Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 61


__ADS_3

...***Dihadang di jalan***...


“Nak, rumah yang di Malang masih atas nama Mama. Besok biar notaris yang urus pindah tangan atas nama kamu, ya.”


“Ma, di rumah itu banyak kenangan. Bukan Zahra ngak mau. Zahra takut makin sakit hati.”


“Kalau gitu di jual saja. Uangnya, bisa kamu pakai beli yang baru. Jangan di tolak, mama sama Papa udah banyak buat salah sama kamu.”


Zahra mengangguk dengan patuh. Dia jadi teringat, satu janji yang pernah di ucap Abram. Lelaki itu pernah berjanji untuk memberikan dia rumah. Tempat tinggal yang besar untuk dia dan anak-anaknya kelak.


Sekarang, aku menerima pemberian orang tuamu. Aku bukan orang yang tamak kan, Mas?


Persoalan dengan keluarga Abram sudah clear. Nama baik Zahra bahkan sudah di pulihkan. Bahkab keadaan kini berbalik. Banyak yang menyalahkan Abram karena menjadi pria tamak dan serakah. Selain itu, Nindira juga terkena imbas akibat skandal pernikahan.


...*************...


Adegan kembali ke belakang sedikit. Tepat beberapa jam sebelum mereka berangkat.


“Nia, menurutmu, live streaming bisa di tonton berapa banyak orang?” tanya Zahra setelah selesai solat subuh.


“Sebanyak pengikutmu. Siapa pun bisa akses selagi berteman.”


“Good, kalau gitu, jangan lupa bawa power bank. Hari ini kamu jadi sutradaranya!” Zahra mengambil powerbank dan memasukkannya ke dalam tas.


"Mau ngapain, Ra?


"Manfaaitin followersmu dong, biar ngak jamuran!"


Flasback berakhir.


...****************...


Mereka langsung kembali pulang saat cuaca sudah sedikit reda. Sebelum mobil yang mereka naiki bertolak kembali ke Jakarta. Mereka memutuskan untuk mengisi perut lebih dulu. Mengingat, mereka sempat menolak suguhan dari keluarga Pak Syam.


“Ra, aku masih gak paham deh!” Bisik Dania kala sedang asik menikmati makanannya.


“Kenapa harus live streaming?" jawab Zahra.


Dania mengangguk dengan cepat. Raut wajah penasannya tak bisa lepas dari wajahnya.

__ADS_1


“Mas Abram selalu mentingin yang namanya image. Dia seorang kontraktor, banyak bertemu orang besar. Gimana kalau image-nya sebagai orang baik dan bertanggung jawab rusak? Selain itu, nama baikku hancur di depan publik, jadi ya harus sekalian dong.”


Dania menekan sendoknya di dalam mulut lalu menggeleng. Tak lupa, mengacungkan dua jempol ke arah Zahra. Balas dendam yang sempurna, begitu pikir Dania.


Gak perduli sebahagia apa kehidupan mereka berdua, nantinya. Kakau seluruh orang menghardik dan menyudutkan, mau lari ke lubang semut juga pasti tetap di buru. Terlebih, Nindira adalah seorang model dan Abram pun seorang kontraktor sukses.


“Mau balas dendam juga harus lihat kelemahan orang. Sebelum menyerang juga harus mempersiapkan banyak hal. Takutnya nanti jadi bumerang kan.”


Zahra melanjutkan makannya yang sempat tertunda akibat pertanyaan Dania.


Satu hal yang di luar prediksiku. Mama dan papa rupanya sanggup menggusir anaknya, bahkan tak mau mengakui. Mungkin, ini juga layak untuk dia. Selain image di publik rusak, dia juga tidak lagi mendapat dukungan dari keluarga Syam.


Yah, benar-benar layak.


Usai mengisi perut, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Zahra juga sudah memesan tiket untuk kembali ke Malang besok sore. Raut wajah bahagia terpancar di wajah mereka semua. Zahra bahkan langsung tertidur pulas begitu masuk ke dalam. Ada raut lega yang terukir, seakan seluruh bebannya di cabut hingga ke akar.


