
...****Talak!****...
Abram sedang berdiri di depan washtafel. Tangan kirinya terlihat memegang alat cukur. Dengan hati-hati, ia menggoles cream, lalu mulai mencukur bulu tipis yang tumbuh di dagu. Tiba-tiba, Nindira datang dan memeluknya dari belakang. Kedatangannya yang mendadak, membuat Abram hilang fokus, hingga akhirnya ....
Cress
“Ahh!”
Abram menepis tangan Nindira, lalu mendekatkan diri di kaca. Melihat goresan sepanjang 3 centi di dagu, yang langsung mengeluarkan darah segar.
“Matamu kemana? Bisa lihat gak sih?” Pekik Abram menatap Nindira dari cermin.
“A-aku ambilin plester.” Nindira segera pergi. Meninggalkan Abram yang melempar alat cukurnya hingga terjatuh di lantai. Lalu, ia pergi mengganti pakaiannya.
Tepat saat selesai berganti pakaian, Nindira datang dengan kotak obat. Melihat suaminya rapih, sontak ia bertanya.
“Sa-sayang, mau kemana?”
“Pergi, kerja!” Jawab Abram acuh tak acuh.
Mendengar itu, raut wajah Nindira berubah merah padam. Dengan cepat ia meraih tangan Abram. Jelas-jelas lelaki itu kemarin bilang, akan berada di rumah sampai acara 40 hari papanya.
“Kenapa? Kamu udah janji loh, Sayang.”
Abram menepis tangan Nindira. Lalu menghela napas panjang sembari membetulkan lengan kemejanya. Seakan tak perduli dengn istri satu-satunya yang sedang hamil 5 bulan. Setelah bajunya terlihat rapih, ia berbalik, dan membusungkan dadanya.
__ADS_1
“Nindira, aku menalakmu!”
Bak petir di pagi hari yang cerah. Menyambar dengan kuat hingga membangunkan banyak orang. Namun, petir kali ini fokus menyambar wanita itu. Sambarannya terlalu kuat, hingga seluruh sendirinya mendadak lemas. Ia pun mundur beberapa langkah ke belakang, lalu jatuh terduduk di atas ranjang.
“Setelah melahirkan, aku akan mengurus surat cerainya.” Perkataan Abram cukup lirih, tapi terdengar dengan jelas di telinga Nindira.
“Sayang ... kamu bercanda, iya kan?"
Pandangan wanita itu lurus ke depan, membaur dengan udara di sekitar, hingga membuat matanya basah.
“Papa baru aja pergi. Jangan main-main, ngak lucu.” Ia menengadah, menatap dada bidang sang suami yang berdiri tak jauh darinya.
“Kesepakatan kita berakhir ketika papamu pergi. Kamu yang menyetujui itu, Nindira.”
Lelaki yang ia pikir sudah di dapatkan secara penuh. Tanpa angin, tanpa hujan, tiba-tiba menjatuhkan kata ‘talak’ dengan entengnya. Pernikahan yang ia pikir akan bahagia, ketika dia sedang mengandung seorang anak.
Pada akhirnya, itu semua hanya angan semu tanpa dasar. Memutuskan segala asa yang selama ini ia pegang dengan kuat. Semua usahanya, nyatanya sia-sia.
Dengan bibir yang bergetar, ia menghentikan langkah Abram yang perlahan pergi. “Kasih tau aku satu hal,” ucapnya masih duduk di tepi ranjang, menatap punggung lelaki yang berhenti di ambang pintu.
“Selama ini, apa kamu tidak pernah mencintaiku?”
“Engak, sama sekali!” Setiap perkataan Abram, seakan di pertegas kata demi kata. Yang tiba-tiba berubah menjadi anak panah. Di lepaskan dari jarak dekat, hingga menancap kuat di jantung Nindira.
“Bagian mana?” Teriak Nindira sambil berdiri dan perlahan melangkah.
__ADS_1
“Bagian mana dari diriku yang gak layak buatmu? Bagian mana dariku yang kurang, hah!” Beberapa kali ia melayangkan tinjuan di lengan Abram. Namun lelaki itu diam bergeming di tempatnya.
Darah segar perlahan mengalir dari kedua paha putih mulus Nindira. Nyeri yang menghujam, membuat wanita itu memegangi perutnya sembari merintih.
“AAHH!”
Nindira mencengkram kuat ujung baju Abram. Berharap lelaki itu merespon rintihannya, dan membawanya ke rumah sakit, sama seperti dulu. Namun, hal yang di luar dugaannya terjadi. Abram mengabaikan Nindira, ia bahkan melepas cengkraman tangan wanita itu dan pergi begitu saja. Tanpa menoleh, atau berkata apa pun. Meninggalkan Nindira dengan rintihannya.
“Mas! Mas!” Teriaknya berusaha membuat Abram berpaling. Namun, ia hanya melihat punggung sang suami yang perlahan menghilang.
"Mas Abram! AARGH!"
Teriakannya yang melengkinh, membuat orang yang ada di rumah berlarian datang menghampiri. Terlihat Om Pras yang saat itu menginap di rumah, datang lebih dulu. Di susul sang ibu dan Tante Ve.
"Bawa ke rumah sakit! Cepetan, Pras!" Teriak ibunya yang tak kuasa melihat darah di antara paha sang putri.
...☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘...
Vote jangan sampe ketinggalan!!
Kopi dan kembang apa lagi.
Bab selanjutnya bakal tegang lagi, jadi jangan sampe ketinggalan.
Dah, othor mau nyari wangsit lagi 😎
__ADS_1