Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 17


__ADS_3

...Zahra Pov...


Sedikit begetar, sedikit dingin dan cukup berkeringat. Ke dua tanganku, jadi sulit di kendalikan. Satu persatu, angka yang sudah lebih dari enam tahun lamanya. Tertuang begitu saja dari otakku, 86-87-88. Saat semua sudah lengkap, aku hanya berharap menghubungi nomer yang salah. Berharap ingatanku benar-benar salah.


Namun yang terjadi ....


“Hallo.”


Satu kata yang keluar terdengar cukup familiar. Lidahku mendadak kelu, tak cukup mampu merespon balik. Suara yang sudah lama, ya, cukup lama menghilang dari pendengaranku. Suara tak asing ini ... dulu pernah mengguncang hatiku. Tidak salah lagi, ini benar dia.


Dean, lelaki yang terpaut tiga tahun dariku. Kakak kelas saat masa SMA, juga mantan kekasihku dulu.


“Dean ... ini aku, Zahra.”


Suara berat dan sedikit serak, kembali menyapaku. Seperti angin semilir yang menggoyangkan dahan, menggugurkan beberapa daun yang mengguning. Pelan, tetapi cukup sejuk.


“Emm, aku mengingat suaramu, Mee.”


Habis sudah pertahananku, luruh sudah asaku. Mendengar dia memanggil nama panggilan kesukaanku ... aku tak berdaya. Aku benar-benar tak berdaya.


“Kamu bisa panggil aku, Zahra.”


“Kenapa? Bukannya kamu suka di panggil Mee?”


“Dean, please! Jangan membuatku mengingat sesuatu yang gak perlu.”


“Oke, Ra. I’m Sorry.”


Cangung sekali. Sebenernya, bagian mana yang buat cangung? Aku bahkan gak bisa berkata dengan normal sekarang.


“Ra ... Zahra? Do you hear me?”


“Sory ... Sory. Aku baru balas pesan suamiku dan hilang fokus sesaat.”


“Oke, kamu bisa cerita masalahmu sekarang!”


Cerita?


Bukankah dia sudah mendengar cerita dari Intan tadi siang?


“Kamu sudah mendengarnya tadi. Dean, aku gak mau menggulang lagi, ya!” Dengusku sedikit kesal.


“Fine, fine. Angap aku udah paham. So ....”

__ADS_1


“Kamu mau gimana?”


“Gimana? Jelas cari tau dong. Dia beneran punya yang lain atau engak.” Sunggutku sedikit jengkel.


“Lalu, gimana kalau dia beneran punya? Kamu mau apa? Bertahan? Atau malah cerai?”


Rasanya mau marah waktu dia berkata ‘cerai’. Apa dipikir cerai itu gampang?


Ngomong talak setelah itu sidang di pengadilan Agama, dan urusan suami istri selesai begitu saja?


Gampang banget dia ngomongnya?


Tapi ...


Perkataan seperti ini cukup wajar di lontarkan. Mumpung ... mumpung belum terjadi, alangkah baiknya membuat keputusan sejak dini.


Hanya saja ...


“Aku belum tahu. Entah lanjut atau cerai. Aku belum menemukan alasan yang pas.”


“Kamu butuh alasan apa lagi? Kalau ... kalau nih ya, dia beneran mendua, membagi cintamu sama yang lain. Kalau cuma pacaran, mungkin bisa putus. Gimana kalau udah nikah?”


Degh!


“Inget, lelaki bisa menikahi lebih dari satu wajita tanpa persetujuan istri yang lain. Dalam islam ngak ada hukum suami wajib izin saat poligami, begitu juga hukum negara.”


Perkataan dia memang benar. Tidak ada hukum yang mewajibkan suami meminta izin. Baik dalam agama, mau pun hukum negara. Mendengar ini, membuat hatiku makin teriris sembilu. Membayangkan banyak hal yang tidak-tidak.


“Cukup, Dean! Cukup!” Pekikku tak lagi mau mendengar.


“Aku cuma ngasih kamu gambaran. Banyak hal yang mungkin bisa terjadi dalam rumah tangga, termasuk hal ini. Kalau ngak siap, kamu bisa mundur. Sebelum terlambat!”


Dia mengakhiri panggilan begitu saja. Menyisakan diriku yang tak lagi mampu membendung segala rasa perih.


Semua ucapannya benar. Banyak hal yang bisa terjadi dalam rumah tangga, termasuk hal ini.


Poligami termasuk polemik rumah tangga yang tidak bisa di hindarkan. Siapa pun lelakinya, entah yang sebatas paham agama, atau justru dia yang benar-benar sholeh. Siapa pun bisa.


Pada akhirnya, mereka memaksa pihak perempuan mau untuk menjadi madu. Meski hanya beberapa persen yang benar-benar rela. Dan terlepas dari itu semua, kaum wanita yang selalu menjadi imbas.


Berbagi suami?


Apa aku bisa? Apa aku mampu?

__ADS_1


Banyak hal yang jadi bahan renunganku malam ini. Tentang semua hal yang sudah terjadi, juga tentang hal yang mungkin nanti akan terjadi. Sepertinya, jalanku tidak akan mudah. Seperti saat aku berpisah dari Dean.


...Pesan dari Dean masuk ...........


...📩📩📩📩📩📩📩📩...


...Ingat saat kita berpisah dulu? ...


...Aku pernah bilang padamu sesuatu....


...'Saat kau dikhianati dunia, ...


...jangan mencariku dengan luka'...


...Sekarang, aku ingin menarik ucapanku saat itu. Cari aku saat kau terluka. ...


...Memang, aku gak jamin bisa mengobati lukamu....


...Tapi aku bisa pastikan,...


... lukamu tidak akan tambah parah!...



Dean Alfian


Cancer, 26 Tahun


Lulus dengan nilai sempurna di Univ Brawijaya Malang, bergelar sarjana Hukum (2017)


Seorang Advokat


Kantor hukum berlokasi di BSD, Tangerang Selatan


...☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘...


Sudah Like belum?


Sudah di jadikan Favorit belum?


Sudah Vote belum?


Semuanya GRATIS tanpa dipunggut biaya!

__ADS_1


Bilang sama admin kalau di punggut biaya!!


Jadi .... jangan sampai lupa!!!!!


__ADS_2