. Jelas-jelas, sikap terbuka dan to the poin lebih mudah dan cepat.
Namun, setelah di pahami cukup dalam. Dean baru menyadari satu hal. Tempramen Zahra tergolong cukup buruk dalam menghadapi masalah yang tiba-tiba. Dia tidak bisa mendapat serangan langsung seperti ini. Mungkin, lebih baik bagi mereka untuk merahasiakan yang terjadi.
Setelah cukup lama dia berada di kamar mandi. Akhirnya ia keluar, dengan rambut yang masih berantakan, juga mata yang sembab. Ia berjalan santai, lalu duduk bersama dua orang yang sedang menikmati sarapan.
“Aku pesenin satu. Barang kali nanti kamu lapar.” Ucap Dania.
Zahra hanya mengangguk, pandangannya lurus ke depan, memandangi layar televisi yang mati. Demi membuat Zahra tertawa, atau sedikit fokus, Dania mulai menanyakan hal-hal remeh. Seperti, guru kimia mereka yang terkenal killer tapi begitu care terhadap Zahra.
Namun, Zahra masih bisu. Hingga akhirnya, dia membuka mulut dan berbicara.
Sudah Like belum?
Sudah di jadikan Favorit belum?
Sudah Vote belum?
Buruan!!!
__ADS_1
Semuanya GRATIS tanpa dipunggut biaya!
Bilang sama admin kalau di punggut biaya!!