
...***Permintaan Maaf Abram***...
“Sepertinya, di antara kita tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Mas.” Zahra membuang muka. Menatap Dean yang berdiri di sisi lain.
“Sebentar saja, Ra. Please ....” Abram memohon.
Tatap mata Zahra masih fokus menatap Dean. Lalu, mengambil napas panjang dan menghembuskannya.
“Oke, hanya 5 menit.” Jawab Zahra singkat.
“Itu udah cukup.”
Mereka berjalan beberapa langkah ke sebelah sudut, dan duduk di salah satu kursi. Dean yang sedikit cemas, terus menatap mereka dari kejauhan.
“Mau ngomong apa?” tanya Zahra yang masih enggan menatap Abram.
“Zahra ... Mas minta maaf, untuk semua perbuatan buruk Mas selama ini. Maaf, atas segala sikap kasar yang pernah Mas lakuin.” Abram tertunduk, mencengkram kain celananya erat-erat.
Permintaan maaf Abram jelas membuat Zahra terkejut. Seorang lelaki angkuh nan sombong, yang selama ini selalu menganggap dirinya benar, yang selalu engan meminta maaf. Pada akhirnya, dia memelas sembari mengatakan maaf.
Bukan hanya itu. Abram tiba-tiba bersujud di kaki Zahra. Ia terus mengucapkan kalimat ‘maaf’ dengan sesekali terisak. Air matanya pun, tak sungkan untuk jatuh di pipi. Setiap katanya terdengar tulus penuh sesal.
Zahra masih duduk mematung, menatap Dean yang berdiri mengawasi mereka.
__ADS_1
“Maaf, aku gak pernah jadi suami yang layak untukmu. Maaf, aku gak bisa jadi lelaki yang tegas. Maaf, Ra.”
“Mas, maaf mu gak bisa merubah keadaan.”
“Iya, iya. Mas tau. Setidaknya, mas dapat maaf dari mu, itu udah cukup.”
“Apa yang kamu mau sekarang, Mas? Darahku, ginjalku, atau jantungku? Atau kamu ingin aku membersihkan nama kalian berdua?”
Abram menggeleng dengan cepat, “Engak, engak, bukan itu!” Katanya sambil menatap Zahra.
“Mas cuma mau maaf dari kamu. Mas sadar, selama ini egois, selama ini ngak ngerti sama perasaan kamu. Maaf minta maaf.” Abram kembali menunduk.
Zahra menghela napas kasar. Hatinya masih cukup berat untuk menerima kata maaf dari Abram. Setelah semua rasa sakit dan penghinaan yang dia dapatkan.
“Ada banyak rasa sakit yang kamu timbulkan. Aku gak bisa langsung mencabut semua duri-duri itu.” Zahra berdiri begitu saja.
“Mas, kita sudah berakhir. Semoga kamu bahagia dengan istri pertamamu.” Lanjutnya kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Abram yang masih bersimpuh di lantai.
Zahra keluar, dengan air mata kebahagiaan yang jatuh menetes. Dengan menggandeng Dania dan di ikuti oleh Dean, ia berjalan seakan semua beban di pundaknya rontok tak tersisa.
Langit di luar masih pekat, bahkan awan tak henti-tentinya memeras diri untuk menjatuhkan rintik-rintik air ke tanah. Sesekali, kilat tanpa gemuruh terlihat menyambar di langit.
Zahra mengeluarkan ponselnya sesaat setelah masuk ke dalam mobil. Cepat-cepat ia menghubungi orang tua dan mantan mertua yang sejak tadi menunggu kabar.
__ADS_1
“Iya, Bu. Allhamdulillah sudah selesai.” Kata Zahra lirih saat menghubungi Ibunya.
“Sudah, Ma. Sudah resmi.” Lanjutnya saat menghubungi mantan mertuanya.
“Inget, Zahra masih anak mama. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin mama, ya Nak?”
“Iya. Ma, Mas Abram barusan minta maaf.”
“Kamu maafin dia, Nak?” Tanyanya terdengar penasaran.
“Maaf, Ma. Zahra masih butuh waktu, karna ngak mudah mencabut semua duri-duri itu.”
Wanita itu masih sama baiknya seperti dulu. Walau persidangan sudah memutuskan hubungan antara anaknya dan Zahra. Namun ia masih tetap perhatian, dapat terlihat jelas responnya saat Zahra belum bisa memaafkan anaknya. Dengan mudah ia mendukung mantan menantunya itu.
...☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘...
Kirain dia mau minta Jantung ke Zahra 😅
Dah wes mas, iku karma mu.
Makane ojo maruk!
Iki aku makili readers looh ya 🤭
__ADS_1