Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 76


__ADS_3

...***Dean, Bimbang***...


Mentari perlahan merayap ke sisi barat. Sinarnya yang terang dan gagah, berubah menjadi senja yang indah. Beberapa orang berlalu lalang, kembali ke rumah, setelah selesai bekerja. Namun, ke tiga orang itu masih berjalan-jalan menghabiskan waktu di mall.


Zahra terlihat mengobrol dengan seorang lelaki paruh baya, tepat di depan stand toko yang sedang tutup. Dean hanya memperhatikan dari jauh, sembari menyuapi Zizan ice cream.


Rupanya, pembicaraan mereka berakhir singkat, hanya sekitar 20 menit.


“Siapa itu?” tanya Dean saat Zahra kembali.


“Pak Rudi, dia pengelola di sini. Aku dulu sempat cari stand kosong, dan kebetulan baru ada sekarang.”


“Jadi, tujuanmu ajak kita kesini buat ini?”


Zahra terkekeh pelan. Ia kemudian menggendong Anak berusia empat tahun yang ada di depannya. Lalu, berlari kecil ke arah sebuah resto.


“Ayo, aku lapar!” Ajak Zahra.


Dean menatap punggung Zahra, yang berjalan santai sembari menggendong Zizan. Tiba-tiba, satu sudut bibirnya terangkat. Mulan yang berjalan di sampingnya, sembari menggendong Zea, langsung menggodanya.


“Kenapa? Dia udah pantes kan jadi ibu?” Cletuk Mulan menyikut tangan Dean.


“Iya. Cocok. Kenapa dia belum punya anak? Dia menolak tua?”


Pertanyaan Dean tiba-tiba membuat Mulan teringat satu hal yang cukup serius. Ia kemudian menghela napas panjang, lalu mengajukan pertanyaan pada Dean dengan nada serius.


“Kamu, beneran mau serius sama dia?”


“Kamu liat aku becanda, Mbak? Perjuanganku udah sampai sini loh.” Dean terdengar agak kesal.


“Ya aku tahu. Tapi bukan itu yang aku maksud. Yang aku tanya, kamu siap, kamu beneran mau, menerima segala kekurangan dia?” Mulan menghentikan langkahnya dan menatap Dean.

__ADS_1


Lelaki itu pun menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap saudara sepupunya.


“Dean, pernikahan bukan tentang kamu suka lalu nikah. Kamu cinta lalu mau hidup semati. Pernikahan gak se-klasik itu.”


Dean terdiam sejenak, lalu menggaruk kening yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Perkataan Mulan seperti tumpukan buku tebal yang berisi pasal-pasal. Yang tiba-tiba di jatuhkan ke atas kepalanya.


“Kalian ngapain? Ayo!”


Panggilan Zahra membuat Mulan melanjutkan langkahnya. Sedangkan Dean, ia perlu beberapa menit sampai kakinya bergerak mengikuti mereka.


Sejak makan malam, lalu pergi mengantar Mulan pulang ke rumah, bahkan mengantar Zahra. Dean terlihat tak fokus. Ia bahkan beberapa kali mengabaikan ucapan Zahra.


Rupanya, dia benar-benar memikirkan perkataan Mulan. Banyak hal yang sepertinya ia pertimbangkan untuk menjalin hubungan dengan Zahra.


“Zahra ....” panggilan Dean langsung membuat Zahra menoleh.


“Menurutmu, pernikahan itu seperti apa?”


“Aku ngak tau. Tapi Ibu bilang, menikah itu obatnya orang yang jatuh cinta.”


“Lalu, kamu pernah membayangkan pernikahan yang seperti apa?”


Zahra tertunduk sesaat. Memikirkan angan-angan kecil yang dulu pernah ia bayangkan saat bersama Abram.


“Tidak ada!” Jawabnya tegas.


“Pikirku dulu, punya suami setia sudah cukup. Nyatanya, setia aja gak cukup kalau gak bertanggung jawab. Jadi, aku gak pernah membayangkan. Karena setiap pernikahaan, gak ada yang semulus pantaat bayi.”


Dean mengangguk pelan. Perkataan Zahra seakan memberinya secercah cahaya tentang pernikahan. Dan membuatnya mengerti, makna di balik kata 'obat dari cinta'. Ia pun menunjukkan senyum manisnya itu, dan segera membantu Zahra membuka pintu.


"Kenapa sama kamu hari ini? Moodmu lagi gak bagus?"

__ADS_1


"Engak, tiba-tiba aku kepikiran sesuatu."


"Mikir apa?"


"Memikirkan untuk segera melamar anak orang. Tapi ... gimana lagi ya? Dia belum resmi cerai sih." Dean memberikan lirikan genit.


Seketika, tangan kecil dengan jemari lentik, mendarat di punggung gagahnya. Terdengar cukup keras, bahkan Dean pun sempat meringgis kesakitan.


"Hobi ya, gangguin orang, hah?" Zahra masih terus memukuli Dean tanpa ampun.


Beruntung, saat itu Dania baru saja kembali dengan sepeda motor andalannya. Lampu yang menyorot ke arah Zahra, seketika membuat tangannya berhenti memukul Dean.


"Habis dari mana?" tanya Zahra.


"Nyari makan. Abis gimana lagi, nasip jombloh, gak ada yang perhatian, nawarin makan aja kagak ada. Tuh ... yang kencan terus, juga gak inget sama temennya." Ledek Dania melirik dua orang yang berdiri di samping motor.


Zahra mendesis, lalu menutup kaca helm yang di pakai Dania. Dia pergi begitu saja, sembari menenteng paper bag dan beberapa kantong belanjaan.


"Tuh ... lihat tuh ... kekasihmu tuh ...!" Dania menunjuk Zahra.


"Bukan kekasih!" Dean pun turut meninggalkan Dania dan masuk ke dalam mobil. Namun, tiba-tiba ia membuka kaca jendela, dan meneruskan kalimatnya.


"Dia ... calon istriku!"



Nah kan ...


Bang Dean suka gitu deh emang.


Besok kalau nikah, jangan lupa minta kembang se kebon yaak. kopinya satu galon 🤣

__ADS_1


__ADS_2