Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 90


__ADS_3

...****Zahra Demam, Dean Panik****...


Genap sudah 7 hari berlalu. Kini waktunya Dean menagih jawaban. Dia sudah bersiap sejak pagi, tapi nomer Zahra tak kunjung dapat di hubungi. Sampai pada akhirnya, lelaki itu memilih untuk pergi ke ruko.


Di lajukannya mobil sedan hitam kesayangannya itu, pergi menyusuri jalanan kota Malang. Di tengah hilir mudik para anak-anak remaja dengan segaram coklat mereka. Hal itu tiba-tiba mengingatkannya, akan masa-masa indah ketika mereka duduk di bangku SMA.


Saat pertama kali dia bertemu dengan Zahra. Di bawa sinar matahari yang baru naik seper empat. Zahra saat itu berdiri di lapangan, dengan selembar kertas HVS bertuliskan kata ‘maaf’ sebagai bentuk hukuman karena terlambat.


Zahra mengibaskan rambut panjangnya, dengan santai mengunyah permen karet. Seperti tidak punya beban sama sekali. Bahkan di tengah hukuman seperti itu, dia masih bisa tersenyum dan menggoda Dania.


Dean jatuh cinta, pada pandangan pertama dengan sikap Zahra yang apa adanya.


Bayang kenangan itu tiba-tiba lenyap, saat mobil yang ia kendarai sampai di deretan ruko. Hela napasnya sempat terdengar, sebelum akhirnya turun dari mobil dan mengetuk pintu.


Perlu empat kali panggilan, sampai pintu yang berada di lantai bawah itu terbuka sedikit. Zahra mengeluarkan kepalanya, melihat tamu yang datang.


“HP mu mana?” Tanya Dean tanpa basa basi.


Zahra pun menghela napas panjang, lalu menunduk beberapa saat. Dean merasa ada yang aneh dengan Zahra, karena tidak biasanya wanita itu bersikap demikian. Dengan hati-hati, Dean mengangsurkan tangannya, mengangkat kepala Zahra agar dapat memandang wajahnya dengan jelas.


Betapa paniknya ia, saat melihat wajah Zahra begitu pucat. Segeralah ia menerobos masuk, memandangi wanita itu tengah berbalut selimut tipis. Tak basa basi, ia mencoba mengecek suhu tubuhnya. Memeriksa kening, pipi, dan leher.

__ADS_1


“Kamu demam, Mee!” Serunya usai merasakan tangannya terasa panas. “Ayo, duduk sini dulu!” Cepat-cepat ia memapah tubuh Zahra dan membantunya duduk.


“Kenapa gak bilang sih? Mana kotak obatmu?”


Zahra menggeleng pelan. Bibirnya terlalu lemah untuk terbuka, hingga ia hanya bisa menggeleng dan memberi isyarat. Dean pun makin panik, ia segera naik ke atas, membuatkan secangkir teh hangat untuk Zahra.


“Minum dulu!”


Dengan penuh perhatian, Dean membantu Zahra yang sempat rebahan, duduk kembali. Bahkan lelaki itu dengan telaten memegangi cangkir teh agar Zahra lebih nyaman saat minum.


“Sudah makan?” Tanya Dean yang hanya di jawab gelengan kepala lagi.


Lelaki itu pun hanya bisa menyimpan segala kekesalannya, dengan menghela napas panjang. Jalan satu-satunya yang dia bisa lakukan hanya keluar untuk membeli obat dan sarapan. Namun, pikirannya buntu saat menatap Zahra yang berbaring dengan lemah tanpa penjagaan.


“Ngak mau!” Zahra mencoba mengumpulkan tenaga untuk mengelak.


Dean sudah habis akal. Pada akhirnya, ia memilih menghubungi Dania dan Intan untuk segera datang.


“Dania lagi kerja, Intan bentar lagi ke sini. Aku keluar beli obat sama sarapan dulu.”


“Iya.” Jawab Zahra lirih.

__ADS_1


“Mana ponselmu?” Tanya Dean lagi, untuk memastikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada Zahra saat ia keluar.


“Di kamar. Buat apa?”


Dean segera naik ke atas. Masuk ke kamar Zahra dan mengambil ponsel yang ada di atas meja. Terlihat indikator batrai di ponsel sudah merah, bahkan hanya tersisa 10 persen. Akhinya, jalan satu-satunya yang dia pilih hanya bertukar ponsel dengan Zahra.


Ia menghubungi nomer Zahra dengan ponselnya, lalu meletakkan ponsel di samping Zahra. Memastikan agar mereka tetap terhubung sampai Intan datang.


“Jangan di matiin. Kalau Intan dateng, juga jangan di matiin.” Perintah itu terdengar sangat jelas di telinga Zahra. Karena cukup lemah, ia hanya mengangguk, dan membiarkan Dean pergi.


Beruntung, di dalam mobil ada cas, dan ponsel mereka masih satu merek. Sehingga ponsel Zahra yang di bawa Dean, dapat di isi daya, dan mereka tetap bisa terhubung.


Dean pergi hampir setengah jam. Selama itu pula Zahra hanya berbaring di sofa dengan lemah. Sampai, ia mendengar ketukan pintu dari luar. Dengan usaha yang kuat ia bangkit dan membuka pintu.


Ketukan yang Zahra pikir itu dari Dean atau Intan, ternyata salah besar. Zahra bahkan cukup terkejut dengan kedatangan tamu yang tak di undangnya itu.



Hemmm siapa kah gerangan??


Eing ing engggg

__ADS_1


Vote jangan lupa.


Othor mo munggut sajen dulu. Persiapam mo semedi lagi 😎😎


__ADS_2