
...****Di cerca pertanyaan***...
Sudah tiga hari Zahra berada di rumah orang tuanya. Menikmati masa-masa tenang dan damai. Sekarang, sudah waktunya kembali ke kota untuk bertempur.
“Yakin, Nduk? Ngak mau ibu temenin aja?” tanya Bu Ahmed memandang Zahra yang sedang berkemas.
“Zahra bisa kok, Bu. Lagian ada Dania, Mulan sama Intan yang nanti bantuin.”
Anaknya sudah berkata seperti itu, Bu Ahmed pun hanya bisa menghela napas panjang. Berharap sang anak bisa segera menyelesaikan masalahnya tanpa ada halangan.
Zahra baru saja memasukkan koper, juga beberapa paper bag ke dalam mobil. Tiba-tiba saja, Pak Ahmed berdiri di ambang pintu, dan langsung memanggilnya.
Ia meminta Zahra duduk di kursi. Tepat di hadapannya ada secangkir teh, juga beberapa ubi rebus yang masih mengeluarkan asap.
“Duduk dulu.” Pak Ahmed menyeruput tehnya sedikit, lalu memandangi wajah sang anak.
“Dengerin ayah. Rumah tangga bukan hal yang main-main, Ra. Bukan sesuatu yang bisa lepas, lalu cari lagi yang baru. Ngak boleh sebercanda itu.”
Zahra memandang sang ayah, seolah mengerti alur pembicaraan darinya.
“Ayah ngak mau sampai kamu gagal untuk kesekian kalinya lagi.” Lanjut Pak Ahmed.
Zahra tertunduk untuk sesaat. Perkataan sang ayah memang benar adanya. Jangan karena napzu, atau cinta sesaat, malah membuat pernikahan sebagai permainan.
“Zahra tahu kekhawatiran Ayah. Zahra juga sudah mempertimbangkan itu semua kok. Ayah gak perlu cemas.” Jelas Zahra menatap sang ayah dengan pandanga penuh percaya diri.
“Dia anaknya baik kok!” Sayu-sayup suara ibu terdengar dari belakang.
“Baik juga gak bisa jamin setia, Buk. Gak inget, yang kemarin juga baik sama kita pada awalnya.” Sahut Pak Ahmed.
Tiba-tiba, Bu Ahmed datang membuka tirai pemisah antara ruang keluarga dan dapur. Ia berjalan, kemudian mendorong sedikit pundak suaminya dari belakang.
__ADS_1
“Heh! Kok jadi bahas kemaren!” Seru Bu Aed dengan wajah jutek.
Zahra sontak berdiri, melihat ke dua orang paruh baya itu saling beradu argumen. “Sudah dong, Yah, Bu.” Teriaknya sedikit kencang.
“Zahra cuma mau ngalir dulu. Untuk nikah lagi, itu masih jauh. Zahra juga yakin kalau dia pasti setia.”
Mendengar itu, mereka akhirnya berhenti berdebat. Zahra pergi tak lama setelah berbicara. Mengendarai mobilnya dan pergi ke kos Dania.
“Kenapa Lo gak pergi ke rumah aja sih, Ra? Kos Gue sempit tahu!” Dania mencoba protes saat membantu Zahra menaikkan barang bawaannya ke lantai atas.
“Kamu di ajak tinggal di sana juga ngak mau.”
“Engak lah, gila aja! Gue juga gak tega-tega banget sampe mau nemenin Lo mengingat masa lalu!”
“Wah, seminggu di jakarta, bahasnya udah Lo - Gue nih?” Ejek Zahra saat berhenti di depan pintu.
Dania sontak menutup mulutnya dengan satu tangan. “Ups, kelepasan!” Serunya dengan tatapan tanpa bersalah. Padahal dulu ia merasa anti kalau ada yang berbicara dengan aksen Jakarta seperti itu.
“Yah gimana lagi dong. Followers gue ... eh, aku, kebanyakan kan orang sana. So ... ya gitu deh.”
Tak beberapa lama setelah Zahra merebahkan diri di kasur. Mulan dan Intan datang bersamaan. Bukan kabar, atau pelukan hangan yang di dapatkan Zahra. Melainkan berbagi todongan pertanyaan.
“Ra, jawab dengan jujur! Kamu ngapain sama Dean? Tanya Mulan.
“Kok bisa sih kamu donorin darahmu ini ke dia? Kenapa gitu loh? Kenapa mau?" Intan menimpali.
“Kenapa juga waktu itu kamu bilang gak mau cerai? Jelas-jelas waktu itu kamu sendiri yang ngotot!”
“Sejak kapan sih, Ra. Kamu plin-plan gitu?”
Di cerca banya pertanyaan dari Intan dan Mulan, Zahra serasa tersudut. Ia pun mundur sedikit demi sedikit setiap kali pertanyaan itu mereka ajukan.
__ADS_1
Aku bukan tersangka kan?
Sejak kapan mereka jadi detektif?
"Oke, oke aku jawab. Tapi, bisa gak kalian mundur dikit aja! aku merasa sesak!" Zahra protes, menatap ke dua sahabatnya menyudutkan tubuhnya di tembok.
"Oh, oke. Buruan cerita."
Zahra menghela napas panjang. Merasakan sejuknya Ac yang menghadap padanya.
"Oke, Frist. Aku gak ngapa-ngapain sama Dean. Come on, Lan. Dia pengacaraku."
"Ke dua. Emak sama Bapaknya emang salah, tapi anak gak harus jadi korban kan? Aku cuma ngerasa takut aja, kalau nanti di hantuin janin. Hih, serem." Zahra menggoyangkan pundaknya.
"Kenapa aku dulu gak mau cerai?" Zahra terlihat berpikir sejenak. "Gini, ibarat kita mau motong kambing, paling engak harus bikin kambing makan dengan kenyang kan? Sampai-sampai dia gak tau kalau mau di gorok besok pagi. Tapi ... ya gitu deh, rencananya berubah."
"Tau kan, hidup itu gak selalu mulus sesuai dengan alur? Cerita Novel aja juga gitu kok. Kadang melenceng dari jalur." Lanjut Zahra sembari melipat tangannya.
Mulan dan Intan sontak bertepuk tangan bersamaan usai mendengar pembelaan dari Zahra.
"Lepas dari itu, aku mau tanya inti dari inti." Mulan kembali menatap Zahra.
"Kamu yakin, gak ada hubungan apa-apa sama Dean? Yakin, Ra?" Lanjutnya.
Zahra berkedip beberapa kali saat memandang Mulan. Wanita itu tahu dengan baik. Zahra akan bersikap demikian saat dirinya gugup atau mencoba berbohong. Mulan pun melipat tangan, lalu melirik dengan tajam.
"Karena dia bilang sama Tante (Mama Dean), Dia bilang mau nikah sama janda muda!"
"A-APA!!!"
__ADS_1
Pesona bang Dean keknya ampuh banget sama emak-emak yee 🤣🤣
Vote jangan sampe lupa, Like apa lagi. Hadiahnya juga ♡♡♡♡