Sampai tiba-tiba, mobil mereka di hadang saat masuk ke jalan tol. Dua orang lelaki menggedor-gedor kaca mobil, dan salah satu diantara mereka adalah Abram.


Dean mencoba menenangkan mereka semua. Sedangkan Zahra yang baru saja terbangun, cukup kaget melihat Abram berdiri di depan mobil.


“Zahra ... keluar, Ra!” Teriak Abram dari luar sembari mengetuk kaca mobil.


“Ra ... jangan konyol!”


Ayah, Ibu juga Dania mencoba menghentikan Zahra. Namun, saat Zahra melihat Dean yang turun lebih dulu, seakan mampu bernegosiasi dan mengendalikan situasi. Ia pun memutuskan untuk keluar.


“Jangan buka kunci!” Ucap Zahra yang langsunh keluar.


Dania tak mampu menarik Zahra untuk tetap tinggal di dalam. Sehingga, ia buru-buru menyalakan ponsel dan melakukan live sekali lagi. Berharap Abram tak melakukan hal konyol. Pak Ahmed pun sangat ingin keluar, tapi di cegah oleh istrinya. Dia yakin, bahwa anak perempuannya mampu menyelesaikan baik-baik.


“Mau apa lagi, Mas?” tanya Zahra begitu keluar.


“Ra, masuk ke dalam!” Seru Dean saat melihat Zahra berhadapan dengan Abram.


Zahra hanya menoleh, dan mengangguk. Seakan memberi isyarat pada Dean, bahwa dia cukup mampu mengatasi Abram.


“Hebat kamu, Ra. Kamu udah bisa memanipulasi publik. Hebat!” Abram berkacak pingang, berbicara dengan suara lantang bak seorang pereman.


“Iya, hebat. Aku cukup tersanjung atas pujiannya, Mas.” Zahra melipat kedua tangannya. Menatap Abram dengan tatapan penuh benci.

__ADS_1


“Setelah mempermalukan aku, yang masih suamimu ini, kamu masih belum puas? Sampai-sampai harus menggadu sama mama?”


“Suami? Di bagian mana kamu menyebut dirimu sebagai seorang suami? Mana ada suami yang memaksa istrinya untuk terus menyumbangkan darahnya meski tahurannya nyawa? Mana ada suami yang rela, istri tercintanya tunduk di hadapan istri lain yang tidak di cintainya? Mana ada?”


“Oke, oke, enough! Terserah kalau kamu anggap aku suami yang gak adil,”


“Lah, memang kamu gak adil kok!” Zahra melenggos, seakan muak melihat Abram.


“Sekarang, aku tanya sama kamu! Kamu maunya gimana? Cerai? Fine kita cerai! Mau apa lagi rumah? Mobil? Gak masalah! Asal kamu pulihkan nama baik aku!”


Zahra sontak tetawa terbahak bahak mendengar itu. Benar saja, nama baik dan image selalu jadi hal utama bagi Abram. Tak heran, Zahra memilih menyerang langsung bagian yang terpenting milik Abram.


“Gak perlu! Aku gak butuh rumah, mobil atau bahkan tiket ke Cappadocia! Lihat kamu, sehancur aku kemarin, it’s my dream!” Zahra menunjuk wajah Abram yang makin kecut.


Ia lantas berbalik, membuka pintu mobil dengan perasaan bangga dan lega.


“Mas, Dean! Ayo jalan!”


Dean yang sejak tadi dihadang oleh satu rekan Abram, kini mulai bertindak. Ia mendorong laki-laki itu dengan kuat hingga terjatuh, lalu masuk ke dalam mobil.



It's My Dream!!!


Efek nonton layangan sobek semalem nih.


Makasih buat yang udah doain Othor.


Moon maap juga kalau banyak komen yang belum di balas.


Intinya ....


Gak perlu Cappadocia.


Vote, Like, dan Hadiah dari kalian, it's My Dream!!!!!!!!


Dah ah, nanti siang lanjut lagi.


Terima Kasih.

__ADS_1


Sarrangeo ♡♡♡♡♡♡♡♡


__ADS_2